|
Silahkan Baca
Artikel, Seni Budaya

Mengajarkan Akord Menggunakan Keyboard Kertas

  • Oleh: PUJI SASONGKO
  • Terbit: Volume-6, Nop.2012

Pendahuluan

akordAkord adalah kumpulan tiga nada atau lebih yang bila dimainkan secara bersamaan terdengar harmonis.  Akord bisa dimainkan secara terputus-putus ataupun secara bersamaan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Akord). Sebelum berbicara akord tentu harus paham dulu tentang nada, sebab nada adalah unsur dari pembentuk akord tersebut. Nada adalah bunyi yang teratur, artinya: mempunyai bilangan getar (frekwensi) yang tertentu (Sukohardi. 2011. 5). Nada dalam pemahaman anak termasuk hal yang abstrak. Untuk memvisualisasikannya nada dilambangkan dengan berbagai macam lambang nada, yang kemudian disebut dengan notasi. Visualisasi nada dengan lambang nada (notasi), tetap belum bisa menyatakan yang sesungguhnya tentang nada dan tetap saja abstrak. Cara menyatakannya, nada harus dibunyikan (diaudisasi) bukan divisualisai. Keabstrakan nada hilang ketika sudah didengar oleh telinga.

Audisasi nada (bunyi) memerlukan alat peraga. Vokal bisa dipakai sebagai salah satu dari audisasi keabstrakan itu. Vokal bisa memperdengarkan perbedaan nada-nada tinggi / rendah berturut-turut sesuai tangga nada. Namun vokal tidak mampu untuk memvisualisasi sekaligus mengaudisasi  bunyi akord, kecuali dilakukan oleh beberapa vocal (orang). Permasalahannya tidak semua siswa bisa menyanyikan nada dengan tepat. Hal yang sama berlaku pada alat-alat musik melodis. Alat musik melodis tidak mampu untuk memvisualisasi sekaligus mengaudisasi  bunyi akord, kecuali dilakukan oleh beberapa alat musik yang dimainkan oleh beberapa orang pemain. Oleh karenanya dalam pembelajaran akord diperlukan media pembelajaran yang memadai.

Mengajarkan akord kepada anak tidak bisa hanya berteori saja. Akord adalah suatu hal yang abstrak. Menyatakan akord menjadi suatu pernyataan yang bisa diindra sangat diperlukan. Pemahaman anak tentang akord bisa menjadi maksimal ketika akord dinyatakan / dipraktikkan /dibunyikan melalui alat musik (paduan beberapa nada) ataupun paduan vokal.

Alat musik sebagai media pembelajaran.

Dalam pembelajaran musik, alat musik memiliki peran strategis. Musik tidak bisa dilihat, musik hanya bisa didengar dan dirasakan. Nada, melodi, ritme akan menjadi topik yang abstrak jika hanya dibicarakan. Untuk bisa menjadi nyata (tidak abstrak) musik harus diperdengarkan. Alat-alat musik diperlukan guna mengubah keabstrakan musik menjadi nyata dengan cara membunyikannya.

Secara umum karakteristik alat musik yang ada bisa dikelompokkan dalam tiga kelompok. Yaitu alat musik melodis, alat musik harmonis dan alat musik ritmis. Setiap pemakaian alat peraga dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan materi yang diberikan. Diantara ketiga kelompok tersebut alat musik yang paling cocok untuk mengajarkan akord adalah alat musik harmonis.

Alat musik harmonis memiliki beberapa model. Tidak semuanya cocok digunakan untuk menjelaskan akord, terutama menjelaskan akord kepada siswa yang memiliki tingkat pemahaman tentang musik masih dini. Alat musik seperti gitar, ukulele, banjo masuk dalam kelompok alat musik harmonis, namun alat-alat musik tersebut “kurang bisa” mendukung penjelasan guru tentang akord. Alasannya visualisasi akord pada alat musik tersebut kurang bisa menunjukkan keberadaan posisi nada sebagai nada ke-1 (tonika) nada ke-3 (terts) ataupun nada ke-5 (kwint).

Keyboard kertas sebagai alternatif dalam pembelajaran akord.

Materi pembelajaran akord akan  mudah difahami siswa dengan menggunakan media berupa alat musik harmonis yang berbentuk klavier (Jerman), clavier (Perancis), klaviatuur (Belanda), atau keyboard (Inggris), yang berarti : papan bilah-bilah nada (Soeharto. 1992), disingkat “papan nada”. Jadi alat musik klavier adalah alat-alat musik yang memiliki tampilan menggunakan bilah-bilah nada / bilah-bilah tempat membuyikan nada. Alat musik harmonis yang berbentuk klavier bisa dicontohkan seperti organ, vibraphone, kolintang, gambang, gender, piano, pianika, dan xylophone.

Namun permasalahan yang ada di lapangan, tidak semua sekolah memiliki alat musik klavier/keyboard  yang cukup untuk dipakai guru guna menyampaikan materi pembelajaran ini kepada para siswanya. Kalaupun ada jumlahnya tidak mencukupi jika setiap siswa harus memegang satu alat musik untuk praktik. Padahal pembelajaran akan bisa berhasil (maksimal) jika setiap siswa bisa mempraktekkan secara langsung.

Melihat kenyataan ini penulis menawarkan sebuah alternatif pemecahan masalah, yaitu menggunakan keyboard kertas. Alat ini cocok digunakan sebagai media pembelajaran akord. Alasannya visualisasi akord pada alat musik tersebut bisa menunjukkan keberadaan posisi nada sebagai nada ke-1 (tonika) nada ke-3 (terts) ataupun nada ke-5 (kwint) dengan nyata. Selain itu siswa juga langsung bisa faham bagaimana membentuk akord dengan paduan tonikatertskwint dan sekaligus bisa membuat akord sendiri.

Keyboard kertas adalah alat peraga yang berbentuk lembaran kertas berukuran panjang ± 30 cm dan lebar ± 10 cm. Pada lembar kertas tersebut digambar tuts-tuts piano yang posisi tuts hitam dan tuts putihnya dibuat persis sama dengan keyboard piano asli. Ukuran gambar tuts piano bisa dibuat sama dengan aslinya, tetapi juga bisa dibuat dengan ukuran yang diperkecil (disesuaikan). Demi menjaga kebersihan, keindahan dan keawetan keyboard  kertas sebaiknya keyboard kertas dibuat pada kertas tebal dan kemudian dilapisi dengan plastik (press mika).

Pertimbangan-pertimbangan yang mendasari sebagai sebab dipilihnya alat peraga keyboard  kertas   sebagai media dalam pembelajaran akord adalah:  (1) alat ini bisa digunakan untuk memvisualisasi letak tingkatan nada dalam akord (tonikatertskwint). Visualisasi posisi nada pada akord menurut tingkatannya (tonikatertskwint) sangat diperlukan guna mempertegas dan mempermudah pemahaman siswa terhadap konsep susunan nada (pembentukan) akord; (2) Mudah cara membuatnya (siswa bisa membuat sendiri); (3) cara penggunaannya menunjukkan tingkat kesulitan yang ringan (tidak sulit); (4) ukurannya kecil, ringkas, dan tipis sehingga  tidak terlalu memakan tempat dan mudah dibawa kemana-mana termasuk ke dalam kelas; (5) Setiap anak bisa mendapatkan / memegang / memainkan satu alat peraga keyboard kertas ini dalam pembelajaran; (6) dengan (simulasi) berlatih menggunakan keyboard kertas soft skill maupun hard skill siswa menjadi terasah, sehingga ketika menerapkannya pada alat musik keyboard yang sebenarnya (misal organ) siswa akan dengan mudah bisa menerapkannya dengan baik dan benar.

Cara menggunakan alat peraga keyboard  kertas dalam pembelajaran.

Pada awal pembelajaran siswa dikenalkan dengan pemahaman tentang akord, cara pembentukannya, macam-macamnya akord, kegunaannya dalam permainan musik, fungsi harmonisnya, karakteristiknya, sampai pada tingkatan-tingkatan akord.

Berikutnya siswa mulai diperkenalkan dengan alat peraga keyboard kertas. Mulai dari tuts-tutsnya (hitam dan putih), letak nada c1 pada papan keyboard, nada-nada yang dihasilkan dari masing-masing tuts, notasi yang ditulis pada bilah-bilahnya,  cara-cara menempatkan jari-jari tangan pada papan tuts kertas, jari-jari mana saja yang digunakan untuk mensimulasi akord pada keyboard, penggunaan tangan kanan dan tangan kiri untuk membentuk akord.

Pengenalan akord pada tahap awal sangat diperlukan. Setelah siswa memahami hal ihwal tentang akord dan sudah kenal dengan alatperaga keybard  kertas, selanjutnya siswa dibimbing untuk memainkan akord (simulasi) sesuai dengan urutan tingkatan akord. Yaitu akord I, ii, iii, IV, V, vi, viiº. Tingkatan akord dalam bahasa musik I, IV, V = akord Mayor, ii, iii, vi = akord minor,  viiº = akord diminished/kurang. (Prier. 2009: 6). Siswa diajak bersimulasi dari masing-masing akord dengan peraga keyboard kertas. Permainan akord pada tataran pengenalan tingkatan akord bisa diulang dengan berbagai macam ritme sehingga siswa lancar dan lincah memainkan (bersimulasi) menggunakan alat peraga keyboard  kertas. Sesekali siswa didikte dengan progresi akord yang meloncat-loncat guna  melatih penerapan akord pada lagu yang sebenarnya.

Pengenalan alat dan cara permainannya akan merangsang anak untuk bisa belajar dengan lebih semangat. Setelah siswa tampak lancar dan akrab dengan alat peraga keyboard  kertas  baru kemudian dikenalkan dengan alat musik klavier yang sesungguhnya. Pada tahap ini guru sudah menyiapkan terlebih dahulu teks lagu lengkap dangan akordnya. Pilih lagu-lagu sederhana dulu baik bentuk lagu, syair maupun akordnya. Misal lagu-lagu bentuk tunggal yang menggunakan akord I, IV, dan V saja. Pada tahapan berikutnya  guru bisa mengenalkan lagu-lagu yang memiliki bentuk A dan B serta menggunakan akord yang lebih bervariasi. Lagu-lagunya lebih diutamakan  yang sudah akrab dikenal siswa. Misalkan lagu daerah ataupun lagu populer yang sedang trend pada saat ini.

Penutup

Penggunaan alat peraga keyboard kertas pada pembelajaran akord bisa meningkatkan gairah, motivasi, penjiwaan, dan semangat siswa dalam belajar sekaligus meningkatkan hasil belajarnya. Hal ini dikarenakan alat peraga keyboard kertas sebagai simulator alat musik keyboard yang  sebenarnya benar-benar bisa menuntun siswa ke arah pemahaman terhadap materi pembelajaran dengan baik. Pemahaman siswa tentang akord menjadi lebih mudah, nyata baik visual maupun audio (setelah diterapkan pada alat musik yang sebenarnya). Secara visual siswa bisa menentukan nada tonika, nada terts, dan nada kwintnya. Secara audio siswa bisa mendengarkan bunyi akord, merasakannya baik akord minor, mayor maupun akord kurang (setelah akord diterapkan pada alat musik klavier yang sesungguhnya).

Keuntungan penggunaan alat peraga keyboard kertas bagi guru adalah bahwa alat peraga ini memadai untuk dijadikan media penjelas materi pembelajaran utamanya akord. Harganya murah (bahkan bisa dibuat sendiri). Praktis, ringan dan tidak memakan tempat. Keyboard kertas bisa dipakai untuk mensimulasi permainan akord dalam mengiringi lagu-lagu yang bervariasi termasuk lagu-lagu yang sedang trend saat ini.

Penulis: GURU  di  SMP NEGERI 1 Kec. JENANGAN

Daftar Pustaka

  •  http://id.wikipedia.org/wiki/Akord
  • Prier SJ, Karl-Edmund. 2009. Ilmu Harmoni. Yogyakarta. Pusat Musik Liturgi.
  • Soeharto, M. 1992. Kamus Musik. Jakarta : PT Gramedia.
  • Sukohardi, Al drs. 2011. Teori Musik Umum Edisi Revisi. Yogyakarta. Pusat Musik Liturgi.

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

One thought on “Mengajarkan Akord Menggunakan Keyboard Kertas

  1. eh… ternyata muncul di sini juga yah…. wah…

    Posted by Puji Sasongko | 12 April 2013, 16:53

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: