|
Silahkan Baca
Artikel, Managemen Sekolah

Manajemen Sekolah Berbasis Kejujuran

Oleh: Sri Bidayati*

Masih jujurkah siswa-siswi kita? Bisakah kejujuran dibudayakan di sekolah? Bagaimana caranya? Tulisan ini diawali dengan sebuah ilustrasi bahwa di suatu sekolah disediakan koperasi kecil untuk memenuhi kebutuhan siswa. Di antaranya buku tulis, pensil, penghapus, dan lain-lainnya. Siswa boleh membeli dengan mengambil sendiri, membayar sendiri,serta mengambil sisa pembeliannya. Pada bulan pertama ternyata ada keuntungan dari penjualan tersebut. Namun pada bulan kedua ternyata rugi. Suatu hari para guru pengurus koperasi melakukan pengecekan uang dan barang. Pagi itu di almari terlihat ada uang lima ribu rupiah. Tapi siangnya tidak ada uang sama sekali, padahal barang ada yang laku. Di hari berikutnya guru mengawasi secara sembunyi-sembunyi, ternyata memang ada seorang siswa yang mengambil barang, dan juga mengambil uang, Anehnya lagi setelah ditanya siswa ini sempat berbohong juga.

Di lain hari, terdengar suara ribut di suatu kelas, semua siswa kehilangan pensil dan penghapus. Setelah dicek semua tas siswa kelas itu, ada yang tasnya penuh dengan pensil dan penghapus. Setelah ditanya pemilik tas bisa juga berbohong. Inikah gambaran kejujuran siswa-siswi kita? Apakah hal ini akan dibiarkan begitu saja? Tentu tidak. Dengan kejadian ini, semakin kuat keinginan untuk menjadikan sekolah berbasis kejujuran.

Ulasan ini akan membahas tentang bagaimana sekolah berupaya untuk menjadikan kejujuran sebagai prioritas budaya di sekolah. Upaya tersebut dirangkai dalam sebuah program sekolah yang diberi sebutan manajemen sekolah berbasis kejujuran. Manajemen sekolah adalah proses, dalam arti serangkaian kegiatan yang diupayakan kepala sekolah bagi kepentingan sekolahnya. Segala proses pendayagunaan semua komponen, baik komponen manusia maupun non manusia, yang dimiliki sekolah dalam rangka mencapai tujuan secara efisien. Sedangkan tujuan manajemen sekolah adalah guna membantu pencapaian visi, misi, tujuan tahunan dan program-program sekolah.

Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah manajemen berfungsi (1) merencanakan, (2) mengorganisasikan, (3) mengarahkan, (4) mengkoordinasikan, (5) mengawasi, (6) mengevaluasi. Manajemen berbasis sekolah memberikan kewenangan penuh kepada pihak sekolah untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengawasi, dan mengevaluasi komponen-komponen pendidikan sekolah yang bersangkutan. Komponen-komponen tersebut meliputi input siswa, kurikulum, tenaga kependidikan, sarana-prasana, dana, lingkungan, dan kegiatan pembelajaran. (http://staff.uny.ac.id/sites/default /files/MANAJEMEN%20SEKOLAH.pdf, diakses tanggal 3 Maret 2013, jam 10.30.)

Sedangkan kejujuran itu sendiri merupakan kata yang apabila diucapkan terasa mudah tetapi sulit untuk diaplikasikan. Kenapa sulit diaplikasikan? padahal kita tahu bahwa jujur adalah kunci dari segala permasalahan yang ada di dunia ini. Jawabnya adalah karena kejujuran adalah bahasa hati, kejujuran adalah bahasa iman, dan kejujuran adalah obat yang pahit bagi manusia.Hati itu tidak pernah bohong, dia selalu berbicara tentang kebenaran. Pengertian kejujuran yang paling sederhana adalah tidak berbogong. Tetapi tidak hanya itu saja, arti atau makna kejujuran adalah kata-kata yang mengandung tiga unsur yaitu (1) kebenaran, kejujuran adalah apa yang anda akan katakana adalah benar, (2) kebaikan, kejujuran adalah apa yang akan anda katakana adalah sesuatu yang baik, dan (3) kegunaan,  kejujuran adalah apa yang akan anda ingin beritahukan adalah berguna. Jadi pengertian kejujuran atau makna kejujuran yang menyeluruh adalah jika apa yan g anda beritahukan adalah hal yang benar, baik, dan berguna.( http://rausan21.blogspot.com/2012/04/pengertian-kejujuran.html, diakses tanggal 3 Maret 2013, jam 10.30.) Kejujuran adalah kunci kesuksesan. Kejujuran itu ibaratnya sebagai pintu masuk pergaulan dalam bisnis. Jika kejujuran itu hilang, berarti pintu masuk pergaulan dalam bisnisnya rusak. Dan untuk memperbaikinya sangatlah susah.

Melihat definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen sekolah berbasis kejujuran adalah serangkaian kegiatan yang diupayakan kepala sekolah dengan mendayagunakan semua komponen, baik komponen manusia maupun sarana serta prasarana, yang dimiliki sekolah dalam rangka mencapai tujuan secara efisien yaitu mewujudkan  sekolah  berbasis kejujuran.

Dalam hal manajemen sekolah berbasis kejujuran ini, kepala sekolah sebagai pemimpin professional mempunyai andil yang sangat menentukan untuk keberhasilannya. Dalam buku kerja yang diterbitkan Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kementerian Nasional tahun 2011 dikatakan bahwa salah satu ciri-ciri kepala sekolah professional adalah memiliki kejujuran dan integritas pribadi. Di samping itu disebutkan pula bahwa sebagai pemimpin pendidikan di sekolah, kepala sekolah memiliki tanggung jawab sepenuhnya untuk mengembangkan seluruh sumber daya sekolah. Efektifitas kepemimpinan kepala sekolah tergantung kepada kemampuan bekerjasama dengan seluruh warga sekolah, serta kemampuannya mengendalikan pengelolaan sekolah untuk mewujudkan sekolah dengan pembelajaran  bermutu. Iklim, suasana, dan dinamika sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam peningkatan mutu pendidikan sesuai visi dan misinya.

Memperhatikan penjelasan di atas, kepala sekolah sebagai penanggung jawab di sekolah mengangankan adanya sekolah dengan kejujuran sebagai kharakter yang harus dibudayakan.  Permasalahan yang muncul sekarang adalah mampukah sekolah menyusun suatu program yang mampu mewujudkan sekolah yang berbasis kejujuran? Masalah berikutnya, siapa sajakah yang akan terlibat dalam pelaksanaan program tersebut? Selanjutnya mampukah sekolah melaksanakan program tersebut? Bagaimana cara melaksanakan program tersebut agar tidak mengganggu pembelajaran? Dan harapannya adalah justru program ini mendukung keberhasilan sekolah dalam menjadikan sekolah sebagai pelopor kejujuran.

Tantangan dalam pelaksanaan program ini adalah, (1) rata-rata sekolah belum memiliki ruangan khusus untuk koperasi sehingga terpaksa masih bercampur dengan ruangan lain, (2) jumlah guru yang ada adalah sesuai dengan jumlah kelas yang ada sehingga tidak ada petugas khusus yang mengurusi koperasi, (3) Lingkungan masyarakat di sekitar siswa  kurang mendukung untuk pembelajaran kejujuran, termasuk media masa yang sekarang ini sudah tiada batas  terkadang merusak kejujuran siswa.

Kemungkinan solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan cara (1) Program tentang manajemen sekolah termasuk rencana penyediaan ruangan khusus untuk koperasi sekolah, menyisipkan materi kejujuran dalam mata pelajaran lain disusun dengan cermat, melibatkan semua elemen yang ada di sekolah, baik itu pendidik, tenaga kependidikan di sekolah, juga melibatkan pertimbangan dari komite sekolah sekaligus mengadakan sosialisasi tentang program tersebut kepada semua elemen yang ada di sekolah, termasuk  kepada siswa, (2) Mengikutsertakan siswa dalam program ini dengan menjadikan siswa sebagai petugas yang dijadwalkan, sehingga tugas pengurus koperasi dapat terbantu (3) Untuk mengurangi pengaruh negatif lingkungan yang kurang mendukung hendaknya selalu diadakan komunikasi dengan orang tua siswa, dan di sekolah hendaknya guru, kepala sekolah, juga tenaga kependidikan yang lain harus mampu memberikan teladan yang nyata untuk siswa, selalu menyelesaikan permasalahan tentang kejujuran secara tuntas, menciptakan suasana lingkungan sekolah yang membudayakan kejujuran, seperti misalnya menempatkan slogan-slogan, tulisan-tulisan, gambar-gambar yang mampu mendorong dan mengingatkan warga sekolah agar berlaku jujur.

Bertolak dari demikian pentingnya arti kejujuran, besarnya tantangan-tantangan yang dihadapi sekolah untuk mewujudkan impian itu, satu hal yang perlu perhatian adalah kemauan kuat dari pihak sekolah untuk berjuang sekuat tenaga agar nantinya akan tercipta bangsa yang bebas dari korupsi, bebas dari segala bentuk kolusi dan nepotisme. Sebab bentuk- bentuk itu adalah hasil dari ketidak jujuran yang berkembang sejak dini tidak terarahkan. Kesimpulan dari akhir artikel ini , kejujuran bisa dibudayakan di sekolah dengan suatu upaya yang maksimal dari semua komponen yang ada di sekolah dengan manajemen yang dikelola secara professional.

Melalui manajemen sekolah berbasis kejujuran, diharapkan ilustrasi di depan tidak terjadi untuk kedua kalinya. Semoga upaya  ini  mampu memberikan kontribusi untuk pendidikan kharakter anak-anak kita tercinta di masa sekarang dan masa yang akan datang. Amiin.

                                *Penulis adalah Kepala SDN 2 Keniten Kec.Ponorogo

 DAFTAR RUJUKAN :

http://rausan21.blogspot.com/2012/04/pengertian-kejujuran.html, (diakses tanggal 3 Maret 2013, jam 10.30.)

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/MANAJEMEN%20SEKOLAH.pdf,diakses (tanggal 3 Maret 2013, jam 10.30.)

Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan Nasional, Buku Kerja Kepala Sekolah, Jakarta.2011.

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: