|
Silahkan Baca
Cerpen

Rey, Si Trouble Maker

Oleh : Wijiati*

Jam di dinding masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Bagi seorang guru, ini masih sepertiga perjalanan mengajar. Tapi tenggorokanku sudah mengering. Tenagaku seakan sudah diperas habis.

Sejenak kusandarkan tubuh penat ini di atas kursi kayu yang terletak di sudut ruangan kelas. Aku benar-benar heran dengan perilaku anak-anak sekarang. Konon, anak-anak sekarang banyak yang ‘menyusu’ pada sapi sehingga tak heran perilakunya banyak yang menyimpang. Entah benar atau tidak.

Yang pasti, belum juga pulih rasa penatku, keributan di kelas ini kembali terjadi. Dan ini entah sudah yang keberapa kalinya semenjak tadi pagi.

“Pasti Si Trouble Maker berulah lagi!” Gumamku dalam hati.

”Bu Guru, Rey merebut tempat minumku… Huuu… Tempat minumnya dibuang … Huuu…” Tsania menangis tergugu. Ini sudah yang kesepuluh kalinya sejak Rey, siswa kelas 4 SD pindahan dari Jakarta, masuk ke kelas ini sebulan yang lalu.

Segera kupelototi Rey yang sudah beralih mengotak-atik ritsleting tas temannya, kemudian masuk ke kolong meja dan mulai menggelitik siapapun yang bisa dijangkau tangannya.

Astaghfirullah… Rey!” Teriakku lumayan keras.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan wajah innocentnya. Sempat terbesit dalam hatiku, ”Terbuat dari apa hati anak ini?”

Semua jurus rasanya sudah ku keluarkan, mulai dari yang paling halus hingga yang kasar sekalipun. Guru-guru senior pun sempat turun tangan. Tapi hasilnya nihil.

Rey memang sudah kelewatan. Terhitung sudah sepuluh kali ia merebut tempat minum teman kemudian membuangnya, berkali-kali mendorong temannya hingga jatuh, berkata kasar dan membentak-bentak, berani memalak teman-teman yang tidak menuruti perintahnya, dan seabrek ’kenakalan’ lain yang tak sempat terliput oleh retina mataku.

Yang pasti, anak ini memang kasar. Sama Mbak Pur, pembantu yang setiap hari mengantarjemputnya pun tak kalah kasarnya. Pernah suatu kali Mbak Pur diludahi mukanya. Pernah juga dilempari kue atau air minum bekal sekolahnya. Biasanya Mbak Pur tak mau tinggal diam. Dijewer, dicubit, dan diomelinya anak itu habis-habisan seakan tiada ampun. Dan Rey akan melawan dengan sekuat tenaganya. Aksi ini baru akan berhenti jika sudah ada guru yang menghampiri. Anak yang malang. Seringkali aku tak tega melihatnya. Kalau ingat kejadian itu, kemarahanku sedikit mereda.

”Rey, Ibu harap ini yang terakhir kali kamu merebut tempat minum temanmu. Anak-anak, tolong bacakan hadits tentang kasih sayang buat Rey!” teriakku lantang yang kemudian disusul suara kompak anak-anak, ”Man laa yarham laa yurham. Siapa yang tidak sayang, maka dia tidak akan disayang.”

Kuhela napas sejenak untuk menenangkan pikiran. Dan dengan segenap perasaan kuungkapkan sebuah kalimat dari lubuk hati yang paling dalam, ”Ingat Rey, Allah sayang kepada anak yang sayang pada temannya.”

Tiba-tiba air mataku menitik satu per satu. Rey terdiam. Ada kegalauan di matanya. Aku berharap kalimat itu bisa menembus relung-relung hatinya. Laksana air yang mengikis kerasnya bebatuan.

Selama beberapa detik kami sempat terbawa suasana. Rey terdiam untuk beberapa saat. Hingga seorang anak tanpa sengaja menyenggol bahunya. Lalu Rey berlari mengejar dan berusaha untuk memukulinya sebelum berhasil dilerai oleh bapak guru yang lain.

Rey diamankan untuk sementara waktu di ruang kepala sekolah. Hari ini semua guru sepakat untuk mengambil kebijakan terkait masalah Rey. Berdiskusi dengan orang tuanya rasanya sudah tidak mungkin dilakukan lagi. Kepala sekolah sudah bosan memanggil ortu Rey yang selalu datang dengan seribu pembelaan. Bahwa anaknya pintar, baik, dan tidak ‘jahat’ seperti yang kami sampaikan. Bahkan ortunya sempat marah dan menuduh kamilah yang terlalu mengada-ngada. Dan kalau pun yang kami sampaikan itu benar, mereka bilang pasti itu karena pengaruh buruk dari teman-temannya. Kami juga pernah menyambangi rumahnya secara diam-diam. Namun kedatangan kami langsung terbaca oleh Rey hingga ia mengunci dirinya di dalam kamar.

Selama beberapa saat pembicaraan kami menemui jalan buntu. Hingga akhirnya, para guru bersepakat untuk mengambil jalan pintas. SKORSING. Yah, mau tidak mau, Ortu Rey harus menerima bahwa anaknya dikenai skorsing selama 3 hari.

☺☺☺

Hingga hari ke-3 masa skorsing…

Anak-anak tampak bahagia dengan ketiadaan Rey di sekolahnya. Mereka seakan merayakan hari kemerdekaannya. Bahkan ada yang menuliskan slogan di papan tulis, ”No drugs No Rey!” Hehe… Ada-ada saja.

Sejujurnya aku pun merasakan hal yang sama. Bahkan aku sempat berfikir, ”Kenapa skorsingnya hanya tiga hari saja?”

Mengingat itu, aku sedikit putus asa. Darahku berdesir bila mengingat hukuman Rey besok sudah berakhir.

”Akankah si trouble maker itu bikin masalah lagi?” Galauku dalam hati.

Hingga keesokan paginya. Saat yang dinantikan semua orang untuk memulai hari baru dengan semangat baru. Saat sang surya mulai memamerkan kilau emasnya yang berkilauan, aku berusaha menyambut pagiku yang mungkin akan kelabu.

”Tidak! Aku tidak boleh berprasangka demikian. Aku harus optimis bahwa pagiku akan cerah!” Semangatku dalam hati. Aku pun berusaha menata hatiku untuk menyambut kedatangan si trouble maker itu. Mudah-mudahan ia sudah berubah.

Namun hingga waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, si trouble maker belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal sebenarnya aku sudah menyiapkan sebuah cerita tentang seorang anak yang baik hati, hingga seluruh isi bumi merasa sangat sayang kepadanya. Namun urung kubacakan karena yang dinanti belum juga datang.

Hingga istirahat jam pertama tiba. Kuotak-atik tombol nokiaku. Aku ragu untuk menelepon ortu Rey sekedar memastikan keadaannya. Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya kuputuskan untuk menelpon saja.

Namun baru saja ku pencet nomor yang kutuju, kulihat anak-anak sudah berlarian dan mengucapkan kata-kata yang tidak kumengerti.

”Bu Guru… Bu Guru, Rey sudah ….”

Mereka tampak terbata-bata dan nafasnya tersengal-sengal. Tampak ada kengerian di wajah-wajah mereka. Ku coba menebak teka-teki ini.

”Ada apa? Rey sudah kembali?” Tanyaku ragu.

”Iya, Bu. Rey sudah ….”

Lagi-lagi mereka mengucapkan kata-kata yang tak ku mengerti. Di sudut taman, tampak anak-anak ramai berkerumun. Bapak dan ibu guru yang mondar mandir ke sana kemari dan Mbak Pur yang menangis menjerit-jerit. Aku pun bergegas menyeruak kerumunan. Rey sudah menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Ada yang menjambak rambutnya, menendang pantatnya, dan beberapa anak memegang erat tangan dan kakinya. Mereka memperlakukan Rey bak penjahat yang tertangkap.

”Hey! Apa-apaan ini??? Kenapa kalian berbuat seperti ini?” Teriakku panik.

Tampak dua orang guru membopong seorang anak perempuan yang jilbabnya sudah berlumuran darah.

”Ada apa ini?” Tanyaku pada anak-anak di barisan depan.

“Rey melempar batu besar dan mengenai kepala Tsania hingga berdarah, Bu.” Jawab anak-anak dengan serunya.

Astaghfirullah…” Seluruh persendianku rasanya melemas. Semua perasaan bercampur aduk menjadi satu.

Tsania segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Alhamdulillah, nyawanya masih bisa diselamatkan walau ia harus menjalani perawatan hingga berhari-hari di rumah sakit. Dan tentu saja semua biayanya ditanggung orang tua Rey.

Setelah kejadian itu, Rey mengundurkan diri dari sekolah ini. Ortunya merasa malu. Ia dipindahkan ke sekolah khusus dan menjalani terapi dengan psikolog.

Konon kabarnya, Rey adalah turunan bangsawan dari Jogja. Ortu Rey sangat disiplin dan cenderung diktator. Semua harus berjalan sesuai dengan keinginan orang tuanya. Pilihan menu makanan, baju, hingga tetek bengek kebutuhan Rey harus sesuai dengan pilihan orang tuanya. Harus sesuai dengan adat istiadat dan tata krama. Itulah sebabnya Rey tampak manis di hadapan ortunya. Ia bak robot yang bisa diotak-atik semaunya. Ia tidak bebas mengeluarkan pendapatnya sendiri. Ia terpenjara di dalam rumahya, namun menjadi liar saat keluar dari penjaranya. Kalau mengingat itu, sesungguhnya ia juga korban.

Hatiku miris. Mengapa pemberontakan anak itu terhadap orang tuanya harus mengorbankan kebahagiaan anak-anak lain?

☺☺☺

Lima tahun kemudian, tepatnya di bulan Ramadhan 1432 Hijriyah…

Seorang pemuda kira-kira berumur 15 tahunan sudah berdiri di depan rumahku. Aku baru saja selesai menjemur baju. Perawakannya tinggi, kurus, dan rambutnya cepak. Dia memakai setelan baju koko. Rapi dan sedap dipandang.

Sesaat aku termangu. Ia tersenyum dan mengucapkan salam. Aku masih mengenali wajahnya.

”Rey…?” Tiba-tiba dadaku berdesir.

”Angin apa yang membawamu ke sini?” Tanyaku ragu

”Angin kebaikan, Bu. Hehe… Aku ingin minta maaf atas segala kesalahanku dulu.” Kata-katanya sopan. Seketika air mataku tumpah hingga tak terbendung lagi. Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu.

Yaa Rabbi, sungguh Engkau Maha Kuasa. Mudah bagi-Mu untuk membolak-balik hati manusia.” Syukurku dalam hati. Kini aku menyadari, sesungguhnya tidak ada trouble maker di dunia ini, jika Allah menghendaki.

Ponorogo, 14 Ramadhan 1432 H
Untuk semua guru di dunia ini :
Terus tebarkan kebaikan dan jangan pernah berputus asa…

*Penulis adalah guru SDIT Qurrota A’yun Ponorogo

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: