|
Silahkan Baca
Artikel, Kreatifitas Guru

Kreativitas Guru Memotivasi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran di Kelas

  • Oleh : Mohamad Jamroji, S.Ag , S.Pd*
  • Terbit pada: Volume 6, Nop.2012

Ada cerita menarik dari seorang teman yang berprofesi sebagai seorang guru tentang suka dukanya selama menjadi guru, seperti biasanya ia (bu guru) memasuki kelas dan berdiri di depan kelas lalu bertanya’’ apa pelajarannya anak-anak? Sejarah bu guru….kemudian ia melihat anak-anak ke kiri, ke kanan dan ke belakang. Ternyata anak-anak ada yang bermain, merebahkan kepalanya di bangku, bergunjing dengan temannya, bahkan ada yang tidur. Padahal waktunya belum terlalu siang masih jam Sepuluh pagi. Ia kemudian duduk dan mendesah, dengan agak ragu dan kurang semangat melanjutkan mengajar seperti biasanya dengan metode favoritnya, yaitu ceramah. Setelah pelajaran selesai ia keluar kelas dan menceritakan kejadian yang tidak menyenagkan di dalam kelas tersebut dengan rekan gurunya di dalam kantor guru. Dalam diskusi tersebut ada pak guru yang berpendapat, materi mata pelajaran sejarah cenderung setatis kurang berkembang dan banyak materi yang sudah dikenal semenjak jenjang Sekolah Dasar ( SD), sambil memberi contoh, Proklamsi Kemerdekaan Indonesia mulai SD siswa sudah banyak mengenal, Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara untuk kelas VI dalam mata pelajaran PPKn hampir sama dengan dengan mata pelajaran sejarah kela XII IPS tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sekalipun penekanan filosofisnya berbeda tetapi materi pembelajaranya sama, sedikit banyak mempengarhui kejemuan anak dalam belajar. Sedangkan guru yang lain juga memberi masukan metode ceramah itu buang jauh- jaauh kalau perlu masukkaan almari kunci rapat-rapat jangan sampai keluar, sambil berargumentasi sejarah itu sastra harus kreatif menghibur. Pendapat yang terakir ini rupanya agak massuk akal juga pikir bu guru sejarah. Dan masih ada satu lagi pak guru yang berpendapat, sebenarnya mata pelajaran sejarah itu sama dengan mata pelajaran yang lain, kalau gurunya menggunakan itu-itu saja metodenya ya…akan ditinggalkan oleh siswanya, buat yang kreatif….kreatif..! .
Dari diskusi kecil ini bu guru sejarah tadi harus memeras otak untuk melakukan pemetaan silabus mapel sejarah, mengkaji Kompetensi Dasar, Setandar Kompetensi Dasar, Materi Pemeblajaranya, hingga mengotak atik indikatornya kemudian membuat RPP yang sesuai dengan watak materi yang akan disampaikan kepada siswanya. Dengan semangat baru dan penuh percaya diri, bu guru tersebut memasuki ruang kelas dengan suasana baru pula. Begitu memasuki kelas bu guru dengan lantang dengan mengepalkan tanganya, berteriak Merdeka…..! Hampir semua siswa hanya bengung, kemudian bu guru tanpa ragu, berteriak lagi Merdeka…! Beberapa siswa membalas sekalipun agak ragu, Merdeka…! Yang ketiga kalinya bu guru tersebut dengan tetap semangat berteriak, Merdeka…..!, dengan kompak semua siswa sekelas membalas dengan mengepalkan tangannya, Merdeka…!,luar biasa, Pekik Merdeka mampu menghipnotis siswa satu kelas. Bu guru ini meneruskan aksinya sambil bertanya, apa pelajaranya anak-anak? dengan serentak siswa menjawab, sejarah bu guru…. Kemudian bu guru mengeluarkan gambar dan menempelkan di papan tulis…kemudian bertanya, gambar apa ini anak-anak? Siswa saling berebutan menjawab, Peristiwa proklamasi bu guru…, masih tetap semangat bu guru melanjutkan aksinya, baik anak-anak sekarang kita akan belajar dengan pokok bahasan “proklamasi kemerdekaan Indonesia” tanpa basa basi anak-anak serentak tepuk tangan
Makna Kreativitas
Dialog kecil diatas memberi gambaran betapa perlunya kreativitas guru dalam pembelajaran sebagai motivasi guna membangkitkan seamangat siswa dalam belajar. Sebab siswa itu dalam belajar diibaratkan pohon yang sedang tumbuh dan berkembang, dalam proses pertumbuhan dan perkembangan dibutuhkan pengelolaan yang teratur, seperti memberi air, memupuk, membersihkan lingkungan sekitarnya dan lain sebagianya. Demikian juga dengan belajar dikelas, kreatifitas guru menjadi motivassi anak untuk belajar sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dalam bukunya “Teknik Kreativitas Pembelajaran” Sutejo memberi makna, kreatifitas merupakan fondasi bagi sebuah perubahan, ini bermakna kreativitas itu mental mengajar yang harus dimiliki bagi seorang guru. Kalau dalam mengajar guru mengesampingkan kreativitas, pembelajaran akan kehilangan rohnya, karena siswa mempunyai latar belakang ekonomi, social, budaya yang berbeda-beda pula, demikian juga materi yang diajarkan memiliki karakter yang berbeda- beda pula yang membutuhkan pengeloaan yang berbeda-beda. Untuk itu kesadaran akan kreativitas bagi seorang guru dalam proses pembelajaran merupakan bagian dari mekanisme pembelajaran. Dengan kreativitas memungkinkan guru menyelesaikan problem- problem baru terutama kefakuman kegiatan dikelas. Sebenarnya mengorganisir kreativitas dalam diri seorang guru itu tidak sulit, sebab kreativitas dapat dilaksanakan tidak harus dengan sesuatu yang baru secara mutlak, melainkan memanfaatkan sesuatu yang sudah ada tetapi belum pernah terpakai. Mengembangkan kreativitas mengajar tidak perlu biyaya yang mahal, tetapi memanfaatkan lingkungan sekitar, garakan guru, suara guru, atau menggunakan teknologi yang murah semisal radio dan lain sebagainya. Contoh, dalam menerangkan tentang pengertian sejarah, karena sejarah berasal dari bahasa Arab sajarotun yang berarti pohon, anak-anak bisa diajak ke kebun, kemudian disanalah guru menerangkan makna sejarah dengan media tumbuh-tumbuhan dengan nuansa alam terbuka. Atau bisa menggunakan suara dan gerakan , semisal ketika menerangkan pertempuran 10 Nopember di Surabaya, guru bisa menirukan bagaimana suara bung tomo, suara kapal terbang, bagaimna aksi rakyat Surabaya ketika mendapat ancaman dari sekutu, bahkan para siswa di beri kesempatan juga untuk meragakan para tokoh yang terlibat dalam pertempuran tersebut. Banyak jalan menuju Roma, kreativitas itu sederhana sebenarnya tetapi mahal maknanya, sebab kretivitas hanya memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitar kita menjadi karya nyata yang kemudian kita suguhkan sesuai dengan kebutuhan. Kalau kreativitas itu muncul setiap guru mengajar, para siswa pun akan bertanya, kapan bu guru sejarah mengajar lagi? Siswa bukan kangen pada gurunya tetapi kreativitas yang membuat hati mereka tidak jemu dan ragu. Lain halnya ketika guru miskin kreativitas , maka yang muncul adalah aksi tidur bersama atau nyanyian lagu nina bubuk.
Kreativitas dan Motivasi
Kreativitas guru dan motivasi belajar siswa seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan keberadaanya dalam proses pembelajaran. Kreativitas akan melahirkan motivasi dan selanjutnya memberi dorongan secara fisik maupun kejiwaan untuk aktif melakukan kegiatan belajar. Siswa malas belajar karena tidak mempunyai motivasi yang menggerakkan untuk melakukan aktivitas. Motivasi merupakan sesuatu pendorong yang merubah energi dalam diri seseorang menjadi suatu kegiatan nyata untuk mencapai tujuan tertentu ( Musbikin,2012).
Siswa enggan masuk kelas ketika bel berbunyi dan lebih senang duduk- duduk di taman, siswa malas mengerjakan pekerjaan rumah atau siswa tidak aktif dalam pembelajaran di kelas, ini tanda-tanda krisis energi dalam diri anak sebagai penggerak keaktifan belajar. Situasi seperti ini harus ditangkap oleh guru untuk menciptakan sesuatu yang baru, dari sini muncul motivasi bagi siswa untuk aktif belajar. Untuk memberikan motivasi pada siswa tidak harus berdiri dikelas dengan berorasi seperti Bung Karno atau Bung Tomo pada jaman perang kemerdekaan, sama sekali tidak. Sikap seperti itu harus di buang jauh-jauh, Talk Morning (obrolan pagi), ini salah satu metode yang ditawaarkan oleh Danajaya, ketika bel berbunyi smbil berjalan menuju ruang kelas, guru bisa berjalan bersama siswa sambil ngobrol tentang orang tuanya, hobinya, atau masalah-masalah ringan yang lain ( Danajaya, 2011). Ini pendekatan fisik dan rohani bagi siswa dengan materi yang ringan-ringan bisa mengusir kefakuman belajar. Dari sinilah diharapkan muncul kekuatan yang dapat menggerakkan anak untuk aktif, kreativ dan berinovasi dalam pembelajaran.
Pembelajaran merupakan proses belajar yang berpusat pada siswa (Student centered), siswa dilatih bertanggung jawab memaknai data-data yang baru, informasi yang baru dengan mengalami sendiri, Dewey memperkenalkan dengan istilah Learning by doing belajar sambil bekerja dalam belajar yang terpusat pada siswa dituntuk harus mengalami dan memaknai sendiri dengan bantuan guru. Dalm proses pembelajaran seperti ini membutuhkan kekuatan yang maksimal agar pembelajarannya juga maksimal, agar kondisi pembelajaran tetap dalam kondisi puncak, dibutuhkan motivasi sebagai kata kuncinya ( Hakim, 2010). Demikian juga siswa untuk aktif terlibat dalam pembelajaran tidak selamanya setabil, tetapi membutuhkan upaya-upaya untuk mengkondisikan dalam suasana harmonis, usaha-usaha semacam inilah sebenarnya yang dimaksud kreativitas guru.
Namun tidak selamanya kreativitas membuahkan motivasi, karena kreativitas juga membutuhkan keserasian dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Untuk itu setiap guru harus mengetahui tingkat perkembangan anak didik, sehingga apa yang disampaikan kepada siswa tidak sia-sia karena apa yang disampaikan melalui proses yang mengikuti perkembangan kognitif siswa. Untuk membantu guru agar mudah mengenali perkembangan kognitif anak, Piaget membagi tingkat perkembangan anak menjadi empat tahap, yang meliputi: 1) Tahap sensorimotor ( ketika anak berumur 1,5 tahun sampai 2 tahun), 2) tahap praoperasional (2/3 sampai 7/8 tahun), 3) tahaap oprasional konkrit (7/8 sampai 12/14 tahun), dan 4) tahap oprasional formal (14 tahun atau lebih). Semakin tinggi tingkat perkembangan kognitif siswa semakin teratur dan semakin abstrak ( Suyanto, 2009).
Pembelajaran di Kelas
Sebagaimana penulis jelaskan di muka, pembelajaran itu lebih berpuasat pada siswa yang merupakan peralihan dari paradigm lama (teacher orented) ke paradigma reformasi. Sedang kan cirri khas dalam proses pembelajaran di kelas adalah siswa aktif sebagaimana di jelaskan dalam peraturan pemerintah pasal 19, Standar Proses, PP No 19/ 2005, bahwa proses pendidikan dalam satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Mengorganisir kelas dengan suasana siswa aktif membutuhkan kreativitas dari guru dengan menciptakan metode pembelajaran yang memberikan ruang gerak bagi siswa berkreasi. Disini guru dituntut untuk menghilangkan paradigm lama yang secara filosofis tercermain dalam Folklore yang sudah lama mengakar dalam masyarakat jawa , yaitu” guru digugu lan di tiru” (jawa) guru itu harus dipercaya dan dicontoh, inilah yang menjadi dasar pemikiran masyarakat Jawa kususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang berpaham teacher orented .Ssehingga banyak aksi- aksi fisik ketika memberi hukuman kepada siswa, seperti pemukulan, menempeleng, berjemur di halaman kelas dan lain sebagainya.
Bagaimana seharusnya melaksanakan pembelajaran dikelas? Sesuai dengan Peraturan Pemerintah di atas pembelajaran di kelas harus dilaksanakan dengan menyenangkan, jangan ada pemikiran, mereka itu kan bukan anak kita, semua anak yang ada dikelas itu adalah anak kita, yang wajib kita didik dengan sebaik-baiknya. Barangkali dapat di ambil hikmahnya dari kisah Rosulullah, ketika Rrosulullah sedang berkotbah, beliau melihat cucunya hasan dan husen mendekat dengan pakain yang menarik, beliau turun dari mimbar mengangkat mereka dan meneruskan kutbahnya dan kedua anak itu dalam pangkuannya, Ketika bersujud beliau memanjangkan sujudnya, karena beliau tidak ingin menganggu cucunya yang berada di punggungnya ( dalam Rahmat,1994), demikian juga ketika Rosuluulah mengimami sholat tiba- tiba Rosulullah mempercepat sholatnya, ketika soholatnya sudah selesai sahabat bertanya, ya, Rosulullah mengapa sholatnya dipercepat, jawab Rosulullah karena aku mendengar anak menangis siapa tahu ia mencari ayahnya. Dari kisah ini dapat dipetik pelajaran bahwa Rosulullah mendidik dengan kasih sayang dan tentunya sangat menyenangkan.
Dalam paradigm baru sudah tidak ada guru yang memukul, membentak – bentak, mencaci maki ketika siswa terlambat atau tidak mengikuti nasihat gurunya. Sebab tugas guru bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, ketrampilan dan afektif kepada siswa , tetapi lebih dari itu harus mampu mengkondisikan kelas yang aktif dalam berbagai proses belajar yang meliputi; belajar penemuan, mandiri, belajar kelompok dan lain sebagainya (Yamin, 2010) yang tentunya tetap mengacu pada peraturan pemerintah di atas, yaitu belajar yang menyenangkan. Ketidak aktifan anak dalam kelas karena lebih disebabkan kuarang kreativan guru dalam membangun kultur kelas yang aktif dengan berbagai pendekatan. Kemampuan guru untuk mensiasati kultur kelas menjadi bermakna bagi siswa merupakan kunci utama keberhasilan pembelajaran di kelas, karena tugas guru sebagai fasilitator adalah bagaimana siswa dapat mengalami dalam pembelajaran hingga dapat menemukan, memaknai apa yang didapat selama proses pembelajaran. Aktifitas- aktifitas guru didalam kelas merupakan pancaran kejiwaan guru kepada siswanya, gerakan guru, suara guru, lirikan guru akan diterjemahkan oleh para siswa sampai ke hati mereka, maka jangan heran kalau itu semua akan jadi motivasi dan cambuk bagi para siswa atau juga bisa malah jadi momok, karena sikap guru kurang meneyenangkan. Sapa guru dengan kasih saying pada setiaap anak sangat dibutuhkan bagi para siswa, sentuhan jabatan tangan guru sewaktu memasuki ruang kelas maupun keluar ruang kelas di iringi dengan senyum merupakan implementasi kreativitas yang menjadi motivasi siswa baik dikelas maupun dirumah samapi menjelang tidur.
Kesimpulan
Pembelajaran aktif di kelas kunci utamanya adalah siswa sebagai subyek , siswalah yang memiliki aktivitas itu, sedangkan guru yang mensiasati agar situasi dan kondisi mampu dihayati dan dialami selanjutnya dimaknai oleh siswa. Dalam proses pembelajaran seperti kreativitas guru mempunyai peranan yang dominan dalam mengaktifkan siswa, agar siswa benar-benar memiliki kelas dalam arti menyeluruh, bukan hanya ruangannya tetapi segala aktivitasnya dapat di alami. Kreativitas itulah sejatinya yang melahirkan motivasi bagi siswa dan menumbhkan inspirasi yang menggerakkan dalam proses pembelajaran di kelas tersebut.
*Penulis adalah 1. Guru IPS pada SMK Pondok Pesantren Al-Islam Joresan Ponorogo 2. Guru Sejarah pada MA Pondok Pesantren Al-Islam Joresan Ponorogo
DAFTAR PUSTAKA

  • Andri hakim, (2010). Hypnosis in Teaching ; Cara Dahsyat Mendidik & Mengajar,  Jakarta, Visi Media
  • Danajaya U, (2011), Media Pembelajaran Akrif, bandung, Bandung, Nuansa
  • Hanafiah N dan Suhana C, ( 2012). Konsep Strategi Pembelajaran,        bandung, PT Rafika Aditama
  • Isjoni, (2009), Guru sebagai Motivator Perubahan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar  Musbikin I, ( 2012), Mengatsi Anak Mogok Sekolah + Malas Belajar,  Jonagjakarta,  Laksana
  • Rahmat  J, (1994), Islam Aktual, Bandung, Mizan
  • Susilan R dan Riyana C, Media Pembelajaran; hakikat, Pengembangan, pemenfaatan,dan P Menilaian, Bandung, Wacana prima
  • Suyanto, Kasiani KE, (2009), Model Pembelajaran, Malang, Badan Penyelenggara Rayon 5 Universitas Negeri Malang.
  • Sutejo, (2009), Teknik Kreativitas Pembelajaran, Yogyakarta, Pustaka Felicha
  •  Yamin M,(2010). Kiat Membelajarkan Ssiswa, Jakarta, Penerbit  gaung Persada Press

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: