|
Silahkan Baca
Artikel, Managemen Sekolah

Manajemen Mutu Terpadu Dan Pembangunan Trust Masyarakat

Oleh:  Alminiati

alminiatiMasalah Pendidikan di Indonesia selama ini memang belum menemukan rumus yang tepat dalam memodifikasikan Sistem Pendidikan. Rumusan tersebut baik yang bersifat prinsip maupun wawasan idealisme ke depan. Salah satu contoh belum tuntasnya output secara efektif dari  hasil pendidikan yang telah ditempuh oleh peserta didik. Hasil pendidikan dapat diinterprestasi dengan bentuk respon masyarakat.

Masyarakat sudah mulai dapat membedakan mana sekolah yang berorientasi pada masa depan dengan yang tidak. Sekolah-sekolah yang dikelola secara  alami tanpa ada inovasi-inovasi baru,  lambat atau cepat pasti akan ditinggal oleh masyarakat. Sebaliknya lembaga pendidikan yang berorientasi pasar dan kebutuhan masyarakat pasti akan dicari, meski harus mengeluarkan biaya. Pemerintah telah menggulirkan sekolah-sekolah gratis khususnya untuk sekolah dasar, akan tetapi mengapa masih ada masyarakat yang memilih untuk mengeluarkan biaya  dalam menyekolahkan putra-putrinya. Ini berarti orangtua/masyarakat tidak terlalu mempermasalahkan biaya sekolah. Yang terpenting  adalah bagaimana sekolah tersebut mampu melayani kebutuhan orangtua atau masyarakat.

Sebenarnya dengan diberlakukannya kurikulum 2006 oleh pemerintah, sekolah dapat menentukan keunggulan-keunggulan pada lembaganya. Hanya saja ada garis-garis besar yang harus dipatuhi oleh penyelenggara sekolah  yakni aturan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dengan sistem desentralisasi yang telah disahkan pemerintah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005  (PP 19/2005) dengan mengacu kepada Standar Isi (SI) yang telah disahkan Menteri Pendidikan Nasional dengan Permendiknas No. 22 tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah juga disahkan Menteri melalui Permendiknas No. 23 tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006 serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Kenyataanya masih banyak sekolah-sekolah yang merasakan keberatan untuk mengimplementasikan peraturan pemerintah tersebut, akhirnya KTSP dibuat secara seragam dan bersama-sama melalui musyawarah kelompok kerja sekolah/madrasah. Sehingga nyaris tidak ada bedanya antara sekolah satu dengan lainnya dalam proses pelayanan terhadap orangtua/masyarakat. Agar sekolah dicari dan diminati masyarakat kunci pokoknya adalah bagaimana sekolah tersebut mampu melakukan inovasi-inovasi positif yang berbeda dengan sekolah lainnya. Artinya sekolah mempunyai ciri khas yang dapat dijadikan program unggulan dengan mendasarkan pada kebutuhan masyarakat.

Kebanyakanya kepala sekolah tidak berani untuk melakukan itu semua, disebabkan sarana dan prasarananya tidak memadai, utamanya dana penyelenggaraan pendidikan. Sesungguhnya jika kepala sekolah mau menerapkan manajemen pendidikan terpadu  atau MBS  tidak ada istilah kekurangan biaya, karena dengan manajemen tersebut biaya pendidikan ditanggung bersama antara sekolah, pemerintah, dan orangtua/stakeholders. Diasumsikan tidak berjalannya manajemen tersebut antara lain disebabkan oleh: 1) tidak ada keberanian dari kepala sekolah untuk melibatkan orangtua dan masyarakat dalam mengelola sekolah; 2) kurangnya kemampuan kepala sekolah dalam menjalin kerjasama dengan stakeholders; 3) kurangnya pemahaman masyarakat terhadap tanggungjawab pendidikan; 4) Persepsi orangtua dan masyarakat  tentang tanggung jawab pendidikan sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah; 5) bagi sekolah-sekolah di bawah yayasan, masih banyak pengurusnya yang menyerahkan sepenuhnya kepada kepala sekolah mengenai hidup dan matinya lembaga.

Sebagaimana banyak terjadi di sekitar kita, di mana sekolah  dahulunya sudah ditinggalkan masyarakat dan kehabisan murid, bahkan hampir ditutup, tetapi dengan semangat yayasan dan sekolah untuk bangkit kembali. Hal itu terjadi karena diterapkannya konsep manajemen pendidikan terpadu (Total Quality Manajement) akhirnya sekolah tersebut kembali hidup dan berkembang pesat serta masyarakat mempercayakan pendidikan putra putrinya untuk bersekolah, sehingga menjadi sekolah pilihan masyarakat,  walaupun harus dengan membayar dengan cukup mahal.

Langkah-langkah apa yang dilakukan sekolah dalam membangun trust masyarakat kembali, sehingga sekolah  menjadi alternatif pilihan masyarakat ? Sebagai gambaran tentunya kalau sekolah itu bermutu tentu diminati, dan mendapat kepercayaan masyarakat. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah kepala sekolah sebagai manajer perlu menerapkan pendekatan Manajemen Mutu Terpadu (MMT) yang diterjemahkan dari Total Quality Management (TQM). Pendekatan manajemen ini sukses di bidang industri, dan sejak tahun 1980-an mulai diterapkan dalam bidang pendidikan di Negara maju dan ternyata berhasil memuaskan.

Manajemen berasal dari kata “ to manage “ yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen itu, jadi manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan.( Hasibuan, 2004: 1) Manajemen Mutu Terpadu ( Total Quality Management) dalam kontek pendidikan merupakan sebuah filosofi metodologi tentang perbaikan secara terus menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institutsi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan,, dan harapan pelanggan, saat ini  maupun masa yang akan datang. ( Edward Sallis, 2006:73).

Manajemen Mutu Terpadu (MMT)

MMT  adalah pendekatan manajemen yang memusatkan perhatian pada peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu komponen terkait yakni siswa, guru, kurikulum, dana, sarpras, dan masyarakat. Partisipasinya dalam pengembangan program-program pendidikan di sekolah, maka mutu komponen tersebut menjadi fokus perhatian kepala sekolah.

Peran manajemen mutu terpadu menurut Dr. W. Edward Deming (Arcaro, 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu’’. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a) Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai; b) Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa, bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi; c) Asal diterapkan secara ketat, penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif.

Dr. Joseph M . Juran (Arcaro, 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . Dr. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Seperti halnya Deming, Juran adalah ahli statistik terpandang. Juran menyebut mutu sebagai ‘’tepat untuk pakai’’ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah ‘’mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat.

Seperti halnya Deming, Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. Beberapa pandangan Juran (Arcaro, 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a). Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir; b). Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan, bukan program sekali jalan; c). Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator; d). Pelatihan, misal merupakan prasyarat mutu. e). Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan.

Karakteristik Sekolah Bermutu Terpadu menurut Arcaro (2006:38-39) antara lain: Fokus pada kostumer, keterlibatan total, pengukuran, komitmen dan perbaikan berkelanjutan. Sekolah memiliki kostumer internal dan eksternal. Kostumer internal adalah orang tua, siswa, guru, administrator, staf dan dewan sekolah yang berada di dalam sistem pendidikan. Sedangkan kostumer eksternal adalah masyarakat, perusahaan, keluarga, militer dan perguruan tinggi yang berada di luar organisasi, namun memanfaatkan output proses pendidikan.
Keterlibatan total, setiap orang harus berpartisipasi dalam transformasi mutu. Mutu bukan hanya tanggung jawab dewan sekolah atau pengawas. Mutu menuntut setiap orang memberi kontribusi bagi upaya mutu.

Peran Manajer dalam menangani Kegagalan

Apakah kegagalan mutu disebabkan oleh sebab-sebab khusus, atau sebab-sebab umum. Tidak ada gunanya memberikan pelatihan motivasi kepada para karyawan, jika memang masalah yang dihadapi tidak dapat diselesaikan oleh sekedar motivasi. Terlalu sering kesalahan dan masalah yang dilimpahkan sebagai kesalahan individu, di saat penyebab sejati kesalahan tersebut adalah kesalahan kebijakan dan system.

Jika para manajer betul-betul memperhatikan mutu secara serius, maka mereka harus memahami sebab-sebab kegagalan mutu. Menurut Daming, sebab-sebab umum rendahnya mutu pendidikan dapat disebabkan oleh beberapa sumber yang mencakup  desain kurikulum yang lemah, bangunan yang tidak memenuhi syarat, lingkungan kerja yang buruk, system dan prosedur yang tidak sesuai, jadwal kerja yang serampangan, sumberdaya yang kurang, dan pengembangan staf yang tidak memadai.

Jika kesalahan dan kegagalan tersebut diidentifikasi sebagai akibat dan masalah system, kebijakan, atau sumberdaya, maka hal tersebut adalah sebuah kegagalan sebab umum. Implikasi manajemennya adalah sebab-sebab tersebut harus dihilangkan dan system serta prosedurnya harus disusun, ditetapkan dan dikembangkan kembali. Hal ini mungkin memerlukan perubahan kebijakan atau pelatihan-pelatihan baru.

Mengetahui sebab kegagalan mutu dan memperbaikinya adalah tugas kunci seorang manajer. Deming dengan sangat jelas menyatakan bahwa dalam sebagian besar kasus, ketika terjadi suatu kesalahan, staf bukan pihak yang serta merta harus disalahkan. Namun kenyataannya, seringkali para guru menjadi kambing hitam atas kegagalan yang terjadi dalam system pendidikan. Di dalam literature TQM, disebutkan bahwa pengembangan mutu yang berhasil membutuhkan komitmen abadi pihak manajemen. Dalam istilah praktisnya, komitmen adalah kesadaran manajemen bahwa mereka adalah pihak yang bertanggung jawab untuk menemukan solusi bagi sebuah kesalahan.

Membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan kita diperlukan keberanian pihak-pihak pemangku pendidikan , utamanya top leader yang memegang peranan penting terhadap kemajuan sekolah. Kunci kemajuan sekolah faktor utama adalah pola manajemen kepala sekolah itu sendiri. Kreatifitas, inovasi, berani mencoba, kedisiplinan dan tanggungjawab utama diperlukan. Sekolah yang baik karena dipimpin oleh kepala sekolah yang baik. Murid yang baik karena diajar oleh guru yang baik, begitu seterusnya saling mendukung. Sebagai contoh seorang guru yang baik datang ke sekolah sebelum murid datang, dan kepala sekolah yang baik sudah berada di sekolah sebelum siswa dan guru datang. Pembiasaan dan budaya seperti ini walaupun termasuk hal yang kecil, namun sangat berdampak terhadap image masyarakat terhadap sekolah kita. Memang tidak gampang, namun kalau semua pihak menyadari, memiliki komitmen yang tinggi untuk bersama- sama membenahi sekolah untuk kemajuan, maka tidak ada kata berat atau susah dalam mewujudkannya.

Penerapan manajemen mutu terpadu dalam membangun trust /kepercayaan masyarakat terhadap sekolah bermula dari ditemukannya penyebab kegagalan dan kesalahan dalam mengelola lembaga pendidikan/ sekolah. Semua pihak secara totalitas mengkaji, mendiskusikan dan mencari pemecahan masalaha. Kita hindari pemikiran untuk mencari kambing hitam dan menghabiskan energi otak hanya untuk  menyalahkan orang lain, atau mencari-cari kesalahan orang lain, akan tetapi mari segera merapatkan barisan untuk memperbaiki, membenahi dan merubah langkah-langkah  mencapai kemajuan sekolah sehingga sekolah menjadi diminati oleh masyarakat.

Penulis adalah Kamad MIN Bangunrejo dan  pengurus PGRI Cabang Khusus Kemenag Kab. Ponorogo

 DAFTAR REFERENSI

Arcaro, Jarome S. 2006. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan. Yogyakarta.

BSNP, 2006, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

Edward Sallis, ( 2006 ) Total Quality Management, Alih Bahasa, Ahmad Ali Riyadi. Ircisod, Yogyakarta.

Edward Sallis, 2008, Total Quality management in Education, Yogjakarta, ERCiSod.

Nasution.M.N. ( 2004 ) Manajemen Mutu Terpadu, Ghalia Indonesia.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: