|
Silahkan Baca
Artikel, Teknik Pembelajaran

Hakikat Pembelajaran Musikalisasi Puisi

  • Oleh: Wiwik Kumandang Wiyati
  • Terbit pada: Volume 6,Nop.2012

Even pembacaan puisi sering dipandang sebelah mata oleh siswa bahkan masyarakat. Karya (sastra) yang satu ini dianggap produk aneh dari planet terasing. Puisi adalah dunia asing yang sulit dikenali. Publikasi puisi lewat pembacaan atau lomba baca puisi sering sepi penonton karena dianggap tidak menarik. Bagaimana agar pembelajaran puisi menarik bagi siswa ? Inilah tantangan yang harus dijawab oleh guru Bahasa Indonesia yang kreatif. Kreativitas selalu ditandai dengan produktivitas yang melibatkan unsur imajinasi, penciptaan, merangkai, mengarang dan skil musik. Puisi yang dipadu dengan musik dan lagu tentu lebih menarik bagi siswa. Karena musik dalam lagu adalah bahasa universal. Bahasa yang mampu menyatukan segala perbedaan pada diri manusia (Beetlestone, 2011:4).

Pada umumnya manusia mempunyai bermacam-macam kecerdasan yaitu (a) kecerdasan linguistik, (b) kecerdasan matematik logis, (c) kecerdasan spasial,  (d) kecerdasan musikal, (e) kecerdasan kinestetik, (f) kecerdasan interpersonal, (g) kecerdasan intrapersonal, dan (h) kecerdasan naturalis (Sutejo, 2011:14).

Pembelajaran musikalisasi puisi merujuk pada kecerdasan musikal. Musik sarana ekspresi diri dan memupuk rasa percaya diri. Kecerdasan musikal mencakup kepekaan atau penguasaan terhadap nada, irama, pola, ritme, tempo, instrumen, dan ekspresi musik. Musik berperan dalam perkembangan kognitif, kecakapan sikap, tingkah laku dan disiplin anak (Asfandiyar, 2010:54).

Puisi adalah Pembacaan

Ketika seorang penyair menciptakan puisi yang terbayang dalam benaknya adalah pembacaan ditengah audiens, bukan untuk dinyanyikan. Meskipun dalam puisi memang ada unsur musik atau irama yang ditimbulkan oleh rima atau permainan kata. Guru sering dibuat pusing, “Apa dan bagaimana saya harus menyajikan kompetensi dasar pembelajaran musikalisasi puisi ?”

Batasan musikalisasi puisi ternyata menjadi perdebatan panjang oleh para ahli, karena ada perbedaan pendapat. Menurut Tengsoe Tjahjono ada 4 pendapat, yaitu (a) dalam musikalisasi tidak boleh ada aktivitas membaca puisi; jika ada pembacaan puisi didalamnya, kegiatan tersebut bukanlah musikalisasi puisi, (b) dalam musikalisasi boleh saja terdapat kegiatan pembacaan puisi, sebab tidak semua baris atau fase dalam puisi bisa dimusikalisasikan, (c) membaca puisi dengan iringan alat musik bukanlah musikalisasi puisi, dan (d) membaca puisi dengan alat musik juga merupakan kegiatan musikalisasi puisi (Tjahjono, 2011:167).

Perlu diingat kembali unsur-unsur apa saja yang membangun puisi. Unsur-unsur pembangun tersebut saling berkaitan, padu, sulit dipisahkan. Puisi dan lagu memang ada benang merah, karena sejarah awal puisi adalah tembang atau lagu. Sebelum manusia mengenal budaya tulis, puisi ditembangkan atau dilisankan. Contoh tembang Jawa yang diatur oleh struktur bunyi, suku kata, jumlah baris, dan aturan makna tersendiri (Waluyo, 1987:25).

Kembali pada pernyataan awal bahwa hakikat puisi adalah pembacaan. Sedangkan musik itu tidak sejajar dengan nada dan melodi. Musik bisa memperkuat suasana dan karakter puisi. Namun pemaksaan puisi menjadi lagu seutuhnya akan merusak totalitas puisi.

Intonasi, modulasi, jeda, dinamika, tempo, dan nada adalah rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam pembacaan puisi. Sedangkan lagu ditentukan oleh kecepatan nada dalam tiap-tiap notasi. Irama pada lagu sudah ditentukan lebih dulu komponisnya secara permanen. Sedangkan puisi sangat ditentukan oleh pemahaman pembacanya terhadap makna keseluruhan sebuah puisi.

Modulasi adalah proses pengubahan gelombang pendukung untuk menyampaikan bunyi atau peralihan dari nada dasar satu ke nada dasar lainnya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995:662). Irama, modulasi, dan jeda dalam pembacaan puisi sulit dilagukan, jika dipaksakan akan terjadi disharmoni lagu itu sendiri. Bait atau baris-baris puisi yang tidak dilagukan harus tetap dibacakan. Untuk memberi tekanan suasana pembacaan puisi bisa diberi dentingan piano secara lembut, atau petikan gitar dengan tempo lambat.

Karya puisi juga tidak bisa dilepaskan dari bentuk penampilan fisiknya. Misalnya tipografi, penggunaan huruf kapital, tanda titik, tanda koma, penataan baris, dan pengaturan bait. Semua itu tidak bisa dilanggar untuk kepentingan melodi, karena akan merusak pesan puisi (Tjahjono, 2011:170).

Musik Tidak Sejajar dengan Lagu

Musik tidak sama dengan lagu. Suara gemericik air, bedug yang ditabuh bertalu-talu, atau dentangan lonceng gereja adalah beberapa contoh musik. Musik ada yang bernotasi dan tanpa notasi. Suara bedug, gemericik air, dan dentang lonceng gereja adalah contoh musik tanpa notasi. Sedangkan lagu adalah teks yang digubah dengan notasi dalam nada-nada tertentu kemudian dibentuk dalam melodi. Jadi musik itu bukan lagu !

Musikalisasi puisi sebenarnya bukan melagukan puisi, tetapi upaya menguatkan potensi musik yang memang sudah ada dalam puisi. Musikalisasi puisi tidak boleh merusak kekhasan puisi itu sendiri. Dalam arti musikalisasi harus tetap meletakkan puisi sebagai teks sastra bukan lirik lagu. Tidak semua puisi bisa dilagukan, bisa jadi dalam sebuah puisi hanya beberapa baris yang bisa dilagukan.

Puisi yang dapat dimusikalisasi adalah puisi yang mempunyai bentuk bait relatif sama. Misalnya bait pertama mempunyai baris 4, jumlah kata 4-5, jumlah suku kata 10-12 dan pola persajakan yang hampir sama; begitu pula bait kedua, ketiga dan seterusnya. Bait-bait tersebut hampir mirip dengan bentuk pantun, maka dari itu pantun lebih mudah dilagukan daripada puisi.

Menyusun Partitur Musikalisasi Puisi

Partitur musik adalah teks lagu yang berisikan puisi-puisi yang diaransemen ke dalam bentuk lembaran musik yang berupa melodi, irama/ ritme, dan harmoni (Tjahjono, 2011:173).

Sebelum menyusun partitur secara lengkap, guru harus membaca puisinya secara cermat. Tentukan bagian-bagian yang lebih kuat dibacakan dan baris-baris lain yang lebih indah bila dilagukan.

Untuk menyusun partitur, guru harus memahami unsur-unsur musik secara umum, misalnya nada, melodi, irama, harmoni, serta unsur pendukung lain seperti ekspresi, dinamika serta bentuk lagu.

Jika musikalisasi puisi akan disajikan di atas panggung sebagai hiburan dan model pembelajaran, maka guru Bahasa Indonesia sebaiknya bekerja  sama dengan guru musik dan guru mata pelajaran drama/ teater (Seni Budaya). Musikalisasi puisi yang dijadikan sebagai komoditi hiburan harus tunduk kepada kriteria pementasan pertunjukan. Kriteria tersebut meliputi tata panggung, tata cahaya, tata busana, dan tata vokal atau sound.

Sesungguhnya, puisi yang digarap secara apik seperti musikalisasi tersebut akan menjadi tontonan yang menarik, berkesan serta dapat menjembatani dunia penyair dan masyarakat. Puisi bukan lagi pelajaran yang menjemukan. Puisi bukan lagi barang antik yang hanya dipajang, tetapi patut diapresiasi guna mendapatkan nilai-nilai luhur dan kearifan di dalamnya. Nilai-nilai yang wajib disemaikan dalam lahan kalbu para pewaris budaya bangsa

Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia, SMP N 4 Kec. Ponorogo

Daftar Pustaka

  • Asfandiyar, Andi Yuda. 2010. Kenapa Guru Harus Kreatif ?. Cetakan IV. Bandung : DAR ! Mizan.
  • Beetlestone, Florence. 2011. Penerjemah Narulita Yusron. Creative Learning. Cetakan 1. Bandung : Nusa Media.
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Cetakan ke-7. Jakarta : Balai Pustaka.
  • Sutejo. 2011. Teknik Kreativitas Pembelajaran Edisi Revisi. Cetakan ke-2. Yogyakarta : Pustaka Felicha.
  • Tjahjono, Tengsoe. 2011. Mendaki Gunung Puisi Ke Arah Kegiatan Apresiasi. Cetakan 1. Malang : Banyu Media Publishing.
  • Waluyo, J. Herman. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Cetakan 1. Jakarta : Erlangga.

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: