|
Silahkan Baca
Artikel, Teknik Pembelajaran

Tip dan Trick Mengatasi Kejenuhan Dalam Pembelajaran

Oleh: Moh Farid Amrulloh*

Moh FaridJenuh dalam Pembelajaran ??? Bagaimana Solusinya . . .??

Dalam pelaksanaan pembelajaran berlangsung di sekolah pada umumnya masih menghadapi masalah–masalah. Diantaranya adalah kurangnya penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan. Keberhasilah belajar ditentukan dan dipengaruhi oleh beberapa aspek. Salah satu aspek penentunya adalah guru.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama adalah mendidik, menhajar, membimbing, melatih, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan menengah. Ketegasan diatas menjelaskan bahwa guru harus memiliki sikap keprofesionalisme. Profesional sendiri adalah suatu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Seorang guru akan memperoleh kepuasan, apabila telah melaksanakan tugas pembelajaran yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan materi yang disampaikan  kepada siswa dapat diterima dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan dapat dicapai. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Hopkins (dalam Wardani, dkk: 2003), yang berkaitan dengan isu-isu seputar profesional praktek  dikelas kontrol sosial terhadap guru, serta kemanfaatan penelitian pendidikan, maka profesional tindakan kelas yang dilakukan oleh guru dipandang sebagai satu unjuk kerja seorang guru yang profesional. Guru yang berhasil harus mempunyai sikap dan ketrampilan yang mendorong siswa aktif untuk berfikir dan mampu memecahkan masalah, serta menguasai sejumlah ketrampilan di dunia pendidikan. Masalah penting yang mendasar bagi guru dalam proses belajar mengajar di kelas adalah bagaimana upaya untuk memperbaiki pembelajarannya sehingga materi yang disampaikan dapat dimengerti dan dipahami oleh siswa dengan mudah.

Tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran biasanya dinyatakan dengan nilai. Hal ini dipertegas pendapat (Zainul, dkk: 2004) bahwa tes hasil belajar adalah salah satu alat ukur yang paling banyak digunakan untuk mengetahui kemampuan dan pemahaman dalam belajar mengajar.

Faktor yang menghambat keberhasilan seorang peserta didik di dalam pembelajaran adalah kejenuhan. Seorang peserta didik akan merasa jenuh apabila model atau cara mengajar seorang guru monoton atau tidak bervariasi. Mengapa demikian dan bagaimana solusinya? Bahwa seoarang siswa atau peserta didik membutuhkan suatu hal yang baru, karena dengan cara mengajar guru bervariasi siswa dapat belajar dengan maksimal, bahkan akan lebih mudah menerima penjelasan dari seorang guru. Disini guru harus terampil menggunakan variasi. Penggunaan variasi disini dimaksudkan agar peserta didik terhindar dari perasaan jenuh dan membosankan, yang menyebabkan perasaan malas menjadi muncul. Pengajaran sepantasnya tidak monoton, berulang-ulang dan menimbulkan rasa jengkel pada diri peserta didik. Karena itu ketrampilan menggunakan variasi adalah sangat penting bagi guru sekolah dasar dalam upaya memelihara dan meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar yang lebih baik.

Mengadakan variasi belajar adalah menciptakan suatu yang baru dalam proses belajar mengajar, yang mengarahkan siswa, melibatkan siswa, sehingga sekolah tidaklah merasa sebagai beban yang berat, tetapi merasa menjadi sesuatu yang menyenangkan. Pengertian penggunaan variasi merupakan ketrampilan guru di dalam menggunakan bermacam kemampuan untuk mewujudkan tujuan belajar peserta didik sekaligus mengatasi kebosanan dan menimbulkan minat, gairah, dan aktivitas belajar yag efektif.

Tujuan penggunaan variasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk: a) Mempertahankan kondisi optimal siswa. b) Menghilangkan kejenuhan dalam mengikuti proses belajar. c) Meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik. d) Memudahkan pencapaian tujuan pengajaran.

Adapun jenis-jenis variasi yang bisa dipertimbangkan guru untuk diterapkan dalam pengajarannya di sekolah, antara lain: 1) Variasi dalam gaya mengajar, yaitu penggunaan variasi yang berkaitan dengan gaya mengajar guru, seperti: variasi dalam suara, variasi dalam gerak dan mimik, posisi guru, kesenyapan, kontak pandang, pemusatan perhatian, dsb. 2) Variasi dalam penggunaan media, bahwa media yang digunakan harus bervariasi. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan dalam mengenal dan meilih media. 3) Variasi dalam penggunaan metode, sesuaikan bahan dan karakteristik siswa dengan metode pengajaran yang diolah guru dan gunakan beberapa metode untuk satu penyampaian pengajaran. 4) Variasi dalam pola interaksi, yaitu gunakan pola interaksi multi arah artinya antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan guru atau peserta didik dengan peserta didik lain dan guru.

Disisi lain, untuk menghilangkan kejenuhan dalam proses belajar mengajar, selain menggunakan variasi, proses belajar mengajar juga harus menyenangkan. Dave Maier (2002) dalam bukunya “The Accelerated Learning Handbook” mengatakan; menyenangkan dalam keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Kegembiraan disini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada diri si pemelajar. Itu semua adalah kegembiraan dalam melahirkan sesuatu yang baru. Dan menciptakan kegembiraan jauh lebih penting daripada teknik atau metode atau media yang mungkin dipilih untuk digunakan.

Untuk membangun suasana menyenangkan lanjut Maier ada beberapa rumusan yang diajukan: (a) Bangkitnya minat belajar. Dalam kamus bahasa indonesia, kata minat diartikan sebagai “kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu”. Dalam bahasa yang lebih simpel minat diartikan juga dengan “gairah” atau “keinginan yang menggebu-gebu”. Jadi apabila kegembiraan dikaitkan dengan komponen ini, maka jelas bahwa seorang pengajar atau pemelajar menjadi gembira lantaran di dalam dirinya memang ada keinginan mengajarkan atau mempelajari suatu pelajaran. Sebaliknya apabila di dalam diri seseorang tidak muncul gairah untuk mengajar atau belajar tentang hal-hal yang akan diajarkan atau dipelajarinya, maka di dalam lingkungan belajar mengajar itu agak sulit dikatakan kegembiraan.

(b) Adanya keterlibatan penuh si pemelajar dalam mempelajari sesuatu. Komponen kedua ini sangat bergantng pada komponen pertama. Apakah mungkin seorang pemelajar dapat terlibat penuh dan aktif dalam mengikuti sebuah pembelajaran apabila di dalam dirinya tidak ada sama sekali gairah atau minat untuk mengikuti pembelajaran tersebut. Pemelajar betul-betul berkonsentrasi diri untuk fokus pada apa yang dipelajarinya, sehingga ada hubungan timbal balik. Apa yang dipelajari dan siapa yang ingin mempelajari perlu ada jalinan yang akrab dan saling memahami.

(c) Terciptanya makna. Makna tidak mudah didefinisikan. Makna berkaitan erat dengan masing-masing pribadi. Makna kadang muncul secara sangat kuat dalam konteks yang personal. Kata yang mungkin paling dekat dan mudah difahami berkaitan dengan kata makna adalah terbitnya sesuatu yang memang “mengesankan”. Sesuatu yang mengesankan biasanya dapat menghadirkan makna. Jadi apabila sebuah pembelajaran tidal dapat menimbulkan kesan mendalam terhadap para pemelajar, maka mustahil ada makna. Apalagi jika pembelajaran itu kering, monoton, dan hampa dari hal-hal yang membuat suasana menjadi segar dan ceria, tentulah sulit menciptakan makna dalam suatu pembelajaran.

(d) Pemahaman atas materi yang dipelajari. Apabila minat seseorang pemelajar dapat menumbuhkan ketika mempelajari sesuatu, lantas dia dapat terlibat secara aktif dan penuh dalam membahas materi yang dipelajarinya, dan ujung-ujungnya terkesan dengan sebuah pembelajaran yang diikutinya, tentulah pemahaman akan materi yang dipelajarinya dapat muncul secara sangat kuat. Rasa ingin tahu atau kehendak untuk menguasai materi yang dipelajarinya akan tumbuh secara hebat apabila dia berminat, terlibat, dan terkesan. Sebab ada kemungkinan ketika dia belajar sesuatu yang baru, dia kemudian mengaitkan hal-hal baru itu dengan pengalaman lama yang sudah tersimpan di dalam dirinya.

(e) Tentang nilai yang membahagiakan. Bahagia menurut bahasa adalah keadaan atau perasaan senang, tentram (bebas dari segala yang menyusahkan). Berkaitan dengan belajar, bahagia adalah keadaan yang bebas dari tekanan, ketakutan, dan ancaman. Rasa bahagia yang muncul di dalam diri si pemelajar bisa saja terjadi karena dia merasa mendapatkan makna ketika mempelajari sesuatu. Dirinya menjadi berharga, dirinya jadi tumbuh berkembang dan berbeda dari sebelumnya. Atau dia merasa bahagia keraena selama menjalani pembelajaran dia diteguhkan sebagai seorang yang berpotensi dan dihargai jerih payahnya dalam memahami sesuatu.

Sekaranglah memulainya menerapkan pembelajaran yang bervariasi dan menyenangkan! Untuk menjadi guru yang profesional harus diawali dari semangat membara yang memancar dari diri, dan salah satunya semangat menjadi guru inovatif. Untuk menjadi guru inovatif diperlukan kerja keras dan menjadikan diri sebagai guru “bertelinga lebar”, sekaligus “bertelinga tertutup”. Jangan paksakan peserta didik untuk menikmati pembelajaran yang kita lakukan. Demikian uraian singkat yang penulis sajikan mengenai hal-hal positif untuk menghilagkan kejenuhan dalam pembelajaran, semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman semua. amien

*Penulis adalah Guru Sdn 3 Jimbe, Jenangan, Ponorogo

Daftar Pustaka:

Misiyem, S.Pd.SD, Penelitian Tindakan Kelas, Ponorogo, 2012

Imam Mujahid, Pembelajaran Inovatif Membangkitkan Motivasi Mengajar Dan Belajar, dinamika, 2010

Annistul Mufarokah, M.Pd.I, Strategi Belajar Mengajar, Yogyakarta, Teras, 2009

Drs, Yoto, ST, M.Pd dan Drs. Saiful Rahman, M.M, Manajemen Pembelajaran, Yanizar Group, Malang, 2001, hal 164

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: