|
Silahkan Baca
Artikel, English Corner

Pentingnya Mengajarkan Pronunciation yang Benar pada Young Learners

Oleh: Agustin Putri Intan Permata, S.Pd*

inovasibelajarBeberapa waktu lalu penulis membantu murid-murid penulis kelas IX mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba pidato bahasa inggris antarkelas. Penulis menjadi sedikit heran ketika mereka sering melafalkan (pronounce) kata-kata sederhana seperti by, all, as dan us secara kurang tepat dan berulang-ulang. Padahal, penulis telah beberapa kali memberi contoh bagaimana pelafalan (pronunciation) yang benar. Timbul pertanyaan di benak penulis. Mengapa mereka tidak bisa mengingat pelafalan yang benar dan tetap mengulang kesalahan yang sama meskipun kata-kata tersebut mereka temui hampir di setiap kalimat yeng mereka baca?

Kemudian penulis teringat sebuah peristiwa beberapa tahun lalu ketika penulis masih berstatus sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri. Pada suatu waktu penulis mendapat giliran untuk mewakili kelompok penulis membacakan hasil diskusi. Sedang seriusnya penulis membaca, tiba-tiba penulis dihentikan oleh dosen penulis yang kemudian menyuruh penulis mengulangi kata terakhir dari kalimat yang telah penulis baca itu. Kata itu adalah mosque (masjid) yang penulis lafalkan /mɒskju:/ seperti pada kata barbecue /’bɑ:bɪkju:/ (panggang). Dosen penulis tersenyum lalu meminta beberapa mahasiswa lain untuk melafalkannya juga. Hampir semuanya melafalkannya sama dengan yang penulis lakukan. Menyadari kejanggalan tersebut, memori penulis kembali ke beberapa tahun lalu, awal mula penulis belajar bahasa inggris yaitu ketika penulis duduk di kelas IV Sekolah Dasar (saat itu bahasa inggris baru mulai diajarkan pada siswa kelas IV). Penulis ingat benar Guru SD penulis melafalkan kata tersebut persis dengan yang penulis lafalkan. Saat itu beliau mengajarkannya lewat lagu yang sampai saat ini pun masih penulis hafal dan penulis meyakini bahwa itu benar. Sampai pada akhirnya dosen penulis meruntuhkan hal yang penulis yakini benar selama bertahun-tahun itu. Barulah penulis tahu pelafalan yang benar dari mosque adalah /mɒsk/. Lalu setelah kejadian itu apakah kemudian penulis selalu bisa melafalkannya dengan benar? Ternyata dalam beberapa kali kesempatan penulis masih juga melafalkannya dengan keliru sama seperti yang penulis peroleh di SD dulu.

Dari ilustrasi di atas, penulis menyadari betapa luar biasanya ingatan yang melekat saat kita masih anak-anak dulu. Anak akan cepat sekali menangkap apa yang didengar dan dilihatnya, dan akan tertanam dibawah sadarnya. Pada saatnya nanti memori bawah sadar ini akan muncul kembali manakala ada pemicunya. Menurut Abdul Azis (dalam A Comparative Study On Japanese And Indonesian Elementary School, 2009) pengajaran yang diperoleh young learners akan dijadikan sebagai pengetahuan dasar (basic knowledge) dan kecakapan dasar (basic life skill) untuk kehidupan mereka di masa mendatang. Selain itu, pengetahuan dan kecakapan dasar ini akan digunakan sebagai bekal persiapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Young learners menurut Wendy A. Scott dan Lisbeth H. Ytreberg (2004:1) dapat dibagi menjadi dua level. Level pertama anak-anak berusia 5 sampai 7 tahun yang masih termasuk dalam kelompok anak usia dini (0-6 tahun) dan level kedua adalah anak-anak berusia 8 sampai 10 tahun (anak sekolah tingkat dasar). Dalam masa perkembangan anak ada periode yang biasa kita sebut dengan periode emas (golden age). Berdasarkan penelitian tiga pakar pendidikan anak dari Amerika, yakni Dr. Keith Osborn (University of Georgia), Dr. Burton L. White (Preschool Project), dan Prof. Dr. Benyamin S. Bloom (University of Chicago), tingkat perkembangan intelektual anak sejak lahir sampai usia 4 tahun mencapai 50 %. Kemudian ketika berusia 4 sampai 8 tahun bertambah 30% menjadi 80%. Dan pada usia 8 sampai 18 tahun otak berkembang hanya 20%. Dari kenyataan inilah maka dapat kita ketahui bahwa anak usia dini sedang menjalani periode emas dan periode lanjutan dalam perkembangan mereka di mana mereka telah mampu menghafal banyak sekali informasi seperti perbendaharaan kata, nada, bunyi-bunyian, dan sebagainya.

Karakteristik young learners yang belajar dari apa yang mereka pegang, lihat, dan dengar serta mereka yang belum bisa memutuskan sendiri apa yang harus dipelajari membuat mereka cenderung untuk meniru sekitarnya. Oleh karena itu para pengajar khususnya mereka yang mengajar young learners hendaknya benar-benar memperhatikan apa yang meraka ajarkan kepada anak didiknya karena pengajar/guru dianggap sebagai model ideal untuk mereka tiru. Akan sangat penting bagi para pengajar untuk memberikan pengajaran yang tepat dan benar bagi para siswanya.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dijadikan acuan untuk mengajarkan bahasa inggris khususnya pronunciation kepada young learners. Yang pertama adalah pengajar perlu memahami bahwa berdasarkan standar kompetensi young learners (level pertama) hanya diperkenalkan pada kata termasuk bagaimana cara membaca atau pronunciation-nya. Mereka belum mampu memahami frasa, apalagi memahami kalimat yang panjang. Young learners memiliki perhatian dan daya konsentrasi yang sangat pendek sehingga kegiatan menulis perlu diminimalkan. Perlu diketahui pula tahap pengembangan bahasa pada young learners dimulai dari tahap mengidentifikasian kata yang diperoleh dari proses mendengar dan berbicara kemudian dilanjutkan dengan tahap memahami dan menulis.

Hal kedua adalah menghilangkan paradigma yang menganggap guru adalah yang selalu tahu dan selalu benar. Sering kali para pengajar tidak mengetahui bagaimana melafalkan (how to pronounce) suatu kata dengan benar. Penulisngnya mereka enggan untuk mencari tahu dan menyampaikan kepada anak didiknya sesuai dengan keyakinan mereka saja tanpa mengacu pada sumber yang relevan. Hal ini sebenarnya dapat diatasi jika para pengajar tersebut mau membuka kamus. Telah banyak kamus yang telah dilengkapi dengan transcription yang layak (qualified) dan dijamin keakuratannya seperti Oxford, Longman, atau Cambridge Dictionary yang beredar di pasaran. Jika dianggap tidak praktis para pengajar pun dapat menggunakan kamus elektronik yang juga telah disertai fitur untuk mengetahui contoh pronunciation yang tepat. Mereka juga dapat menginstal aplikasi kamus tersebut dalam ponsel atau smartphone mereka. Jika masih dianggap terlalu rumit atau menghabiskan banyak waktu, para pengajar dapat mempelajari materi yang akan diajarkan sebelumnya dan menandai kata-kata yan perlu untuk dicari pronunciation-nya yang tepat terlebih dahulu. Apabila memungkinkan para pengajar dapat pula bertanya kepada native speaker (pembicara asli).

Selanjutnya menurut Wendy A. Scott dan Lisbeth H. Ytreberg (2004:3) young learners mempunyai kemampuan yang hebat dalam menyerap bahasa melalui permainan dan kegiatan lain yang menurut mereka menyenangkan. Young learners lebih cenderung menyukai kegiatan  yang melibatkan gerakan dan pengindraan. Sehingga, para pengajar dapat memperkenalkan kata sekaligus pronunciation yang tepat dengan menggunakan video, gambar atau lagu serta gerakan-gerakan kecil yang menggambarkan kata tersebut. Para pengajar sebaiknya memilih lagu atau video yang disuarakan oleh native speaker untuk diperlihatkan atau diperdengarkan kepada young learners  dibanding menyanyikan sendiri lagu tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir kesalahan sehingga young learners tahu secara pasti bagaimana pronunciation yang benar.

Pengajaran yang diterima oleh young learners akan sangat mempengaruhi perkembangannya. Pengajaran yang tepat dan benar diharapkan akan menjadi bekal berharga dan memberi kemudahan bagi para peserta didik untuk menempuh pendidikan di jenjang berikutnya. Untuk itulah diharapkan peran serta para pengajar untuk memberikan pengajaran yang layak dan tepat bagi siswa didiknya. Namun, apakah mereka berkenan untuk sedikit bergeser dari “zona nyaman” mereka demi sekedar berusaha memberikan pengajaran yang diharapkan tersebut, pada akhirnya semua kembali pada kearifan dan kesadaran masing-masing.

*Penulis adalah Guru Bahasa Inggris SMP N 1 Kec. Pudak, Ponorogo

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: