|
Silahkan Baca
Artikel, Teknik Pembelajaran

Peningkatan Hasil Belajar Matematika Dengan Menggunakan Model Think Pair Share

Oleh: Elly Susiana, S.Pd*

elly susianaKurikulum yang berlaku sekarang ini merupakan bentuk terbaru dari pengembangan dan penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang menekankan pada guru untuk semakin gencar berupaya menggairahkan kembali dunia pendidikan khususnya yang berkaitan dengan proses pembelajaran matematika. Sebagai partisipasi dalam mengembangkan kurikulum yang sedang berlaku penulis ingin menerapkan kegiatan pembelajaran, diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi guru di kelas, melalui suatu model pembelajaran yaitu pembelajaran matematika dengan model Think Pair Share. Model pembelajaran Think Pair Share memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Serta untuk meningkatakan semangat kerjasama kelompok.   

Permasalahan yang timbul dalam proses belajar mengajar matematika hasil pengamatan penulis antara laian : (1) proses pembelajaran didominasi dengan penyampaian informasi, bukan pemrosesan informasi, (2) proses pendidikan masih terpusat pada kegiatan mendengarkan dan menghafalkan, belum memahami dan menerapkan terhadap apa yang dipelajari dan upaya membangun pengetahuan, (3) proses pendidikan masih didominasi oleh guru , bukan memberikan kesempatan untuk mengembangkan dan menunjukkan kemampuan peserta didik yang beragam sehingga tercipta suasana yang demokratis.

Untuk mengatasi ketiga permasalahan di atas, penulis mencoba menerapkan model pembelajaran Think pair Share dalam pembelajaran matematika pada konsep Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, karena selama ini terdapat permasalahan dalam pembelajaran Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Dari pengalaman mengajar penulis Sistem Persamaan Linear Dua Variabelketahui bahwa ada beberapa kesulitan peserta didik dalam memahami konsep Sistem Persamaan Linear Dua Variabel yaitu: (1) peserta didika kurang memahami penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, (2) peserta didik kurang memahami penggunaan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, (3) peserta didik kurang memahami penggunaan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel dalam kehidupan sehari-hari.

Kurangnya pemahaman peserta didik terhadap konsep Sistem Persamaan Linear Dua Variabel maka dengan menggunakan model Think Pair Share ini diharapkan guru dapat menggunakan dan mengoptimalkan pengalaman kehidupan sehari-hari peserta didik untuk mengembangkan kemampuan bernalar matematika.

Untuk mendapatkan kesamaan arti pada penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Pada masing-masing siklus dilakukan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Pembelajaran matematika dengan model Think Pair Share dilakukan dengan  4 tahap dengan lamanya waktu masing-masing tahap ditetapkan oleh guru. Empat tahap tersebut yaitu : (1) Tahap 1 : Guru memberikan permasalahan. Proses think pair Share dimulai saat guru mengemukakan suatu permasalahan/pertanyaan kepada siswa dalam kelas. Pertanyaan yang diajukan m.erupakana pertanyaan terbuka yang memungkinkan dijawab dengan berbagai macam jawaban.

(2) Tahap 2 : Siswa berpikir secara individu Guru memberikan waktu agar siswa secara individu mulai memikirkan jawaban atas pertanyaan/permasakahan yang diberrikan guru. Lamanya waktu yang diberikan guru berdasarkan pada pemahaman guru terhadap kondisi obyektif siswa, sifat pertanyaan/permasalahan dan rencana pelaksanaan pembelajaran, (3) Tahap 3 : Setiap siswa mendiskusikan jawabannya dengan teman siswa yang lain Guru memberikan waktu agar siswa selanjutnya mendiskusikan jawaban yang telah dibuat secara individu dengan  seorang teman lainnya untuk mencapai kesepakatan atas jawaban pertanyaan/permasalahan tadi. Bersama-sama mereka merumuskan kembali jawaban mereka berdua berdasar hasil kesepakatan mereka terhadap pemecahan masalah yang paling mungkin,

(4) Tahap 4 : Siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas. Pada tahap ini siswa secara individu mewakili kelompok atau berdua/berempat mereka maju bersama untuk melaporkan hasil diskusinya keseluruh kelas. Pada tahap ini seluruh kelas akan memperoleh keuntungan dalam bentuk mendengarkan berbagai ungkapan mengenai konsep yang sama dinyatakan dengan cara yang berbeda oleh individu yang berbeda. Selain itu dalam penyampaian diskusi oleh suatu kelompok lebih komunikatif karena penyampaian hasil diskusi menggunakan bahasa siswa .

Sedangkan siklus 2 dilaksanakan bila pada siklus 1, masih dijumpai permasalahan oleh peserta didik. Dengan langkah-langkah perencanaan tindakan sesuai hasil analisis siklus 1. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) Observasi, Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran, sebagai upaya untuk mengetahui kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan. (2) Catatan Lapangan, dilakukan untuk mendeskripsikan kegiatan pembelajaran. Adapun tujuannya untuk memperoleh data secara obyektif, yang tidak tertulis dalam lembar observasi.

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan selama proses , yang berarti bahwa pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan ikerjakan secara intensif, yaitu sesudah meninggalkan lapangan (Moleong, 2005: 25). Selanjutnya menurut Milles dan Huberman dalam Husnul :2005:25) teknik yang digunakan dalam analisis data terdiri dari tiga tahap kegiatan yang dilakukan , yaitu :((1) meredukdi data, 2) menyajikan data, 3) menarik kesimpulan dan verifikasi.

Hasil belajar siswa dengan menggunakan model Think Pair Share sebagai berikut

 

Corel000

Dari hasil pembelajaran siklus I dan siklus II melalui model pembelajaran think pair share untuk  memperbaiki kualitas pembelajaran dapat meningkatkan proses dan hasil belajar. Proses dan hasil belajar matematika dapat meningkat dengan menggunakan model pembelajaran think pair share pada peserta didik kelas VIII D SMP Negeri 1 Siman Ponorogo. pada siklus I peserta didik yang mendapat nilai proses dibawah KKM  adalah 7,7%, dan 23,1% peserta didik yang mendapat nilai hasil belajar dibawah KKM dan  ikut remidi pada hasil belajar, berarti siswa yang tuntas belajar adalah 72,3% pada proses, dan pada hasil 76,9%,  pada siklus II  97,4% peserta didik mendapat nilai proses sesuai KKM , dan 97,4% peserta didik tuntas belajar pada nilai hasil belajar. Pada siklus II nilai terendah pada proses belajar 65 dan tertinggi 78,3 sedangkan pada nilai hasil terendah adalah 64,8dan nilai tertinggi 98,15. Pada respon peserta didik terhadap penggunaan model pembelajaran think pair share menunjukkan respon positif yaitu setuju pada penggunaan model pembelajaran think pair share

Daftar Rujukan

Moleong, J, 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung PT Rosda Karya

Herawati,S, Chotimal, Husnuldan Dwita Sari Yuyun, 2009 . Penelitian Tindakan Kelas Sebagai sarana Pengembangan Keprofesionalan Guru dan calon guru. Malang, Bayumedia Publishing.

Chotimah Chusnul , Dwita Sari Yuyun, 2007. Model-model Pembelajaran PTK

Penulis adalah guru SMPN 1 Kec. Siman Ponorogo

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: