|
Silahkan Baca
Artikel, Profesi dan Karir

S2, Antara Trend dan Kebutuhan

Oleh: Agus Prasmono, M.Pd. *)

gopras1Tuntutan kemajuan di dunia pendidikan akibat ketertinggalan dengan bangsa lain disadari betul oleh para pemimpin negeri ini. Pendidikanlah yang diyakini bisa meningkatkan harkat dan martabat suatu bangsa terhadap bangsa lain dalam pergaulan internasionalnya. Hanya dengan pendidikanlah suatu bangsa bisa mengalami perkembangan yang pesat di berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan dan sain, militer bahkan politik sekalipun.

Menyadari arti penting pendidikan tersebut, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat mengeluarkan beberapa program yang muaranya pada peningkatan kualitas pendidikan tersebut. Dimulai dari perangkat undang-undang yang menyangkut kependidikan seperti UU No 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No 14 tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen serta beberapa Undang-undang lain yang berkaitan dengan regulasi pendidikan. Dilanjutkan dengan Permen-permen sebagai tindak lanjut dan penjabaran dari undang-undang tersebut yang jumlahnya berjibun, sehingga menteri sekarang sering disebut sebagai ”Menteri Permen” karena banyaknya Permen yang dikeluarkan, yang jelas bukan permen karet.

Amanat undang-undang dengan segala permennya tersebut ternyata  mendapat respon positif di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan. Tuntutan profesionalisme bukan saja terjadi karena adanya tunjangan profesi, namun lebih dari itu sudah dirasakan sebagai kebutuhan kalangan pendidik dan tenaga kependidikan.  Profesionalisme bukan saja sekedar ditandai peningkatan kesejahteraan dengan adanya tunjangan profesi sebesar gaji yang dimilikinya, namun lebih dari itu disadarinya suatu keharusan peningkatan kemampuan dalam mengemban tugas masing-masing secara tanggung jawab sesuai dengan bidang kerja masing-masing.

Harapan dari Undang-undang tersebut memang tersirat demikian, yaitu adanya peningkatan kualitas pendidikan  yang dimulai dari peningkatan kualitas para pendidik dan tenaga kependidikan. Adalah suatu kemustahilan terjadinya peningkatan kualitas pendidikan tanpa dimulai dari meningkatnya kualitas para pendidik dan tenaga kependidikannya, untuk itu yang diharapkan pemerintah sesuai dengan tuntutan undang-undang adalah para pendidik (guru) pendidikan minimalnya adalah sarjana (S-1). Sehingga beberapa perguruan tinggi (LPTK) diserbu para pendidik yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan yang dipersyaratkan tersebut.

Ketika para pendidik sudah memenuhi standar minimal, ternyata tidak hanya berhenti di situ. Pendidikan lanjut (Pascasarjana) juga menjadi salah satu harapan dari lembaga pendidikan. Sekolah Standar Nasional (SSN) apalagi Sekolah Standar International (SBI) mensyaratkan sejumlah tenaga pendidiknya (dengan prosentase tertentu) harus menempuh pendidikan lanjut di tingkat pascasarjana, sehingga sekarang para pendidik berlomba mengikuti pendidikan lanjut di tingkat pascasarjana tersebut.

Fenomena ini rupanya ditangkap positif oleh kalangan perguruan tinggi dengan membuka berbagai Program Studi di program Pascasarjana yang dimilikinya. Demikian juga yang belum punya Pascasarjana terus memacu diri dengan segala daya dukung dan daya tawar yang dimilikinya sehingga terbentuklah program Pascasarjana tersebut, walaupun tidak sedikit yang terkesan karbitan dan prematur. Program Pascasarjana yang semula hanya dimiliki oleh perguruan tinggi tertentu yang nota bene hanya perguruan tinggi ”kelas atas” dan berada di kota besar, sekarang telah menjamur ke berbagai  lebel perguruan tinggi serta dimanapun perguruan tinggi itu berada termasuk di kawasan kota kecil dan pinggiran yang kualitas akedemisnya masih perlu digenjot (baca: diragukan kualitasnya). Hal ini memang tidak dipungkiri akan adanya peningkatan kualitas pendidikan  walaupun kadang kala juga dijumpai penyelenggara yang sembrono dengan kualitas yang amburadul pula.

Melanjutkan ke jenjang pascasarjana ini bukan hanya diminati oleh kalangan guru pada jenjang lembaga pendidikan tertentu namun oleh semua jenjang pendidikan mulai sekolah dasar, bahkan mulai Pendidikan usia dini (PAUD), sekolah menengah pertama sampai dengan sekolah menengah atas. Juga tenaga kependidikan lain seperti para pengawas satuan pendidikan, para kepala Unit Pelaksana Tehnis, para Kepala Sekolah / Lembaga pendidikan terus memacu diri meningkatkan kualifikasi pendidikan mengingat tenaga pendidik di lembaga yang dipimpinya sudah banyak yang mengenyam pendidikan pascasarjana sehingga adalah suatu kewajaran apabila pimpinan lembaga pendidikan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Namun yang perlu dipertanyakan adalah minat melanjutkan ke jenjang pascasarjana tersebut murni karena kemauan dan semangat untuk menambah ilmu yang telah dimilikinya atau sekedar tuntutan profesi atau lebih parah kalau hanya sekedar mengoleksi gelar tanpa ada isi yang pantas di dalamnya. Niat ini sebenarnya bisa dilihat dari beberapa faktor. Pertama dari relevansi antara bidang studi di pascasarjana dengan tugas masing-masing individu. Kalau minat Bidang studi di Pascasarjana ada relevansi yang ”dekat” seperti linier dengan tugasnya masih sangat mungkin itu berguna bagi kelancaran dan kesuksesan tugasnya.  Yang kedua bisa dilihat dari satus perguruan tingginya. Perguruan tinggi tersebut sekedar jual gelar apakah menawarkan ”kualitas” kepada para peserta didiknya.  Karena sekarang ini banyak perguruan tinggi tertentu yang hanya mengobral gelar dan tenpatnya mudah dijumpai dimana-mana, sehingga dikenal dengan ”Mc donalisasi Pascasarjana”. Mc Donalisasi pendidikan ini menurut George Ritzer justru akan membawa efek negatif terhadap nilai-nilai akademik dan integritas lembaga pendidikan karena etika keilmuan berubah menjadi etika bisnis. Bahkan menurutnya Mc Donalisasi Pendidikan ini termasuk bagian dari gerakan neoliberalisme terutama di negara yang pendidikannya tertinggal seperti Indonesia. Gerakan ini juga kontra produktif terhadap pembangunan karakter yang sedang digalakkan dewasa ini di Republik yang sering dirundung masalah ini.

Pendidikan pada dasarnya berfungsi untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin berpeluang untuk menuju kesuksesan, walaupun orang ”sukses” dalam tanda petik pada bidang ekonomi tidak harus semuanya dijalani dengan pendidikan yang layak.  Hal ini dibuktikan dengan fakta di lapangan bahwa mayoritas ”orang penting” berasal dari kalangan berpendidikan tinggi. Memang ”sekedar kesuksesan” ekonomi tidak sedikit pelakunya tidak mengenyam pendidikan secara bagus (Baca: berpendidikan tinggi) ketika dia mempunyai naluri bisnis yang bagus serta keberanian berspekulasi.

Menurut Azzumardi Azra (2003: 34) Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengentaskan kemiskinan, walaupun memerlukan waktu yang relatif panjang. Memang banyak yang mengatakan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang atau investasi masa depan. Hal ini karena hasil dari buah pendidikan tidak mungkin dapat dirasakan sekarang, namun baru puluhan tahun kemudian.

Dalam Islam pendidikan merupakan kewajiban setiap manusia semenjak manusia tersebut dilahirkan sampai dengan menusia tersebut di liang lahat.  Sehingga perjuangan mencari ilmu pengetahuan merupakan tugas dan kewajiban setiap muslim. (Al Hadis, seperti dikutip Abdurrahman Mas’ud, 2003: 24). Lebih lanjut Abdurrahman Mas’ud mengatakan bahwa jangan menangis kalau berada di barisan belakang akibat keterbelakangan dalam mencari ilmu pengetahuan dan sains, karena barisan depan memang hak orang yang lebih dulu memiliki ilmu.

Kalau melanjutkan ke pascasarjana dasarnya adalah hal tersebut diatas, maka niat melanjutkan ke pascasarjana yang sekarang bergairah dimana-mana adalah hal yang positif sekaligus sebagai wujud tanggungjawab pendidik sebagai pengembang ilmu dan bertanggungjawab atas profesi yang diembannya. Gejala ini rupanya cenderung dimiliki oleh generasi muda yang memang semakin getol mencari ilmu. Gejala ini jelas merupakan hal yang positif yang perlu terus dikembangkan sehingga lahirlah generasi muda kita yang haus akan ilmu dan terus mengembangkan ilmu itu sendiri.

Namun yang perlu dipikirkan adalah ketika gejala melanjutkan ke jenjang pascasarjana tersebut sekedar mengoleksi gelar sehingga menambah panjang namanya, tentunya ini perlu disesalkan. Hal ini sering terjadi dikalangan tertentu sekedar mencari gelar bahkan tidak sedikit yang ”membelinya” dengan harga yang diobral dan dijual dimana-mana. Sehingga secara sederhana bisa kita tarik sebuah kesimpulan bahwa tujuan melanjutkan ke jenjang pascasarjana ada tiga makna. Bagi guru yang pendidikan Sarjana ( S-1 ) nya dan bidang sertifikasinya relevan, maka  bermakna sebagai penambahan ilmu untuk peningkatan kualifikasi bagi guru yang bersangkutan. Bagi mereka yang jenjang sarjana ( S-1) nya tidak relevan, bermakna sebagai legitimasi tuntutan profesi yang mensyararatkan pendidikan lebih tinggi (S-2) dan yang ketiga ada yang memandang Pascasarjana bermakna sebagai legitimasi jabatan terlebih sudah banyak anak buahnya yang sudah berpendidikan S-2, kecuali mereka memang nawaitu menuntut ilmu untuk mengembangkan ilmu itu sendiri sekaligus sebagai kewajiban umat manusia menuntut ilmu sejak lahir hingga meningal. Tentunya kalau nawaitunya benar adalah dua hal yang didapat selain berfungsi sebagai penguat peran dan fungsinya sebagai pemimpin lembaga tertentu maka akan mendapat  pahala yang terus mengalir untuknya, sementara yang nawaitunya hanya untuk mengoleksi gelar,  ya hanya itu yang didapat. Terserah sumangga pilih yang mana, karena jawabannya memang multiple cois. Sama dengan UNAS.

*) Agus Prasmono adalah Guru di SMAN 3 Ponorogo

 Daftar Pustaka.

Abdurrahman Mas’ud. 2003. Menggagas Format Pendidikan Non Dikotomik (Humanis religius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam). Jogjakarta: Gama Media.

Azyumardi Azra. 2003. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.

Tim Widyaiswara LPMP Propinsi Jawa Timur. 2011. Bahan Ajar TOT Guru Pendamping Diklat Terakreditasi Propinsi Jawa Timur. Surabaya: LPMP Propinsi Jawa Timur.

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: