|
Silahkan Baca
Laporan Utama, Ujian Nasional

Menakar Ke(tidak)jujuran Dengan UN Model Baru

Oleh: Agus Prasmono 

gopras1Tanggal 15-18 April 2013 Ujian Nasional (UN) SMA digelar. Seminggu berikutnya yaitu tanggal 22-25 April UN SMP juga dilaksanakan, sedangkan untuk SD baru awal Mei tepatnya tanggal 6-8 Mei 2013 dilaksanakan. Ada yang membedakan UN tahun ini dengan  tahun sebelumnya, yaitu khususnya untuk tingkat SMP  dan SMA soal dibuat dengan model sejumlah siswa dalam kelas itu atau 20 jenis soal dengan bobot yang sama. Model soal yang sejumlah siswa ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2013 tentang Kelulusan Peserta Didik dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Nasional. Sedangkan pelaksanaan Ujian Nasional mengacu pada  Peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) No: 0020/P/BNSP/I/2013 Tentang Prosedur Operasional Standar (POS) dalam Bab III tentang Ujian Nasional Bagian B sub d yang menyebutkan bahwa salah satu tugas BNSP adalah “Menyiapkan naskah soal Ujian Nasional yang berbeda dengan tingkat kesukaran yang sama untuk setiap peserta dalam satu ruang Ujian Nasioal SMP/MTs, SMA/MA, SMK dan Paket C.

Perbedaan yang lain adalah kode soal, dimana pada UN tahun sebelumnya ditulis pada pojok kanan naskah soal dalam bentuk angka atau huruf (namun yang sering dalam bentuk angka), sedangkan dalam UN tahun ini kode naskah soal berupa “Barcode” yang tidak berupa angka atau huruf namun berupa gambar/bergaris yang hanya bisa dideteksi oleh computer korektor/scanner, sehingga masing-masing siswa akan sulit mengenali dia memegang/mengerjakan soal kode yang mana karena secara mata telanjang tidak bisa membaca kode soal yang dikerjakannya. Belum lagi setiap soal langsung menyatu dengan lembar jawaban sehingga peserta harus mengerjakan di lembar jawaban yang menyatu dengan soal tersebut. Seandainya terjadi kekeliruan sehingga harus mengganti lembar jawab, maka sang siswa harus mengerjakan soal dengan model yang berbeda lagi atau mengulang lagi dari awal. Dengan demikian, diharapkan untuk UN kali ini siswa tidak mengalami kesalahan dalam mengerjakan kalau tidak ingin mengerjakan soal berulang kali.

Tanpa harus menganalisa maksud yang dikandung dalam aturan baru ini, ataupun beradu tebak, kita sudah bisa menduga bahwa UN kali ini akan menitik beratkan kemampuan individual peserta didik dalam mengerjakan soal sekaligus menjunjung tinggi kejujuran sang anak dalam mengerjakan soal UN. Hal ini sangat bisa dimengerti mengingat dewasa ini Pemerintah (Baca: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) sedang menggalakkan Pendidikan Karakter di semua lini dan jenjang pendidikan. Salah satu roh dan inti pendidikan karakter yang akan dibentuk adalah menjunjung tinggi nilai kejujuran, dimana dewasa ini kejujuran semakin langka di negeri yang sering didera masalah korupsi ini. Bahkan dalam sebuah kesempatan, Bupati Ponorogo H. Amin, S.H, M.H. pernah mengatakan bahwa, ”Kejujuran sekarang ini ibarat mencari jarum di tengah tumpukan jerami”, dengan kata lain begitu sulitnya mencari orang yang jujur. Kalau di negeri yang menjunjung tinggi Nilai Ketuhanan semakin langka diperoleh, berarti implementasi kejujuran dalam kehidupan berketuhanan yang termaktup dalam sila pertama Pancasila ini semakin jauh dari kehidupan masyarakat kita juga.

Selama ini hasil UN memang semakin tidak dipercaya keasliannya, dengan kata lain UN sering diindikasikan  dikerjakan dengan tidak jujur, sehingga sering didengar anak yang tidak begitu bagus kesehariaanya namun mendapat nilai UN yang bagus, sementara anak yang bagus memperoleh nilai UN yang biasa saja.  Kondisi demikian menyebabkan sekolah / lembaga pendidikan di atasnya semakin tidak percaya dengan hasil UN tersebut. Hal ini sangat mengerikan mengingat UN dilaksanakan dengan biaya, tenaga dan segala daya upaya yang besar, namun alangkah sayangnya jika hasilnya tidak bisa dipercaya lagi sebagai alat ukur yang mestinya mampu menggambarkan kemampuan peserta didik.

Hal itu memang terjadi. Sebagai Contoh ada sebuah SMA kawasan kota Ponorogo yang menerima siswa melalui Nilai UN 50% dari daya tampungnya, sedangkan yang 50% diperoleh melalui tes dan tesnya pun dilaksanakan setelah seleksi melalui nilai UN.  Namun hasilnya mencengangkan.  Siswa yang diterima melalui tes walaupun sebelumnya sudah tereliminasi nilai UN-nya, ternyata hasil pembelajarannya jauh lebih baik. Ini adalah sebuah ironi dunia pendidikan  kita.

Perubahan model UN ini menurut Pengamat Pendidikan yang juga Direktur Program Pascasarjana STAIN Ponorogo Dr. H. Abdul Mun’im, M.Ag. merupakan langkah yang bagus walaupun hasilnya belum bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan pendidikan kita, namun setidaknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mulai membangun bangsa ini dari sisi kejujuran generasi mudanya. Karena dari sisi mana memulai membangun kejujuran juga sangat sulit melakukannya. Setidaknya dengan model semacam ini sekolah akan berusaha meningkatkan proses belajar yang ada di dalamnya dalam rangka meningkatnya hasil belajar yang di ukur dengan nilai UN. Yang kedua siswa akan berlatih dan memulai diri untuk membangun kemandirian karena soal yang dihadapinya berbeda dengan teman sebelahnya. Diharapkan dengan demikian kemandirian tersebut akan semakin terasah.

Menurut Dosen senior STAIN Ponorogo yang sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Tarbiyatul Nasyi’in Paculgowang, Diwek Jombang ini, di negeri ini seolah tidak ada lagi kejujuran dan semangat untuk membangun negeri, yang ada hanya saling berbuat culas dan mementingkan diri sendiri atau setidaknya mementingkan golongannya saja. Orang yang jujur akan sulit laku di negeri yang serba culas dan penuh dengan korupsi ini. Menurutnya memang berat dan sulit berhasil kalau kejujuran hanya dimulai dari UN saja, mengingat indikator kejujuran yang terbesar bukan pada UN. Bahkan sumbangan UN terhadap kejujuran seberapa persen juga belum diketahui. Dewasa ini, menurut bapak lima anak ini, ada dua hal yang harus dibangun selain kejujuran adalah etos kerja dan kemandirian. Bangsa kita termasuk anak didik telah masuk dalam budaya malas, hanya ingin cepat kaya, cepat sukses, cepat memperoleh suatu keberhasilan tertentu tanpa mau melalui proses panjang yang seharusnya dilaluinya. Hal ini terjadi juga karena lemahnya keteladanan yang dilihat dalam kehidupan mulai pemimpin tingkat terendah sampai pemimpin tertinggi di negeri ini. Larisnya Eyang Subur yang heboh di tayangan TV sekarang ini, barangkali tidak lepas dari pola hidup ini.

Menurut Ahli Syariah STAIN Ponorogo kelahiran Nganjuk ini, inti ajaran Agama adalah tauhid sedangkan inti keberagamaan adalah kejujuran. Sehingga orang yang tinggi ketauhidannya mestinya diikuti dengan  tingginya tingkat kejujuran.  Imam Gozali pernah mengatakan bahwa manusia yang sebenarnya adalah orang yang jujur, bahka lebih jauh Nabi pun pernah bersabda bahwa kejujuran adalah ciri umat Islam. Ketika suatu saat ditanya sahabat tentang apakah ada umat Islam yang bakhil? Nabi menjawab ada. Ketika ditanya lagi adakah umat Islam yang bohong? Beliau menjawab ada, tetapi ketika nabi ditanya apakah ada umat Islam yang tidak jujur, Nabi menjawab tidak ada karena ciri umat Islam adalah  jujur. Walaupun demikian bakhil  dan bohong juga harus dijauhi oleh umat Islam tentunya.

Namun bagaimana implementasinya di masyarakat sendiri dewasa ini? Kejujuran akan nampak kalau diuji dengan materi. Hedonisme telah masuk menyeruak ke seluruh urat nadi kehidupan masyararakat baik sebagai masyarakat dalam kaitan kehidupan berbangsa dan bernegara maupun dengan kaitan dengan kehidupan keagamaan.  Sama saja, semua sudah sulit didapat yang dinamakan dengan kalimat kejujuran tersebut.

Kondisi ini menurutnya sudah melanda di semua elemen masyarakat baik pemerintah, ormas/LSM, sampai dengan lembaga keagamaan sendiri. Sungguh sangat ironis. Namun Menurut Ahli Syariah yang berpenampilan kalem ini ini hilangnya kejujuran dan rendahnya etos kerja ini diawali dengan tingginya angka korupsi di negeri ini. Korupsilah yang merusakkan semua sendi kehidupan di masyarakat. Anak menjadi malas karena sering dijumpai antara yang cerdas dengan yang tidak  sulit dibedakan dalam dalam masyarakat kita. Bahkan buruknya sistem rekrutmen PNS yang sering didera isyu KKN, seolah menjadi pemandangan biasa malah aneh kalau dijumpai ada yang tidak KKN. Dari sinilah semakin rusaknya sistem pendidikan, belum lagi para petinggi di negeri ini banyak yang memberi teladan berupa “pembelian” ijazah dan gelar dengan model yang relatif santun walaupun bisa dikatakan sebuah prahara akademis.

Sementara anak yang sukses pendidikannya sering menjadi pengangguran yang tak ada ujungnya. Dengan demikian kemalasana akan melanda seluruh anak didik.  Diakuinya di kalangan mahasiswapun kemalasan belajar ini sangat kentara. Bahkan menurut survey yang dilakukannya, mahasiswa yang biasa belajar dalam kehidupan akademis yang baik tidak lebih  dari 30%. Inipun mereka belum bisa belajar dengan baik dan belum mampu mengukur keberhasilan belajarnya tersebut atau dengan kata lain hanya sekedar belajar. Untuk itu harus dibangun keunggulan yang dimiliki secara personal oleh mahasiswa/pelajar yang nantinya bisa diandalkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sehingga membangun kembali sendi kehidupan berbangsa sekaligus kehidupan bermasyarakat yang berupa kejujuran ini sulit mengawalinya. Para petinggi negeri ini kelihatannya bingung dari sudut mana mengawali membangun kejujuran tersebut. memulainya.

Maka kejujuran yang diharapkan muncul dari UN inilah yang diharapkan. Memang menurut Abdul Mun’im, membangun sendi masyarakat ini butuh waktu yang lama dan kerjasama antara semua sektor kehidupan yang ada. Namun kerjasama inipun sekarang semakin sulit ditemukan. Hal ini juga dibenarkan oleh Agus Proyambodo, S.Pd. Kepala SMA PGRI I Ponorogo bahwa membangun sendi kejujuran semacam ini tidak hanya berlangsung satu dua tahun seperti UN ini. Butuh waktu yang lama. Memang ada signivikansi antara UN dengan kejujuran walaupun sedikit. Paling tidak anak didik menjadi lebih serius dan mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi ujian Nasional ini. Banyak sekolah yang jauh hari sudah menyiapkan peserta didik dengan berbagai latihan atau try out dengan harapan anak tersebut terbiasa mengerjakan berbagai macam soal. Selain itu menurut Agus anak juga disiapkan secara mental dengan motivasi maupun do’a. malah untuk Istighostah dilakukan setiap minggu selama lebih dari dua bulan untuk menyambut UN tersebut. Memang gerakan istighostah menghadapi UN ini berlangsung dimana-mana seolah dunia ini akan segara berakhir atau setidaknya begitu gawatnya UN ini.

Pelaksanaan UN kali ini cukup tragis dimana sebelas propinsi (semuanya Indonesia Timur) karena alasan keterlambatan naskah sehingga belum bisa melaksanakan ujian secara serentak. Konon kondidi semacam ini baru dialami oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Prof. Muhammad Nuh, DEA. sebagai pemegang kendalinya.

Menurut D. Djoedjoek Moekahono Pengawas Pendidikan Menengah Propinsi Jawa Timur yang sempat dijumpai Dinamika ketika mengadakan pemantauan UN di Ponorogo, sangat wajar terjadi keterlambatan soal mengingat model soal kali  ini memang baru dan pelaksanaannya sentralisasi di Jakarta. Mau tidak mau dengan model yang banyak maka menyusunnya juga memerlukan waktu yang lama. Belum lagi letak Indonesia yang berbagai pulau dengan lokasi yang sangat jauh dan terpencil cukup banyak, keterlambatan ini sangat mungkin terjadi. Belum lagi kondisi cuaca saat ini juga masih belum begitu bagus dimana hujan masih cukup tinggi frekwensinya, termasuk gelombang laut juga cukup tinggi. Dilain fihak dia juga sepakat bahwa dengan UN beberapa  model soal ini akan membangun kemandirian dan kejujuran siswa walaupun target ini juga tidak mudah untuk mencapainya.

Berdasarkan informasi di media masa dan pantauan di lapangan, yang lebih mengerikan adalah justru banyak isyu negatif lain yang muncul seperti  adanya kebocoran soal dan dijual bebas kunci jawaban di pasaran, yang kalau hal itu betul-betul terjadi,  sungguh mengerikan. Bahkan malam hari sebelum pelaksanaan UN beraneka ragam kunci ditemukan dimana-mana dengan kode beraneka ragam pula. Kalau kunci ini benar keberadaanya, kejujuran yang dibangun dengan susah payah di tengah keterpurukan mental di negeri ini berarti sudah berantakan akibat diobrak-abrik oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Dari sisi lain sebuah kabar beredar yang jelas, dengan nominal tertentu seseorang dapat membeli 21 paket jawaban dengan kriteria misalkan kalimat pertama ini, soal ke lima belas ini maka kuncinya adalah ini. Kalau hal ini memang terjadi, dengan cara mana lagi akan membangun kejujuran di negeri yang semakin culas ini? Rasanya kalimat “Sepandai-pandai polisi, sang maling tidak akan kehabisan akal” betul terjadi di negeri sarang koruptor ini.  Dan pameo itulah yang dipakai sebagai dasar “filosofis” para pecundang kemurnian UN kali ini.

Ada lagi kasus yang terkoordinir dengan bagus dimana siswa dengan alat komunikasi HP bisa mengirim berbagai soal ke server yang siap menerima dan mengembalikan lagi jawaban dengan alat komunikasi elektronik tersebut. Sistem ini juga dikerjakan dengan pola yang rapi walaupun sebenarnya juga bukan rahasia lagi karena setelah UN berlalu, banyak anak yang berkoar dengan berbagai sistem ini. Pokoknya beraneka ragam pula ketidakjujuran mengerjakan soal UN yang berlangsung dengan model terbaru kali ini.

Malah menurut pantauan Dinamika ketidakjujuran dan berbagai jenis kejahatan juga berkembang di tengah perkembangan UN yang dilaksanakan setiap tahun ini walaupun sebelum pelaksanaan banyak yang memulainya dengan berbagai ritual pendekatan kepada Tuhannya. Sehingga sering dicampur aduk antara do’a (kebaikan ajaran Tuhan) dengan ketidakjujuran (keburukan dan bukan ajaran Tuhan), bisa jadi malaikat bingung dibuatnya.  Akhirnya silakan ditakar sendiri dengan UN sebenarnya  mau membangun kejujuran apa justru sebaliknya malah mengembangkan ketidakjujuran. Kita lebih bisa memaknai sendiri sehingga bisa menyimpulkan UN sebaiknya jalan terus atau dihentikan dengan segera? Namun berfikir positif dan optimis terhadap UN rasanya lebih baik dibanding mencari kelemahan dan sisi negatifnya.  Karena hanya dengan berfikir positif dan berorientasi masa depan, ilmu pengetahuan akan cepat berkembang dan itulah yang membuat kita semakin maju. (AGUS PRASMONO)

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: