|
Silahkan Baca
Artikel, Kreatifitas Guru, Sains dan Teknologi

Meningkatkan Keaktifan Belajar IPA dengan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Base Learning)

  • Oleh: Inganah
  • Terbit pada: Volume 6, Nop.2012

Bangsa Indonesia sebagai bagian dari bangsa-bangsa di dunia dituntut untuk mengembangkan diri agar dapat mengikuti persaingan global di antara bangsa-bangsa di dunia. Untuk menghadapi masalah tersebut, Kementerian Pendidikan Nasional telah merancang dan mengembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KTSP 2007). Melalui kurikulum itu pembelajaran IPA di sekolah diharapkan dapat menumbuhkembangkan kemampuan berpikir kritis, sistematis dan logis. Dalam kurikulum disebutkan pula  bahwa untuk mencapai harapan tersebut guru dalam mengelola pembelajaran IPA dapat menggunakan pengalaman nyata (contextual problem) untuk memunculkan konsep atau gagasan IPA. Sedangkan pendekatan dan strategi pembelajaran yang dipilih hendaknya bersandar pada pandangan konstruktivisme yang memberi kesempatan luas kepada siswa untuk membangun pengetahuan bagi dirinya sendiri.

Selama ini sebagian besar guru IPA dalam menyajikan pembelajaran kepada siswa cenderung monoton, yaitu menyajikan teori atau prosedur dan diakhiri dengan memberikan tes. Pada tahap awal pembelajaran guru menanamkan konsep atau prinsip ke dalam pikiran siswa. Guru cenderung menggiring seluruh siswa tanpa memperhatikan perbedaan atau karakteristik siswa, untuk memahami konsep atau prinsip seperti pemahaman yang dimilikinya. Siswa jarang bahkan tidak pernah dilibatkan dalam penyelesaian masalah. Siswa lebih dikondisikan sebagai objek yang hanya dapat menerima dan mengerjakan seperti apa yang dimaui guru.

Pembelajaran IPA yang demikian mengakibatkan siswa hanya bekerja secara prosedural dan memahami konsep IPA tanpa penalaran. Akibatnya pelajaran IPA tampak sebagai kumpulan fakta, konsep dan prinsip yang kering tanpa makna sehingga sukar untuk dipahami. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa IPA khususnya biologi adalah pelajaran hafalan, sehingga siswa cenderung menghafalkan fakta atau konsep IPA Biologi tanpa memahami maksud dan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut mengakibatkan minat belajar siswa terhadap IPA rendah. Demikian pula dengan prestasi belajar siswa juga rendah.

Dari hasil pengamatan  yang dilakukan peneliti selama mengajar dan dari evaluas terhadap proses belajar mengajar IPA biologi khusunya di SMP Negeri 2 Kecamatan Jenangan selama ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat rendah. Pada pembelajaran yang meggunakan metode percobaan dan diskusi yang semestinya lebih mendorong siswa aktif, kenyataannya tingkat partisipasi siswa masih sangat rendah yakni rata-rata 10% siswa yang aktif. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih kesulitan atau kurang berani mengungkapkan pendapat dan idenya. Hal ini disebabkan oleh factor guru dan siswa sendiri. Dari guru yaitu metode pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi, guru kurang memberikan kepercayaan kepada siswa dan materi yang diajarkan kurang menyentuh kehidupan nyata sehari-hari siswa. Sedangkan dari fakor siswa yaitu siswa kurang percaya diri terhadap kemampuannya serta kurangnya motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA biologi khususnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan cara untuk membangkitkan minat belajar siswa yaitu dengan mengubah pendekatan dan strategi guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Guru harus meninggalkan paradigma lama yang “teacher centered” menuju paradigma baru yang”student centered”. Salah satu model pembelajaran yang student centered adalah pembelajaran berbasis masalah (problem base learning). Pembelajaran berbasis masalah adalah proses pembelajaran yang bertolak dari masalah nyata (contextual problem), yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan formal dengan bantuan guru. Pengetahuan formal tersebut dibangun atau ditemukan kembali dengan mengacu kepada pengetahuan informal siswa.

Proses pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual karena dalam pembelajaran ini menghadapkan siswa pada suatu masalah yang kemudian melalui pemecahan masalah tersebut siswa belajar keterampilan-keterampilan yang lebih mendasar. Dalam pembelajaran ini mengaitkan konteks kehidupan nyata siswa baik di rumah, masyarakat dan kehidupan sehari-hari sehingga mendorong siswa untuk menjadi pebelajar yang mandiri.

Pembelajaran berbasis masalah didasari oleh dua teori yaitu teori kognitif dan teori konstruktivisme. Teori kognitif mmenjelaskan bagaimana seseorang dapat mengorganisasi informasi yang diperoleh sehingga informasi tersebut bermakna bagi dirinya. Pengetahuan datang dari tindakan dan perkembangan kognitif yang sebagian besar bergantung pada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Ciri-ciri khusus pembelajaran berbasis masalah yaitu pertama, mengajukan pertanyaan atau masalah. Masalah yang diajukan sesuai dengan situasi kehidupan nyata (autentik). Kedua, berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Masalah yang akan diselidiki benar-benar nyata. Ketiga, penyelidikan autentik. Pembelajaran ini mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata. Keempat,menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya, dalam bentuk karya nyata dan peragaan yang mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Kelima, kerjasama antar siswa untuk memberikan motivasi, berbagi inkuiri dan dialog untuk mengembangkan keterampilan sosial dalam berpikir kritis.

Model pembelajaran berbasis masalah memiliki sintaks sebagai berikut: Fase pertama : Orientasi siswa kepada masalah. Fase kedua  : mengorganisasi siswa untuk belajar. Fase ketiga : Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Fase keempat  : Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Fase kelima  : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru di kelas adalah menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa agar terlibat aktif memecahkan masalah yang dikemukakan, membantu siswa untuk memdefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan, mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, membantu siswa untuk membuat karya atau laporan hasil pemecahan masalah dan membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses pemecahan masalah yang telah dilakukan. Bentuk bantuan dapat berupa pembahasan atau ulasan lebih lanjut tentang pemecahan kasus yang sudah dilakukan oleh siswa.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada masalah autentik yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan secara bersama-sama maupun mandiri sehingga mendorong siswa berbagi pengetahuan, inkuiri, berdialog dan melatih berpikir kritis melalui kerjasama.

Pembelajaran yang dilakukan dengan menampilkan masalah autentik yang sering ditemui siswa di lingkungan misalnya masalah pengeroposan tulang (osteoporosis), keseleo ataupun masalah kram otot ternyata dapat melatih siswa menganalisis kejadian-kejadian yang ada di lingkungan sekitar. Siswa semakin kritis dalam berpikir sehingga diharapkan mampu menghadapi hidup dengan keterampilan-keterampilan yang dimiliki.

Pada awal pembelajaran berbasis masalah ini, belum semua siswa memiliki keberanian untuk mengungkankan pendapat mereka. Dari 4 siswa dalam setiap kelompok baru 1-2 siswa yang mampu menyampaikan analisis atau pendapatnya. Setelah ditanya, jawaban mereka ternyata ragu dan kurang percaya diri dengan pendapatnya dan malu untuk menyampaikan atau menanggapi. Hal ini disebabkan karena adanya kebiasaan pada siswa yaitu siswa yang mengungkapkan sesuatu salah akan ditertawakan oleh teman-temannya. Belum adanya penghargaan yang berupa pujian baik dari guru maupun temannya merupakan salah satu faktor kurangnya keaktifan siswa.

Dalam pembelajaran atau siklus berikutnya ternyata sudah ada kemajuan yaitu 3-4 siswa dari setiap kelompok sudah berani memberikan umpan balik baik berupa pertanyaan, tanggapan atau saran kepada temannya. Juga sudah ada keberanian untuk tampil sebagai penyaji tanpa diminta.

Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan keaktifan siswa meningkat yakni siklus I 47%, siklus II 69% dan pada siklus III 81%. Hal ini menandakan siswa aktif. Faktor penghargaan yang diberikan oleh guru maupun teman sangat berpengaruh. Hasil ulangan harianpun rata-rata baik yaitu 83, di atas indikator yang ditetapkan yakni 75.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus`dan Penilaian mata pelajaran Biologi. Jakarta.

Ida Kaniawati. 2007. Model Pembalajaran IPA. FPMIPA UPI. Bandung

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: