|
Silahkan Baca
Laporan Utama

Menegakkan Empat Pilar Kebangsaan Yang Mulai Goyah

Laporan utama:

  • Oleh: Agus Prasmono
  • Terbit pada: Volume 6,Nop.2012

pimpinan

Jumat, 7 September 2012 yang lalu PGRI Kabupaten Ponorogo bekerja sama dengan MPR RI dalam hal ini diwakili oleh Ir. Heri Ahmadi anggota DPR/MPR RI yang putra daerah Ponorogo, mengadakan sosialisasi penguatan empat pilar kebangsaan di gedung PGRI  desa Madusari kecamata Siman. Keempat pilar kebangsaan tersebut adalah NKRI, Pancasila, UUD ’45 dan Bhineka Tunggal Ika. MPR RI saat ini sangat getol mensosialisakan hal ini karena dilandasi oleh maraknya ancaman terhadap eksistensi NKRI dewasa ini yang semakin tajam di berbagai daerah.

Dalam sambutan awal H. Sumani, M.Pd. Ketua PGRI Kabupaten Ponorogo sekaligus Ketua Panitia mengatakan bahwa para Guru (PGRI) siap menjadi tiang utama dalam penegakan NKRI serta membangun jiwa nasionalisme di kalangan pelajar dan generasi muda yang kian rapuh. Untuk itu PGRI harus menjadi organisasi yang kuat dan bermartabat serta mampu memperjuangkan hak para guru sendiri selain memperjuangkan yang lainnya. Dengan menjadi organisasi yang tangguh ini maka diharapkan akan semakin bisa berjuang untuk keselamatan NKRI dengan segala pilar kebangsaannya tersebut.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 250 anggota PGRI, terdiri dari seluruh pengurus PGRI kabupaten, pengurus cabang yang setiap cabang lima orang dan SMP/SMA/SMK/MA masing-masing mengirim seorang guru PKn. Sehingga acara ini tak ubahnya reuni para alumnus PKn atau setidaknya mirip MGMP PKn.

Pada kesempatan berikutnya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo Drs. Supeno, M.M. yang secara resmi membuka acara tersebut menyampaikan rasa salut dan terima kasih yang tak terhingga kepada PGRI atas terselenggaranya  kegiatan tersebut. Dinas Pendidikan merasa terbantu dengan kegiatan PGRI  semacam ini. Selain itu dia juga berharap para guru menjadi pelopor di manapun di berada dalam setiap kegiatan yang bertujuan menjaga keutuhan dan eksistensi NKRI. Apalagi dewasa ini Pancasila semakin dikesampingkan sebagai ideologi dan pandangan hidup bangsa, malah semakin sering ditinggalkan dalam setiap kegiatan berkehidupan berbangsa dan bernegara. Supeno juga merasa sangat berkepentingan dengan acara tersebut, namun sayang karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkannya, Kepala Dinas yang memulai karir dari Guru SD ini terpaksa tak bisa mengikuti acara tersebut sampai akhir.

heri

Acara semacam ini, sebenarnya menurut Heri Ahmadi sudah lama dilaksanakan, namun baru kali ini berkesempatan di Ponorogo yang sekaligus sempat menggandeng PGRI untuk pelakasanaannya. Dengan demikian, menurutnya, akan tepat sasaran karena selama ini para guru yang harus dan semestinya menjadi pelopor terhadap kegiatan yang bertujuan menjaga eksistensi NKRI ini. Kegiatan ini sudah dilaksanakan semenjak tahun 2004 yaitu ketika Amandemen UUD 1945 selesai dilaksanakan, sehingga perlu disosialisakan kepada masyarakat tentang  perubahan tersebut.

Selama ini sudah 4 kali diadakan amandemen dan penyempurnaan UUD 1945 semenjak tahun 2000 sd. 2004. Namun masyarakat belum banyak yang tahu tentang perubahan Undang-undang tersebut. Hampir semua pasal berubah kecuali pembukaan yang harus tetap dijaga karena di situlah tujuan didirikan republik ini termuat. Selain itu Pembukaan UUD 45 merupakan Roh dari setiap ayat yang ada di dalamnya. Dalam pembukaan tersebut ada empat tujuan didirikan republik ini yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut menjaga ketertiban dunia.

Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa maka pemerintah bertekad mengalokasikan dana APBN 20 persen atau lebih untuk anggaran pendidikan dengan nilai tidak kurang dari 130 Triliun, (hitung sendiri angka nolnya). Walaupun demikian, kenyataan yang ada menurut Heri Ahmadi, dana untuk pendidikan yang turun sampai ke lembaga pendidikan tidak ada 40 % dari dana yang tersedia.  Hal ini tidak lepas dari sistem birokrasi yang masih perlu pembenahan. Dari alokasi dana tersebut, 56 % dipakai untuk gaji dan tunjangan pendidik. Dengan besarnya tunjangan ini diharapkan PGRI bisa memperjuangkan hak-hak anggotanya sekaligus memperjuangkan kualitas para guru, sehingga bisa menjadi pelayan masyarakat yang terbaik sekaligus membentuk generasi yang cerdas dan berkualitas dengan iman dan taqwa. Sisa anggaran lainnya untuk operasional pendidikan dimana pemerintah baru membebaskan biaya sampai pendidikan dasar 9 tahun (wajar 9 tahun). Bahkan termasuk Pembiayaan Sekolah RSBI sekalipun menurutnya itu semua menjadi tanggungjawab pemerintah khususnya Pemerintah Propinsi. Namun selama ini kelihatannya pemerintah propinsi belum mengalokasikan dana yang cukup untuk RSBI tersebut sehingga pemenuhan kebutuhan dana masih dibebankan kepada masyarakat lagi.

Demikian juga dalam ikut serta menjaga perdamaian dunia yang termaktub dalam pembukaan UUD 45, Indonesia selalu berperan serta seperti mengirim pasukan perdamaian dunia (pasukan garuda), membantu negara lain yang mengalami kesulitan dan musibah sekalipun di Indonesia masih sering kekurangan dan dilanda musibah juga. Ini merupakan konsekwensi logis dari dari tujuan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan tujuan itu tidak akan dirubah sampai kapanpun senyampang merah  putih masih berkibar di republik  ini.

peserta

Disisi lain menurut Heri Ahmadi, amandemen UUD 45 yang belum banyak diketahui masyarakat ini memang bersifat penyempurnaan dimana dalam UUD sendiri ada peluang untuk disempurnakan itu sekaligus adanya peluang terbuka untuk merubahnya mengingat UUD 45 sendiri masih sangat sederhana sehingga kurang relevansi dalam perubahan berkehidupan berbangsa yang terus mengalami perkembangan sesuai dengan kontelasi jaman sekarang ini.  Pasal yang sederhana misalkan pasal satu dimana disebutkan bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR. Dalam makna ini akhirnya terjadi over akting MPR yang serta merta menjatuhkan Presiden beberapa kali termasuk Sukarno yang sudah diangkatnya menjadi Presiden Seumur Hidup sekaligus juga dijatuhkan sendiri oleh MPRS waktu itu. Ironis. Demikian itu tragedi ini hampir terulang terhadap Suharto seandainya Suharto tidak segera mengundurkan diri sebelum diundurkan oleh MPR. Untung Suharto sangat cerdas dengan pengalaman politiknya  memegang rezim selama 32 tahun.

Tragedi lain juga dialami oleh Gus Dur yang dikenal mundur dalam keadan bercelana pendek saat pamitan di depan istana negara. Dengan tragedi kenegaraan semacam ini maka pasal tersebut termasuk pasal yang krusila untuk dibahas dan dirubah yang akhirnya kedaulatan dipegang oleh rakyat langsung dan diberikan oleh rakyat kepada presiden terpilih langsung oleh rakyat bukan oleh MPR. Dengan demikian Presiden tidak bertanggung jawab lagi kepada MPR. Kepada rakyatlah dia bertanggungjawab dan kalau ada pelanggaran baru di proses secara hukum dengan DPR sebagai penuntutnya serta MA sebagai hakimnya. Baru keputusan dikembalikan kepada MPR setelah MA menyatakan presiden bersalah. Itupun bukan perkara yang mudah, yang paling gampang wujud pertanggungjawaban tadi dengan rakyat tidak memilihnya di periode berikutnya.

Dengan perubahan itu UUD 45 menjadi UUD yang paling modern di dunia dengan mengakomodir semua pemangku kepentingan di Republik ini serta memperlakukan warga negara secara adil dan bijaksana tidak ada diskriminasasi di dalamnya. Sekaligus UUD 45 menjadi UUD yang paling religius di dunia. Dengan demikian UUD ini betul-betul menjadi pelindung  bagi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Demikian juga dengan anggaran Pendidikan 20 % menurut Heri Ahmadi itu adalah amanat UUD, sehingga apabila ada daerah kabupaten/propinsi yang tidak mengalokasikan sebesar itu, merupakan pengingkaran terhadap Republik itu sendiri. Hal ini barangkali seandainya Suharto masih ada bisa dikategorikan sebagai subversi atau merongrong kewibawaan pemerintah.

Pada saat tanya jawab, Lamidi dari SD Sawoo memberikan tesisnya bahwa berkurangnya nasionalisme ini salah satunya disebabkan oleh lemahnya pelajaran sejarah di sekolah. Hal ini dibenarkan oleh Heri Ahmadi sehingga guru sejarah diharapkan memiliki materi yang betul bukan materi sejarah yang kadang kala menyesatkan dengan memberi contoh yang tidak baik bukan kebaikan sesorang pemimpin yang ditonjokan. Memang dalam sisi manusia ada plus dan minusnya, namun plusnyalah yang harus dijadikan bukti pendukung dan contoh terhadap terhadap peserta didik yang memang masih sangat butuh keteladanan ini. Hal ini didukung oleh Sugeng Pentol dari SMA 2 Ponorogo yang berharap Pelajaran PKn di Ujian Nasionalkan guna standarisasi materi pendidikan kewarganegaraan yang didalamnya lebih berorientasi pelajaran politik dan pendidikan kewarganegaraan yang baik, namun dalam pelajaran politik ini sering tidak sinkron antara di masyarakat dengan di lapangan. Kasus money politik merupakan contoh kongkrit hal ini sekaligus lemahnya pengendalian peserta didik. Sehingga siswa butuh keteladanan yang baik dan benar. Masyarakat tidak menyadari  bahwa keteladanan many politik belakangan sering berdampak tidak bagus pada pemahaman dan perilaku siswa karena mereka mengetahui langsung di lapangan.

Lain lagi dengan Hadi Suminto dari SMPN Ngrayun yang lebih menyoroti tidak adanya P4-lah salah satu penyebab lemahnya ikatan dalam NKRI ini. Namun menurut Heri Ahmadi P4 selama ini dibubarkan karena cenderung bersifat indoktrinasi. Bukan berorientasi pada hasil namun berorientasi pada proses, sehingga nilai bagus ketika penataran namun perilakunya tidak mencerminkan nilai-nilai P-4 yang sebenarnya. Yang diharapkan MPR, tanpa harus memakai baju P4 namun jiwa dan roh perjuangan bangsa tetap bernilai Pancaila sejati, atau dengan kata lain Pancasila tetap menjadi Idiologi dan Pandangan hidup dalam berbangsa dan bernegara.

umiyah

Pada kesempatan terakhir menjawab pertanyaan Umiah dari TK PGRI Jambon, Heri Ahmadi berharap diberinya peluang yang lebih besar kepada PUAD dan TK untuk berkembang karena merupakan wadah pertama pengembangan generasi penerus. Namun selama ini PAUD dan TK lebih didominasi lembaga yang kurang kuat sehingga lambat berkembang. Untuk itu Heri Ahmadi berupaya mendesak pemerintah untuk terus mengembangkan PAUD dan TK ini, bahkan menurutnya jangan melaksanakan wajib belajar 12 tahun dulu sebelum PAUD dan TK ini berjalan dengan baik.

Yang kedua adalah menghidupkan kembali gerakan pramuka di sekolah-sekolah mulai SD hingga SLTA. Sekaligus menjawab pertanyaan Syaifudin yang  beranggaban selama ini Pramuka sering salah sasaran dan salah pembinaan  sehingga kurang diminati peserta didik, untuk itu pesan Heri Ahmadi agar para pembina lebih dekat para siswanya sekaligus menjadi kreator dalam pelatihan gerakan pramuka, kembangkanlah pramuka ke arah yang lebih luas. Sehingga Pramuka yang sejarahnya Boden Powel membentuk kepanduan untuk membantu dampak yang ditimbulkan oleh perang yang berlangsung di Afrika, namun kembangkanlah sesuai dengan tuntutan jaman. Guru Pramuka hendaknya lebih kreatif dengan segala kegiatan kepemudaan seperti olah raga, seni, pecinta alam, dan kegiatan lain  yang selama ini kurang disentuh oleh Pramuka jaman.

Sebagai penutup Heri Ahmadi menyampaikan banyak terima kasih kepada para guru di Ponorogo semoga terus tetap menjadi pelopor keutuhan NKRI, menjaga kekompakan organisasi dan terus membina generasi penerus yang cinta pada Pancaila dan UUD 45 dengan menjiwai semangat yang ada di dalamnya serta menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian diharapkan generasi muda menjadi generasi yang kuat, tangguh dan siap menghadapi tantangan global yang semakin sulit ini, namun tetap menjaga eksisten dan keutuhan NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 45 dengan kebineka tunggal ika-anya. (Red. Guspras)

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: