|
Silahkan Baca
Artikel, Media Pembelajaran

Makna Media dalam Aktivitas Pembelajaran

  • oleh : Ridho Supatmi, S.Pd*
  • Terbit: Volume-6, Nop.2012

Pendahuluan

SupatmiSikap malas guru untuk membuat media pembelajaran merupakan penyakit yang kronis yang harus segera di obati. Sebab media termasuk salah satu sekian komponen penentu keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Bagaimana kita akan mengajarkan anak tentang proses terjadinya hujan kepada anak-anak, agar anak mudah menangkapnya dengan cepat , tepat dan benar diperlukan perantara atau media. Guru bisa menggunakan rangkaian gambar hidrologi sehingga mampu menjadikan yang abstrak menjadi kongkrit. Yang menjadi kendala saat sekarang terutama didaerah terpencil adalah media yang berbasis teknologi, dan sebenarnya teknologi sudah banyak yang memasuki daerah- daerah terpencil tetapi lagi-lagi gurunya yang menjadi kendala karena belum menguasai teknologi semacam computer. Hal ini dapat diamati ketika para guru terutama guru SD mengikuti Uji Kompetensi guru (UKG) banyak yang kurang menguasai, dan peristiwa itulah yang menyadarkan para guru SD tersebut betapa pentingnya  menguasai teknologo informatika (TI) .Serifikasi Guru di lain pihak sudah disadaari para Guru dana yang mereka peroleh sekian persen untuk pengembangan kompetensi guru dalam pembelajaran. Tetapi yang lain atau boleh jadi mayoritas masih untuk kepentingan dirinya sendiri diluar pendidikan. Tugas guru untuk memotivasi siswa agar tetap eksis dalam pembelajaran bukan sesuatu yang mudah tetapi tidak sulit, sebab hanya membutuhkan ketekunan guru dalam mengorganisir kelas yang terdiri persiapan pembelajaran, proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.Yang menjadi kendala bagi siswa adalah ketika guru sering terjebak dalam kegiatan rutinitas didalam kelas, yaitu guru masuk, memberi salam, menanyakan pelajaran, menerangkan, bertanya atau sedikit evalusi, selesai. Secara psychologis siswa membutuhkan pembaharuan  dalam setiap aktivitas pembelajaran sebagai motivasi dan inspirasi dalam mengalami setiap materi yang diterima dari guru. Apalagi siswa yang dihadapkan dengan guru kelas, ketika terjadi permasalahan sering berlarut- larut karena guru yang dihadapi hanya satu tidak pernah berganti sehingga suasana jadi monoton, ini sangat mengganggu keaktifan siswa dalam kegiatan di kelas.

Membuat siswa tertarik dalam pembelajaran, termotivasi, terinspirasi adalah  tugas setiap guru, dan itu tercermin dalam bagaimana cara guru menerangkan materi kepada para siswanya. Ketertarikan siswa dalam aktivitas di kelas ditandai ketika ia memahami setiap persoalan yang dihadapi dikelas, di sinilah guru harus memfungsikan dan membuat media semaksimal mungkin agar menjadi motivasi  dan inspirasi siswa dalam memahami setiap pembelajar.

Pengertian Media Pembelajaran

Hanafiah dan Suhana mendefinisikan, Media pembelajaran adalah segala bentuk perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar secara cepat,tepat, mudah, benar dan tidak terjadinya verbalisme ( Hanafiah dan Suhana, 2012). Sedangkan menurut Miarso, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa untuk belajar (dalam Susilana dan Riyana, 2008). Jadi media merupakan alat untuk merangsang para siswa melakukan proses pembelajaran lebih cepat, baik dan mengenai sasaran yang di tuju.   Para siswa biasanya dalam proses pembelajaran banyak yang terjebak dalam verbalisme atau kata- kata, siswa hanya menghafal, mengingat keterangan guru tetapi tidak bisa membayangkan secar  kongkrit  materi yang diajarakan. Proses seperti ini tidak akan lama membekas pada siswa atau bahkan sulit untuk disimpan dalam memori para siswa, tetapi kalau dibantu media mempercepat pemahaman dan lebih lama membekas dalam ingata siswa . Contoh guru mengajar Sain untuk kelas satu dengan pokok bahasan “Gerak Benda di Sekitar” dengan sub pokok bahasan “Bentuk Benda yang Mudah Bergerak”. Untuk menerangkan benda yang mudah bergerak bisa menggunakan media gambar becak yang mempunyai roda, gambar bola, gambar gerobak yang beroda dan lain sebagainya. Dengan cepat siswa akan menghubungkan peralatan-peralatan tersebut dengan benda yang sesungguhnya . Dan selanjutnya guru juga menampilkan gambar balok dan mengajak anak berimajinasi, bagaimana kalau roda becak atau grobak tersebut diganti dengan papan atau balok? Dan lebih konkrit anak bisa diajak keluar ruangan untuk melihat becak dan sepeda  sesungguhnya yang mudah ditarik atau didorong sedikit saja bisa langsung bergerak. Demikian juga siswa di suruh mendorong papan dan menyimpulkan, benda mana yang  mudah  bergerak ?.Dengan media- media seperti ini akan membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran serta mempunyai keseragaman atau kesamaan arti  dalam memahami materi pembelajaran. Dan yang lebih konkrit siswa mengalami sendiri pengalaman- pengalaman tersebut dan mendesain sendiri juga makna- makna dalam proses pembelajaran tersebut.

Urgensi  Media dalam Pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran sebenarnya terjadi aktivitas komonikasi atau   intraksi antara siswa dan guru, dalam interaksi tersebut guru menyampaikan pesan kepada siswa berupa materi pembelajaran. Proses menggalirnya pesan dari guru kepada siswa  membutuhkan perantara sebagai penghantar supaya pesan sampai ke alamat. Dalam dunia pendidikan lebih populer dengan istilah media pembelajaran. Guru mengajar dengan kapur, papan tulis atau buku- buku bacaan itu semua media pembelajaran yang umumnya dipakai didalam ruangan. Dalam proses komonikasi pembelajaran tersebut media masuk dalam komponen yang harus ada, jika media ditiadakan maka hilanglah arus komonikasi anatara kedua belah pihak (guru dan siswa). Pentingnya media dalam pembelajaran merupakan bagian integral dalam pembelajaran dan alat bantu bagi guru untuk memperjelas keterangan guru kepada siswa, apa lagi bagi guru yang kurang mempunyai ketrampilan mengajar, atau materi yang sangat abstrak karena belum dikenal sebelumnya. Seperti, mata pelajaran IPA kelas satu  bab 2 memelihara lingkungan, dibutuhkan media yang cocok dengan tujuan, materi pembelajaran, karena materi tersebut sangat abstrak bagi anak seusia kelas satu SD, maka dibutuhkan media untuk membantu siswa untuk mengalami sendiri dan memaknai materi yang diterima.

Bagi anak- anak seusia SD terutama kelas satu masih dekat dengan dunia permainan, anak pergi ke sekolah atau belajar belum menjadi kebutuhan tetapi karena hanya mengikuti keinginan orang tua. Banyak orang tua harus menunggu anaknya sampai pulang sekolah karena anaknya rewel dan itupun berlangsung samapai berbulan- bulan. Situasi seperti ini juga mengganggu masuknya arus informasi atau pesan yang disampaikan guru kepada siswanya. Tugas guru dalam pembelajaran ini membuat daya tarik pembelajaran menjadi dunia hiburan. Guru harus kreatif untuk melihat kesukaan para siswa, ada yang suka warna, gambar, permainan, gerakan, dan lain sebagainya. Kesukaan para siswa tersebut dapat di identifikasikan untuk dijadikan bahan acuan dalam  pembuatan media pembelajaran. Sedikit demi sedikit anak merasa senang dan tertarik dengan aktivitas didalam kelas dan bukan keterpaksaan, disamping itu merupakan proses evolusi penyesuaian lingkungan social yang baru.                                                                        Paulo Freire ahli pendidikan Brazil ini mengemukakan pandangannya tentang pembelajaran adalah praksis, yaitu anak berpikir, anak berkata dan anak berbuat (dalam Danajaya,2011). Dalam intraksi pembelajaran merupakan integrasi dari ketiga unsur tersebut yang terpadu dengan realitas social anak, maka anak bisa diajari secara praksis dilapangan. Pelajaran bahasa Indonesia contohnya, untuk anak kelas satu anak diajak mengenal dan menyebutkan benda- benda disekitar kita secara langsung, semisal ayam, suara ayam, Kucing, suara kucing dan lain sebagainya.Untuk binatang yang mudah di dapat sekitar kita anak bisa melihat langsung diluar kelas tanpa menggunakan media gambar. Bila ini yang dilaksanakan anak lebih praktis dalam berbahasa dan terintegrasi  berfikir anak dengan realitas lingkungan social sekitar. Dengan praktis seperti ini akan menjembatani kefakuman siswa dalam pembelajaran karena keterpaksaan dan diubah menjadi pembelajaran yang menyenangkan karena sudah menjadi kebutuhan anak/siswa. Kembali pada media kalau di ibaratkan bepergian adalah kendaraan, yang biasaanya kalau pergi dengan berjalan kaki dapat ditempuh satu jam tetapi kalau dengan media sepedah motor hanya 7 menit. Coba bayangkan kota Solo ke Jakarta dengan Kapal terbang hanya 40 menit, kalau ditempuh dengan berjalan kaki kira-kira berapa jam atau bahkan berapa hari? Kita sulit membayangkan. Dari sini dapat di pahami betapa pentingnya media untuk mempercepat pemahaman anak dalam pembelajaran. Sering guru ngomel sendiri, karena siswanya yang bernama si fulan dan si badu sulit diterangkan tidak seperti yang lainnya, bahkan sampai menyimpulkan dia berdua anak yang bodoh dikelas ini. Sebenarnya kalau digali tiap anak mempunyai kemampuan sendiri-sendiri, kemampuan yang ada pada anak itulah dapat dijadikan sumber imajinasi untuk membuat media pembelajaran. Mengoptimalkan guru agar memahami sebuah proses adalah bagian dari pembelajaran bahkan lebih penting dari pada hasil akhir, sebab dengan proses siswa akan mengalami materi yang diajarkan guru, sehingga dapat menangkap atau memberi makna tentang materi yang baru diterima dari guru. Keaktifan siswa dalam kelas merupakan inti dalam pembelajaaran, karena siswalah sebenarnya yang menjadi sobyek pendidikan pada saat sekarang, atau lebih dikenal dengan istilah pembelajaran berpusat pada siswa ( student Orented) sedangkan guru membantu siswa  dengan jalan menciptakan situasi kelas yang dapat menggerakkan aktivitas siswa. Agar aktivitas siswa dalam kelas dapat maksimal dan benar- benar terpusat pada siswa, maka siswa membutuhkan media sebagai alat untuk memperjelas pemahaman materi pembelajaran. Selanjutnya tuntutan bagi guru meracik proses pembelajaran dengan media sesuai dengan materi yang akan diajarkan kepada siswa.

Pemilihan  dan  Penerapan Media

Bagi guru pada saat sekarang sebenarnya tidak harus susah-susah membuat atau memilih  media pembelajaran, karena setiap materi pembelajaran sudah tersedia medianya di toko- toko buku, internet  mulai dari yang ringan sampai yang mahal, dan kalau guru kreatif membuat sendiri banyak bahan- bahan yang tersedia baik di toko atau lingkungan alam sekitar.Tetapi media yang berkualitas belum tentu yang mahal tetapi yang mampu memperjelas setiap materi dan mampu menginspirasikan siswa dalam mengembangkan pemahaman dari keterangan guru. Pemilihan media yang kurang tepat , bahkan sama sekali tidak relevan dapat mengurangi daya tangkap  siswa terhadap  bahan ajar yang sedang dipelajari( Setyosari, 2009). Kreativitas  guru untuk  menciptakan dan memilih media yang tepat akan menghemat waktu, tenaga dan mengintegrasikan siswa pada pembelajaran semaksimal mungkin, karena ada kesadaran dari siswa  bahwa dirinya bagian dari proses yang sedang di alaminya.Untuk mendapatkan media yang sesuai dan aspiratif guru harus memperhatikan beberapa hal terkait dengan perencenaan pembelajaran yang disesuaikan dengan  kondisi siswa dan ruang pembelajaran. Menurut Martinis Yamin ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih media pembelajaran, diantaranya ialah ; tujuan/ indicator, materi, sarana dan prasarana penunjang, karkteristik siswa (Yamin,2010). Ketika guru sudah mendapatkan media yang sesuai dengan empat hal tersebut, ada baiknya kalau pendapat dan saran dari Don Ely juga diperhatikan, yaitu unsur waktu, pembiyaan dan pengembangan program (Yamin,2010). Sehingga dalam pembuatan media harus juga dipertimbangkan prinsip  efektifitas  dan efesiensi. Media ada tetapi membutuhkan biaya yang mahal sehingga aktivitas tercurah pada pembuatan media, ini juga tidak layak untuk pembelajaran di kelas. Apalagi sampai menguras waktu dan tenaga yang banyak maka media harus diganti dan disesuaikan dengan kondisi guru, siswa, ruang kelas, faktor pendukung, dan pembiyaan. Karena media merupakan bagian dari proses pembelajaran dan alat bantu siswa dalam memahami materi pembelajaran, maka media harus familier dengan siswa sehingga siswa merasa tidak asing dan terbebani.

Kesimpulan                                                                                                                            Media merupakan bagian integral dari sistem pembelajaran yang berfungsi membantu memperjelas pemahaman siswa lewat pengalaman- pengalaman pembelajaran. Untuk memilih media harus disesuaikan dengan tujuan, materi, situasi dan kondisi siswa. Media yang berkualitas bukan ditentukan oleh mahal pembiayaannya tetapi ditentukan oleh efesiensi dan efektifitas dalam pencapaian tujuan  pembelajaran. Demikian juga media harus memberikan inspirasi pada siswa sehingga pikirannya berkembang dan siswa termotivasi dalam setiap pembelajaran.

*( penulis adalah guru SDN 2 Bangslan Sambit Ponorogo)

 DAFTAR PUSTAKA

Danajaya U, (2011), Media Pembelajaran Akrif, Bandung, Nuansa
Hanafiah N dan Suhana C, ( 2012). Konsep Strategi Pembelajaran, bandung, PT   Rafika             Aditama
Susilan R dan Riyana C, Media Pembelajaran; hakikat, Pengembangan,     pemenfaatan,dan P Menilaian, Bandung, Wacana prima
Yamin M, (2010). Kiat Membelajarkan Ssiswa, Jakarta, Penerbit Gaung Persada    Pres
Setyosari P, (2009). Pemanfaatan media, Malang, Departemen Pendidikan                         NasionalUniversitas Negeri Malang Panita Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 15

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: