|
Silahkan Baca
Artikel, Teknik Pembelajaran

Meningkatkan Pembelajaran Membaca Teks Descriptive

Oleh: Adistya Puspitarini, S.Pd*

MembacaBerdasarkan pengalaman penulis, ditemukan beberapa faktor penyebab siswa kurang mampu dalam membaca bahasa Inggris, yaitu : (i). Media pembelajaran  yang digunakan belum bisa memotivasi siswa untuk meningkatkan minat baca bahasa Inggris. (ii) Kurangnya kosa kata yang dimiliki siswa, sehingga siswa sulit untuk memahami teks yang dibacanya. (iii). Materi pembelajaran tidak sesuai dengan keadaan alam dan lingkungan hidup siswa, sehingga siswa tidak mudah memahaminya. (iv). Kurang menguasai  tata bahasa.

Pokok permasalahan dalam artikel ini adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa membaca teks diskriptive bahasa Inggris. Tujuan penulisan ini adalah: Meningkatkan Kemampuan Membaca Teks Descriptive melalui “Think-Share- and Shopping” sehingga siswa dapat tertarik untuk membaca teks bahasa Inggris.

Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading) dan menulis (writing). Keempat keterampilan saling berkaitan satu sama lain yang harus diajarkan, dikembangkan, diterapkan sehingga dapat digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu (Standar isi Mata Pelajaran Bahasa Inggris).

Kenyataan yang terjadi di Negara kita, meskipun pemerintah sudah berupaya memperbaruhi kurikulum, dari tahun 1975, 1994 menjadi kurikulum 2004 dan 2006. Begitu juga pembelajaran bahasa Inggris sudah diberikan sejak anak sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai Perguruan Tinggi, tapi tampaknya belum ada kesuksesan pada peserta didik dalam menggunakan bahasa Inggris dengan baik dan lancar terutama di desa-desa. Kendala yang dihadapi guru dan siswa untuk mencapai kompetensi lisan dan tulis dalam Bahasa Inggris adalah rendahnya kemampuan siswa untuk mampu membangun ide atau mengorganisasikan gagasan. Siswa tidak mampu menyampaikan idenya secara lancar dan jelas. Bahkan kadang siswa tidak mempunyai ide sama sekali ketika dihadapkan pada satu topik untuk dibahas karena rendahnya penguasaan kosa kata, kurang penguasaan tata bahasa, kurangnya sarana, dan lain-lain. Disamping itu banyak guru yang belum punya kompetensi mengajar / kwalitasnya kurang sehingga kurang bisa menyampaikannya pelajaran dengan baik. Murid-murid hanya duduk manis mendengarkan penjelasan, dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan yang akhirnya mengakibatkan terjadi kemalasan dan kebosanan untuk belajar karena tidak tertarik dengan pelajaran yang dianggapnya sangat sulit itu. Disini sebagai pendidik perlu bekerja keras, memikirkan cara-cara dan langkah-langkah yang jitu dalam proses pengajaran bahasa Inggris di dalam kelas agar mudah dipahami dan menyenangkan sehingga peserta didik tidak merasa bosan.

Belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing pada umumnya bertujuan untuk mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Oleh karena itu pembelajaran bahasa Inggris di kelas harus menciptakan keadaan agar dapat menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi (Widdowson 1978 : 365).

Target pembelajaran ‘reading’ (membaca) dalam mata pelajaran bahasa Inggris yang ditetapkan dalam Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, khususnya pada tingkat SMP adalah agar peserta didik memiliki kompetensi minimal yakni: mampu memahami makna teks tulis fungsional dan esei pendek sangat sederhana berbentuk descriptive dan procedure yang berkaitan dengan lingkungan terdekat.

Dengan Standard Kompetensi ; 11. Memahami makna teks tulis fungsional dan esai pendek sangat sederhana berbentuk descriptive dan procedure yang berkaitan dengan lingkungan terdekat. Dengan kompetensi dasar : 11.1. Merespon makna yang terdapat dalam teks tulis fungsional pendek sangat sederhana secara akurat, lancar dan berterima yang berkaitan dengan lingkungan terdekat. 11.2. Merespon makna dan langkah retorika secara akurat, lancar dan berterima dalam esai sangat sederhana yang berkaitan dengan lingkungan terdekat dalam teks berbentuk descriptive/procedure. 11.3. Membaca nyaring bermakna teks fungsional dan esai pendek dan sangat sederhana berbentuk descriptive/ procedure dengan ucapan, tekanan dan intonasi yang berterima.(Permendiknas no. 22 tahun 2006)

Adapun solusi yang ditempuh oleh penulis, untuk memecah masalah tersebut melalui suatu upaya nyata untuk membantu siswa dalam meningkatkan kemapuan membaca teks descriptive, yakni dengan menggunakan methode ” Thi-Sha-Sho (Thinking, Sharing and Shopping)” dalam pembelajaran ‘Membaca’.

Berfikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal. Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.

Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.

Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : bahasa ilmiah, logika dan matematika, logika dan statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif sehingga mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika dan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari konsep-konsep yang berlaku umum.( http://dewi.students-blog.undip.ac.id/tag/berfikir/4/1/2011)

 “Hasil yang di dapat dari kegiatan pembelajaran; Siswa merasa senang dengan dibentuknya kelompok-kelompok dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru karena mereka bisa sharing dengan teman dalam membagi tugas, sehingga terasa ringan, khususnya dalam mencari kata-kata sulit, menganalisa kata kerja yang dihadapinya. Begitu pula dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan, mereka bisa saling memberi masukan untuk mecari jawaban yang benar, sehingga mereka bisa enjoy belajar bahasa Inggris dan tidak berprasangka bahwa “bahasa Inggris itu menakutkan (sulit)

Hasil yang di dapat lainnya dari kegiatan pembelajaran; Guru merubah kegiatan kelompok menjadi berpasangan untuk menghindari siswa yang malas, hanya ikut-ikutan/ tidak mau bekerja. karena disini guru merasa yakin kalau siswa sudah faham dengan materi yang diajarkan tetapi masih perlu banyak latihan-latihan. Di sini teks yang dibaca lebih banyak dan langsung ditunjukkan generic structure-nya fokusnya dalam penggunaan kata sifat dan kata kerja dalam teks descriptive. Sehingga dalam pembelajaran membaca tersebut mereka dapat betul-betul faham dengan teks descriptive dan memperkaya kosakata mereka.

Share maksudnya berbagi. Model pembelajaran ini termasuk dalam Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok, presentasi kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.( Nur Muhammad, 2004),

Kegiatan yang menyenangkan adalah belanja atau shopping bahkan sebagian menganggap belanja adalah kegiatan rekreasi atau penghiburan diri dari perasaan capek dan mungkin juga stress dari segala permasalahan hidup. “Shopping”, ini juga bisa dilakukan dalam pembelajaran bahasa yaitu berbelanja Vocabulary atau Perbendaharaan Kata, maksudnya siswa disini diminta membaca teks dari pekerjaan-pekerjaan temannya yang sudah ditempel di dinding dan menuliskan informasi yang mereka dapat sesuai dengan kolom data yang diberikan guru. Mereka juga bisa menuliskan kata-kata sulit yang digunakan, sehingga banyak kosa kata yang dikuasai. Karena semakin banyak kosakata yang dimiliki semakin mudah mereka untuk berkomunikasi. “More Money You have, more things you can buy. More vocabulary you have, more things you can say”. (Kusmayanto Kadiman, , 2009) maksudnya semakin banyak yang yang kita punya semakin banyak yang bisa kita beli, semakin banyak perbendaharaan kata yang kita punyasemakin banyak pula yang dapat kita katakan” tentu yang dapat kita katakan dalam bahasa Inggris.

Metode Thi-Sha-Sho (Think-Share and Shopping) dalam meningkatkan ketrampilan membaca teks descriptive. “ adalah metode yang sangat efektif yang digunakan dalam pengajaran membaca teks deskriptive, sehingga untuk peneliti yang lain bisa mencoba metode ini dan mencoba mengkreasikan metode yang lain yang lebih baik dengan dipadu dalam penggunaan IT dalam proses pembelajaran 

*Penulis adalah Guru bahasa inggris SMPN 4 Kec. sawoo

Referensi:

Arifin, Z, 2000, Methodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Lentera Cendikia Pratama Bandung

Departmen Pendidikan dan Kebudayaan. 2008. Petunjuk Tehnis Pengembangan  Silabus dan Contoh /Model Silabus SMP/MTS. Jakarta: BSNP.

Dewi, 2011, Berfikir, http://dewi.students-blog.undip.ac.id/tag/berfikir/4/1/2011,  Diakses 4/1/2011, 15.04

Kemmis and Taggart, (1993). Action research: A short Modern History. Australia: Deakin University.

MacIsaac, D.1996. An Introduction to Action Research, (online), http://www.physics.nau.edu/~danmac, diakses 25/08/ 2009

Nur Muhammad, 2004, Pembelajara Kooperatif, Departemen Pendidikan Nasional, Lembaga Penjamim mutu Pendidikan Jawa Timur.

Pusat Bahasa Depdiknas, (2005). Arti Membaca. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Sandjaja, 2005, (www.unika.ac.id.02/05/05)

Some souls wish the best get the best , Monday,APRIL 2010,

(http://somesoulsh.blogspot.com/2010/04/descriptive-text.html,  diakses 12/2/2011, 13.30 )

Tampubolon, 1993, Pengertian Membaca, http://matheduunila.blogspot.com/2009/10/pengertian-membaca.html

Widdowson, (1978). Handbook in Reseach and Education. San Diego California: Edit Publisher.

Zahrowi Ahmad, 2009, Descriptive Text, http://ahmadzahrowi.wordpress.com / 2009/03/16/descriptive-text, diakses 4/1/11, 9.25.

…………., Pengertian membaca. http://mathedu unila.blogspot.com/2009/10/ Pengertian membaca, html, diakses 4/1/2011, 0845.

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: