|
Silahkan Baca
Artikel, Sains dan Teknologi

Yang Diharapkan, di Idamkan tetapi di Abaikan dari Laboratorium IPA

  •  Oleh : Sapar Soenardi
  • Terbit: Volume 6, Nop. 2012

Sesuai dengan tuntutan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA (sains) bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Proses Pembelajaran IPA (sains) ditekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Oleh karena itu pembelajaran IPA (sains) di SMP/MTs menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan ketrampilan proses dan sikap ilmiah

Dalam pembelajaran IPA (sains) menuntut adanya interaksi antara subyek belajar (siswa) dengan obyek yang dipelajari. Interaksi antara subyek belajar dan dengan obyek belajar sangat penting dalam pembelajaran sains. Agar dapat berinteraksi dengan obyek belajar maka guru perlu menyiapkan obyek yang dipelajari. Melalui interaksi ini diharapkan akan tercipta pengalaman belajar yang berkualitas tinggi karena subyek belajar dapat mengungkapkan gejala benda dan perristiwa secara langsung. Sesuai dengan teori konstruktivisme bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh subyek didik yang secara aktif tidak secara pasif menerima pengetahuan dari pendidik. Oleh karena itu pembelajaran diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusian berdasarkaan pengalaman konkret di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide serta pengembangan konsep baru (Mohammad Jauhari, 2011).

Dalam konteks pendidikan di sekolah laboratorium mempunyai fungsi sebagai wahana proses pembelajaran dengan metode praktikum yang dapat memberikan pengalaman belajar pada peserta didik untuk berinteraksi dengan alat dan bahan serta mengobservasi berbagai gejala secara langsung. Kegiatan di laboratorium berupa praktikum akan memberikan peran yang sangat besar terutama dalam; 1) membangun pemahaman konsep; 2) verifikasi (pembuktian) kebenaran konsep; 3) menumbuhkan ketrampilan proses (ketrampilan dasar bekerja ilmiah) secara afektif siswa; 4) menumbuhkan “rasa suka” dan motivasi terhadap pelajaran yang dipelajari; 5) melatih kemampuan psikomotor (Purwanti Widhy Hastuti: 2012).

Menitik petingnya laboratorium dalam proses pembelajaran seharusnya laboratorium dapat meningkatkan mutu dan motivasi siswa dalam belajar IPA (sains). Untuk itu maka keberadaan laboratorium dan peralatannya merupakan tuntutan yang sangat diharapkan bagi setiap penyenggeraran pendidikan di Indonesia. Sesuai data kepemilikan ruang laboratorium dan peralatan yang sesuai dengan PP Nomor 19 Tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan untuk Kabupaten Ponorogo sebagain berikut: 95% SMP Negeri telah memiliki ruang laboratorium IPA dan 60% SMP Negeri memiliki peralatan laboratorium yang sesuai dengan standar sarana dan prasarana yang telah ditetapkan pemerintah.

Peranan penting laboratorium dalam proses pendidikan  ini yang belum di sadari oleh pimpinan sekolah sehingga laboratorium berserta fungsinya masih diabaikan atau dikalahkan dengan yang lain. Hal ini dapat dilihat dari data penggunaan ruang laboratorium di SMP Negeri se-Kabupaten Ponorogo sebagai berikut: 70% ruang laboratorium  berfungsi sebagai mana mestinya, 30% ruang laboratorium di gunakan untuk kegiatan lainnya (ruang kelas, perpustakaan, gudang, atau ruang pertemuan).

Hal yang sangat diidamkan oleh siswa dalam pembelajaran IPA (sains)  apabila siswa dalam pembelajarannya menggunakan laboratorium sebagai sarana penunjang. Dengan pengelolaan laboratorium yang baik sangat membantu proses meningkatan mutu pembelajaran IPA (sains) pada sekolah tersebut. Pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Dengan pengelolaan maka proses pemberdayaan secara efektif dan efisien dapat tercapai secara optimal. Jika hal ini dilakukan  maka akan didapatkan beberapa hasil yang didapat siswa sebagai berikut: 1) Kegiatan laborotorium mengikuti prinsip “learning by doing” yang merupakan salah satu dari prinsip dasar pembelajaran; 2) Pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan bersifat percobaan menciptakan suatu kesan permanen dalam pikiran siswa; 3) Kegiatan praktikum memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan psikomotorik; 4) Melalui interaksi belajar siswa mampu bekerja sama,  memupuk rasa percaya diri dan berdisiplin yang mengantarkan mereka dalam menjalankan kehidupan sehari-hari; 5) siswa mendapatkan pelatihan dalam melakukan metode ilmiah  yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.(Asri Widowati: 2012)

Dan jika pengelolaan laboratorium tidak baik maka fungsi dan perang laboratorium untuk peningkatan mutu pembelajaran akan sangat rendah. Sementara ini para guru hanya melihat satu keberhasilan dalam proses pembelajaran dengan indikator Nilai Ujian Nasional (NUN) saja sehingga mengabaikan keterampilan proses siswa dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari keengganan guru IPA (sain) dalam menggunakan laboratorium. Dari data yang kami peroleh bahwa : 60% guru IPA melakukan pembelajran dengan praktikum sebanyak 0-1 kali dalam satu semester, 25% guru IPA melakukan pembelajran dengan praktikum sebanyak 2-3 kali dalam satu semester, 15% guru IPA melakukan pembelajaran dengan praktikum lebih dari 3 kali dalam satu semester. Keengganan guru untuk melakukan pembelajaran dengan praktikum antara lain:1) tidak adanya pengelolaan yang baik (laboran) sehingga guru garu menyiapkan alat dan bahan sediri sebelum praktikum hal ini akan menyita banya waktu; 2) tidak adanya lat dan bahan yang memadai; 3) ketidakyakinan guru bahwa dengan praktikum pembelajaran akan lebih bermakna; 4) guru beranggapan bahwa praktikum tidak akan keluar dalam ujian nasional; 5) keterbatasan kompetensi guru itu sendiri.

Melihat pentingnya laboratorium dalam pembelajaran IPA (sains), maka pemberdayaan fungsi haruslah mendapat perhatian dengan baik. Jika pegelolaan laboratorium di lakukan dengan baik secara otomatis akan mendorong para guru IPA (sains) untuk melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan laboratorium sebagai pusat pembelajaran sehingga siswa dapat belajar dengan lebih yang bermakna.

DAFTAR PUSTAKA

1.       Hastuti Widhy, Penataan, Pemeliharaan dan Penggunaan Alat Laboratorium IPA,  Yogjakarta: FPMIPA UNY, 2012.
2.       Jauhar Mohammad, Impemantasi PAIKEM dari Beharviorristik Sampai Konstruktivistik, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011.
3.       Widowati Asri, Program Kerja Laboratorium Sain, Yogjakarta: FPMIPA UNY, 2012.

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: