|
Silahkan Baca
Cerpen

Aku Pulang …

  • Oleh: aldillana hamza
  • Terbit pada: Volume 6,Nop.2012

Suara sirine mobil polisi dan ambulans bersahutan silih berganti. Hiruk pikuk para pengendara di jalan raya semakin semrawut saja.

Banyak orang berlalu lalang membopong beberapa korban kecelakaan yang baru saja terjadi. Ngeri.

Ada yang meraung kesakitan akibat luka parah, ada yang hanya meringis-ringis menahan perih, dan beberapa jeritan histeris dari sanak keluarga yang kebetulan selamat dari kecelakaan.

Yang lebih tak tega lagi, tepat disampingku beberapa korban tergolek tak bergerak di emper sebuah toko. Ada yang wajahnya hancur, kaki putus, beberapa bagian tubuh tercecer, atau … duh … aku tak berani melihatnya lagi. Kasihan.

Segera aku bangkit dan berjalan dengan sedikit tertatih. Meninggalkan kerumunan relawan yang sibuk mengevakuasi korban kecelakaan beruntun ini. Aku memang salah satu korban disini. Tapi toh lukaku tak seberapa. Hanya di beberapa bagian tubuhku terdapat luka gores yang masih agak perih dan nyeri di bagian dada.

Sembari berjalan mencari motor yang tadi kunaiki, kuamati beberapa wajah yang satupun tak kukenali. Juga tak ada yang menghiraukanku meski di wajahku terdapat luka seperti terparut aspal. Daerah ini memang jauh dari tempat tinggalku, jadi ya wajar saja jika tak ada yang mengenaliku. Apalagi saat kulihat motorku tengah diangkat ke atas mobil polisi dengan bodi yang sangat memprihatinkan. Ringsek berat.

Ya sudahlah, apa boleh buat. Namanya juga apes, mau bagaimana lagi? Berkali-kali aku berucap syukur. Setidaknya Allah masih memberikan aku kesempatan untuk hidup. Tak   apalah jika memang harus kehilangan motor. Toh aku masih bisa berusaha lagi.  Batinku sambil melangkah menuju halte bis.

Meski masih hampir jam sepuluh pagi aku memutuskan untuk pulang saja. Besok aku jelaskan atas ketidak hadiranku di sekolah hari ini kepada kepala sekolah. Lagian, tak mungkin juga aku bekerja dalam keadaan tubuh tak sehat begini. Aku yakin mereka bisa mengerti.

Segera aku ikut berlari saat serombongan orang memasuki bis yang kebetulan searah dengan tujuanku. Penuh sesak. Akhirnya aku berdiri berjejal diantara penumpang lain. Anehnya, sang kondektur melewatiku tanpa mengambil ongkos yang kusodorkan. Mungkin kasihan melihatku dengan badan penuh luka seperti ini. Trimakasih, pak, Tuhan yang akan membalas.

Sesampai di pemberhentian bis berikutnya bersama beberapa penumpang lain, aku turun dari bis yang kutumpangi. Kemudian menyeberang jalan dan menyusuri sebuah gang, jalan pintas yang menghubungkan dengan halaman belakang rumahku.

Beberapa meter didepanku kulihat aktivitas yang tak biasa sedang berlangsung di halaman   belakang rumahku. Kenapa ramai sekali? Istriku tak cerita apa-apa jika hari ini menggelar acara. Apalagi semua tamu mengenakan pakaian muslim lengkap. Keluar masuk rumah, berlalu lalang mengambil berbagai macam peralatan dari rumah tetangga. Cangkul, papan, bak besar tempat air … loh … langkahku terhenti ketika melihat bak besar yang dibawa Pak Modin.

Bak besar itu hanya boleh dipakai ketika ada warga yang meninggal. Acara lain apapun tak ada yang diperbolehkan meminjamnya meski barang itu milik warga seluruh kampung. Tapi kok dibawa ke rumahku? Siapa yang meninggal? Ayahku kah? Anakku? Kenapa tak ada yang memberi kabar padaku?

Tenggorokanku rasanya seperti tercekat tak mampu menelan ludah, apalagi berkata-kata. Langkahku yang tadinya berat dan terhenti, kini kupaksakan untuk tetap berjalan setengah berlari memasuki rumah. Berusaha menerobos kerumunan orang yang sibuk entah mengerjakan apa. Aku coba bertanya, apa sebetulnya yang sedang terjadi, namun tak satupun berusaha mencegat untuk menjelaskan padaku. Lantas, aku berjalan memasuki setiap ruang-ruang rumahku, mencari istri dan anakku yang belum jua kutemukan.

Kudengar suara sirine dari kejauhan. Lambat laun semakin keras, dan akhirnya berbelok dan berhenti di halaman depan rumahku. Aku yang tadinya terduduk lemas di kamar putra sulungku, kini terhenyak dan berusaha mencari tahu.

Dengan mudah, aku bisa menerobos mendekat ke mobil ambulans yang dikerumuni para tetangga dengan tangis mereka. Istriku. Kulihat istriku lemah lunglai di pelukan putra sulungku tepat berada di belakang mobil jenazah. Segera aku memeluknya. Namun, belum sempat kutahu respon istriku dengan kedatanganku, pandanganku jatuh ke arah empat putraku yang lain yang berada di teras rumah, dalam pelukan kakek mereka, ayahku.

Segera aku berlari hendak merangkul putraku. Karena perasaanku yang sudah tak karuan rasanya seperti terbang melayang di atas kerumunan. Belum jua sampai, tubuhku limbung dan terkulai di lantai.

Gusti Allah… Siapa yang meninggal? Kenapa tak seorangpun memberitahuku? Kenapa tak seorangpun merangkulku? Kenapa tak seorangpun membimbingku untuk mempertemukanku dengan keluargaku?

Setelah beberapa saat aku linglung, tiba-tiba sebuah bayangan putih menarikku, membawaku mendekat ke arah jenazah yang sudah diletakkan di ruang tengah rumahku. Dan aku terhenyak ketika tutup wajah jasad itu tersingkap. Sebuah wajah pucat pasi, dengan kondisi cukup hancur di bagian kanan. Itu wajahku. Ya, itu wajahku, berarti jasad ini adalah ragaku?

Gusti Allah … apa berarti aku sudah mati? Tidak …. aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Bergantian aku berusaha merangkul dan memeluk anak dan istriku, tapi usahaku sia-sia, tanganku tembus tak mampu menggapai raga mereka. Berkali-kali aku memanggil nama mereka, tapi sekalipun tak menjawabku. Tak menghiraukanku sama sekali. “Aku belum siap, Tuhan … aku belum mau mati … tolong, tolong kembalikan aku pada ragaku …” raungku sembari kucabik-cabik kain penutup jasad itu. Seonggok tubuh tak bergerak itu masih tetap diam tanpa daya. Tetap tak bergeming dan masih rapi tertutup beberapa lapis kain jarik. Hingga aku terduduk lelah dan menggigil di sudut ruangan. Masih belum dapat kuterima dengan akal sehat, tentang ketidakmampuanku untuk berbuat apa-apa kini.

Aku teringat dengan peristiwa kecelakaan pagi tadi. Sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi mendahului mobil gerobak syarat muatan. Sayangnya, dari arah depan ada truk trailer dengan kecepatan tinggi pula. Akhirnya truk membanting setir ke arah kiri berusaha menghindari sepeda motor itu hingga badan truk terguling memenuhi lebar jalan raya. Akibatnya, kendaraan-kendaraan yang melaju tak jauh dari kecelakaan itu tak sempat menghindar. Termasuk aku, yang kebetulan berada beberapa meter di belakang pengendara motor tadi. Motorku terpelanting ke arah truk trailer setelah menyenggol mobil gerobak, kemudian tergencet di bawah badan truk, dan tubuhku terjepit di sela-selanya. Kecelakaan itukah yang merenggut nyawaku? Memisahkanku dari orang-orang terdekatku …

“Bapak …, bapak…, bangun, bapak …” Putra ragilku menangis memelas di samping jasadku.

“Ini bapak, nak, bapak disampingmu…” ucapku sambil merangkak berusaha meraihnya. Maafkan bapak, nak…”.

Lagi-lagi aku roboh disamping istriku yang berkali-kali pingsan dipelukan para kerabatku. Serta merta kubelai lembut kepala istriku meski aku tahu ia tak dapat merasakan kehadiranku. “Maafkan bapak ya, bu, bapak tak sempat pamit dan minta maaf…”  bisikku ketika istriku memasangkan kapas pada kedua mataku dengan sentuhannya yang lembut.

Ya Tuhan, kenapa baru sekarang aku tersadar, bahwa jemari penuh goresan ujung pisau dapur itulah yang selama ini begitu setia menghilangkan penat dan lelahku. Kenapa aku baru tahu jika istriku adalah satu-satunya wanita yang selama ini tak kupenuhi haknya sebagai pendampingku. Kenapa Kau bukakan mataku pada saat aku sudah tak dapat mendampinginya, membesarkan kelima putraku dan menyelesaikan hutang piutangku. Kenapa, Tuhan? Kenapa …

Tolong, Tuhan … beri aku kesempatan sekali lagi untuk berbicara dengannya. Selama ini aku tak begitu memperhatikannya. Aku sering memperlakukannya layaknya pembantu di rumah ini. Membiarkannya lelah mengerjakan semua tugas rumah, mengurus anak-anak, dan sering kutinggal pergi hingga larut malam. Aku menyesal …

Tiba-tiba aku dibawa terbang jauh ke angkasa. Menembus beberapa lapis langit. Kemudian tergelar sebuah layar dimana rekan-rekan kerjaku tengah sibuk melaksanakan tugas.  Mengetik soal ulangan, ada yang mempersiapkan berkas PLPG, UKG. Dan yang membuatku miris, ada beberapa kawanku yang tidur mendengkur di ruang UKS, nongkrong di warung, shopping di supermarket atau sibuk dengan handphone tanpa menghiraukan anak-anak yang sedang belajar di kelas. Persis seperti yang pernah kulakukan dulu. Aku malu padamu, Tuhan. Gaji guruku yang selama ini Engkau berikan, kuhabiskan begitu saja, tanpa kulaksanakan tugasku sebagai guru dengan baik, dan tak pernah kusisihkan untuk bersedekah.

Seandainya aku masih bisa menemuimu, sobat, tak akan kubiarkan kau menyia-nyiakan waktumu hanya dengan kegiatan tak bermanfaat seperti itu. Seharusnya kalian laksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sebelum terlambat. Jangan seperti aku!

Beberapa ibu guru dalam sebuah pertemuan Dharma Wanita sibuk membicarakan kematianku. Menceritakan segala hal yang pernah kulakukan selama aku hidup dan bertugas bersama mereka. Mengulang kembali hal-hal baik yang pernah kuceritakan pada mereka. Yang membuatku haru, mereka mengakhiri obrolan dengan do’a, memohon pada Rabb, untuk memberiku tempat yang baik di surga. Trimakasih, sobat.

Padahal, semasa hidupku dulu tak pernah aku berbuat baik pada mereka. Justru aku sering menyusahkan teman-teman sekantorku. Sering bolos kerja hanya untuk bermain bilyard, sering bergaul dengan perempuan-perempuan muda di club, dan yang lebih memalukan lagi cerita-cerita tentangku yang pernah kulontarkan, itu hanyalah bualanku saja. Tak ada satupun yang benar. Aku tak pernah bersedekah tapi justru meninggalkan banyak hutang dimana-mana. Aku juga tak pernah ke masjid, bahkan aku tak bermimpi untuk ke tanah suci. Untuk apa? Pikirku.

Tapi keadaan menjadi lain jika kutahu akhirnya seperti ini, kawan. Sesalku tak berguna. Nilai yang selama ini kukumpulkan dalam buku rapor kehidupanku pasti tak seimbang dengan gaji sertifikasi yang telah Tuhan transfer untukku. Bahkan tingkah lakuku cenderung menentang dengan kekuasaan Tuhan. Takutku tak berujung. Karena sesal dan pasrahku tak akan digubris lagi oleh Tuhan.

Aroma bau wangi kasturi kembali membawaku terbang meninggalkan pemandangan kegiatan sobat-sobatku di sekolah. Kini, aku disuguhkan pada pemandangan, dimana prosesi pemakaman sedang berlangsung. Jasadku yang sudah terbungkus kafan putih mulai diturunkan ke liang kubur.

“Tidurlah dengan tenang, bapak. Jangan cemaskan apa-apa. Aku akan jaga ibu dan adik-adik”. Ucap putra sulungku sebelum memasangkan gelu di bawah kepala bagian kananku. Bangga rasanya mendengar apa yang diucapkannya. Setidaknya, aku tidak melihat ia memiliki jiwa bengal sepertiku pada dirinya.

“Jangan seperti bapak ya, le. Jadilah laki-laki yang baik!”.

Kemudian, putra keduaku, dengan suaranya yang begitu syahdu mengumandangkan adzan, hingga membuat beberapa pelayat ikut menangis terharu. Bapak bangga sama kalian.

Tanah merah mulai dimasukkan hingga menutupi seluruh liang peristirahatanku. Diakhiri dengan taburan bunga-bunga dan do’a-do’a. Kulihat istri dan anakku sudah tak sesedih tadi siang ketika baru tahu aku telah meninggal. Justru ketabahan yang kini kutangkap dari sorot mata mereka. Jaga mereka, Ya Allah… Hanya Kau yang dapat aku percaya atas keselamatan mereka.

Satu persatu keluargaku, kerabatku, dan para pelayat meninggalkan pusaraku. Hanya seonggok batu nisan, gundukan tanah merah, berikut bunga-bunga yang tersisa, menemani gusarku menunggu malaikat munkar dan nakir menyampaikan pesan menakutkan.

Menyesal aku ketika hidup sering mengalahkan kewajiban-kewajibanku pada Rabb. Tak satupun benda yang aku perjuangkan semasa hidup menemaniku duduk sendiri di samping batu nisan ini. Kupasrahkan segalanya pada-Mu, Ya Allah. Semoga Rahmat-Mu tak akan berhenti dengan segala hal yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku. Amien.

By: aldillana hamza guru SDN 1 SIWALAN

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: