|
Silahkan Baca
Artikel, Kreatifitas Guru, Teknik Pembelajaran

Meningkatkan Kompetensi Speaking Dialog Siswa melalui Teknik Salam Bagi Sulap

Syahari, S.Pd, M.Pd.
(Guru SMPN 2 Kec. Slahung Ponorogo)

Terbit pada: Volume 6, No.2012

 Pendahuluan

Dibandingkan dengan kompetensi lainnya: mendengarkan, membaca, dan menulis, kompetensi berbicara/speaking monolog dari siswa SMPN 2 Kecamatan Slahung, Ponorogo masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang: salah mengucapkan kata bahasa Inggris ketika berbicara (pronunciation), mengalami kesulitan membuat kalimat dengan tata bahasa yang akurat (grammar), sulit untuk memahami makna dari lawan bicara (comprehension), tidak bisa berbicara dengan lancar (fuency), sulit untuk menggunakan kosa kata yang tepat ketika berbicara (Vocabulary), dan mendapatkan nilai Speaking dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75.

Masalah kompetensi speaking monolog juga ditunjukkan dari situasi di kelas. Banyak siswa memiliki motivasi yang rendah dalam berbicara bahasa Inggris, tidak ada interaksi yang baik antar siswa dan siswa dengan guru, beberapa siswa memiliki keterlibatan yang rendah dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, banyak siswa memiliki kepercayaan diri yang rendah untuk berbicara bahasa Inggris, dan siswa memiliki sedikit sekali  kesempatan untuk praktek berbicara monolog bahasa Inggris di kelas.

Semua indikator diatas membuat kegiatan Speaking monolog monoton dan membosankan bagi siswa. Permasalahan tersebut ada karena ada beberapa penyebab yang membuat kompetensi speaking masih membutuhkan perhatian lebih. Kegiatan praktek berbicara di kelas sering berupa “latihan pengulangan mekanik” (mechanical drill) di mana seorang siswa mengajukan pertanyaan dan siswa lain  menjawab, sementara pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya sudah terstruktur dan dapat diprediksi dan sering hanya ada satu jawaban yang benar. Kegiatan tersebut tidak membuat komunikasi yang sebenarnya (real communication) karena tidak ada informasi yang riil yang dipertukarkan. Kegiatan ini tidak menantang siswa untuk berbicara.

Oleh karena teknik speaking monolog selama ini tidak komunikatif dan membuat sedikit peningkatan,  maka penting sekali untuk memberikan teknik alternatif guna meningkatkan kompetensi siswa dalam berbicara. Setelah melalui pengalaman mengajar yang cukup lama, maka penulis menciptakan teknik pengajaran speaking yang penulis memberi nama SALAM BAGI CAWAN SULAP (Sajikan vocab, Latihkan ucapannya, Modelkan, Bagikan lembar wawancara, Cari Teman, Wawancarai, Susun, dan Laporkan).

Inti dari teknik SALAM BAGI CAWAN SULAP  adalah drilling atau latihan pengulangan ucapan, modeling atau pemodelan, dan interview atau wawancara. Ketiga kegiatan tersebut sebagai roh dari teknik di atas.

Drilling atau latihan pengulangan ucapan sebelum memulai pembelajaran akan sangat mendukung sekali dalam pengajaran speaking. Menurut Brown (2001: 272-273) selain drilling adalah bagian yang penting dari pengajaran bahasa yang komunikatif, ia juga menawarkan kesempatan bagi siswa untuk mendengar dan secara lisan mengulang elemen bahasa yang dianggap sulit baik fonologi maupun tata bahasa/grammar.

Feez dan Joyce (1998:29) berkomentar bahwa pada tahap modeling siswa dapat mengkonstruksi kembali teks, klausa, dan expresi-ekspresi yang sudah dipelajari pada pembelajaran bahasa Inggris bisa diterapkan dalam diri siswa secara langsung dan akan membekas. Lebih jauh Angelo (1991) mengungkapkan manfaat yang penting dari modeling dalam pembelajaran bahasa. Dia menjelaskan bahwa ketika siswa melakukan modeling dalam pembelajaran bahasa maka mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang “apa yang harus dilakukan, kapan dan dimana harus melakukan, dan bagaimana melakukan dengan benar”.

Interview terbukti teknik yang efektif bagi siswa untuk belajar bahasa khususnya bahasa lisan, speaking dan listening. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Kayi (2006) yang menyatakan bahwa dengan interview siswa dapat berbicara dengan banyak orang dan bebas memilih topic yang dikehendaki. Dia menambahkan bahwa teknik interview mempunyai beberapa keuntungan. Dengan rubric yang disediakan oleh guru, siswa akan mengetahui tipe pertanyaan apa yang dapat digunakan dan langkah-langkah apa yang harus diikuti untuk berkomunikasi.  Dengan melakukan interview akan memberikan siswa kesempatan untuk praktek kemampuan speaking yang tidak hanya di dalam kelas akan tetapi juga di luar kelas. Setelah saling interview, masih menurut Kayi, siswa dapat melaporkan hasilnya ke kelas atau ke guru guna lebih memantapkan kemampuan speakingnya.

Langkah-langkah Pengajaran dengan Teknik SALAM BAGI CAWAN SULAP

Teknik ini diawali dengan menyajikan vocabulary atau perbendaharaan kata yang akan diajarkan kepada siswa. Misalkan guru akan mengajarkan materi “Meminta dan Memberi Informasi” dengan tema meminta dan memberi informasi tentang arah atau tujuan (direction). Sebelum pelajaran dimulai guru menginventaris kata, frasa atau kalimat yang nanti sekiranya berkaitan dengan materi dan akan digunakan siswa dalam kegiatan speaking.  Mulailah dari yang paling sederhana ke yang lebih sulit. Dari pengalaman mengajar selama ini urutan mempelajari kosa kata yang membuat siswa lebih mudah dan tidak merasa sulit dalam belajar adalah: kata benda, kata kerja, kata sifat  atau kata keterangan, ungkapan-ungkapan, dan kalimat. Selanjutnya guru menampilkan perbedaharaan kata tersebut di papan tulis, lembaran kertas atau ditanyangkan dengan LCD.

Langkah berikutnya adalah mengedril ucapan atau pronunciation dari perbendaharaan kata yang telah ditampilkan tadi. Gunakan cara drilling dengan urutan SASA SUSU SASA (sama-sama, satu-satu, sama-sama), cara  ini istilah dari penulis sendiri. Maksud dari istilah di atas adalah bahwa ketika menyuruh siswa untuk menirukan ucapan/drilling dari perbendaharaan kata pertama kali guru harus menyuruh siswa secara bersama-sama, kemudian dilanjutkan satu-persatu, ini dimaksudkan untuk mengecek kebenaran ucapan dari tiap-tiap siswa. Kemudian drilling ketiga dilakukan sama-sama lagi, ini dimaksudkan untuk menyakinkan/memastikan siswa seluruh kelas bahwa ucapan yang benar seperti yang diucapkan sama-sama satu kelas tersebut. Ingat, guru tidak perlu menyuruh siswa satu- persatu seluruh kelas apabila ucapan siswa dirasa sudah benar dan tidak ada masalah.

Langkah selanjutnya adalah modelling. Karena materi yang kan diajarkan adalah meminta dan memberi informasi tentang arah atau tujuan maka modelingnya bisa menyuruh salah satu siswa maju ke depan kelas untuk bertanya jawab dengan guru (usahakan modelling pertama adalah guru dengan siswa, modelling kedua dan ketiga, jika dirasa perlu, sebaiknya dilakukan siswa dengan siswa), hal ini untuk mengantisipasi supaya siswa tidak stress, merasa sulit, dan guru bisa mengambil langkah-langkah antisipatif jika modelling macet atau gagal. Contoh modelling bisa dilihat di bawah ini:

Guru : Could you tell me the way to the market?

Siswa: Sure, from here go straight on about 200 metres, then you will see a crossroad,         turn right then you will find a mosque. The market is in front of the mosque.

Guru : Thank you.

Siswa: And could you tell me the way to BRI Bank? dst.

Berikutnya adalah membagikan lembar wawancara (interview sheet) dan lembar kerja (Students’ worksheet) kepada siswa. Lembar wawancara bisa berupa serangkaian perintah atau serangkaian  pertanyaan yang harus dilakukan atau dijawab siswa dengan cara mewancarai temannya. Karena temanya  meminta dan memberi informasi tentang arah atau tujuan maka kegiatan yang cocok adalah in a pair (berpasangan). Siswa yang sudah mendapatkan lembar wawancara disuruh mencari pasangan untuk diwawancarai. Mereka harus menulis nama teman yang diwawancarai di kolom “Names of Partners”. Lembar kerja bisa berupa informasi yang diperlukan untuk menjawab pewawancara (untuk siswa berkemampuan rendah dan sedang) atau informasi langsung dari yang diwawancarai sehingga tidak perlu lembar kerja (untuk siswa berkemampuan tinggi). Untuk lembar kerja sebaiknya menggunakan “Information Gap Activities” sehingga akan membuat kegiatan wawancara menarik, bermotivasi, membuat siswa berfikir,  dan komunikatif. Contoh dari lembar wawancara dan lembar kerja bisa dilihat dapat dilihat di bawah ini:

Langkah berikutnya sebelum sampai langkah mewancarai teman adalah mencari teman yang akan diwawancarai. Karena model wawancara secara in pairs maka siswa harus memilih seorang teman (partner) untuk diwawancarai secara bergantian. Setelah siswa A selesai mewancarai siswa B, kemudian ganti siswa B mewancarai siswa A. Menurut pengalaman penulis mengajar di berbagai tingkatan dan jenjang pendidikan, untuk tingkat TK dan SD akan lebih efectif kalau in pairs yang dilakukan melibatkan dua orang siswa yang sejenis (laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan). Hal ini disebabkan mereka malu apabila harus mewancarai lawan jenis. Untuk jenjang SMP sebaiknya mewancarai lawan jenis, bukan alasan malu tetapi dengan lawan jenis mereka akan lebih serius (malu apabila tidak bisa bertanya atau menjawab). Sedang jenjang SMA tidak ada pengaruhnya apakah sejenis atau lawan jenis.

Langkah berikutnya adalah mewancarai teman. Untuk kelas yang berkemampuan rendah dan sedang maka akan lebih baik apabila teknik wawancaranya adalah bergantian per item atau per pertanyaan. Setelah siswa A bertanya satu pertanyaan dan dijawab siswa B, siswa B ganti bertanya dan dijawab oleh siswa A dengan pertanyaan yang sama. Sedang untuk kelas dengan kemampuan tinggi maka akan lebih baik apabila siswa A menyelesaikan semua pertanyaan/tugas lalu dilanjutnkan siswa B dengan melakukan hal yang sama. Hal tersebut dikarenakan alasan efektifitas dan efesiensi. Dari pengalaman penulis maka akan lebih mudah mengelola kelas apabila kegiatan wawancara dilakukan di luar ruangan, bisa di bawah pohon di halaman sekolah, karena apabila dilakukan di dalam kelas siswa akan ramai atau gaduh. Disamping itu,  akan lebih mudah mengamati  kegiatan siswa apabila kegiatan dilakukan  di luar ruangan.

Langkah berikutnya adalah  menyusun laporan dari hasil wawancara yang baru dilakukan. Karena tujuan pembelajaran adalah melatih kemampuan speaking maka kegiatan penyusunan  laporan hasil wawancara hanya berupa draft atau ringkasan. Jangan terjebak pada kegiatan writing, dengan menyuruh siswa menyusun laporan secara detail dengan menggunakan tata bahasa yang baik.

Langkah terakhir adalah melaporkan hasil wawancara. Laporan hasil wawancara bisa ditujukan ke guru atau ke teman. Jika ke guru resikonya adalah memakan waktu lama karena harus dilakukan satu persatu. Efek baiknya adalah guru bisa mengamati atau menilai semua indikator speaking monolog (pronunciation, grammar, vocabulary, word order, dan fluency) tiap-tiap siswa.  Apabila laporan ditujukan ke siswa maka siswa harus memilih teman selain yang sudah diwawancarai. Hal ini dimaksudkan supaya teman yang dilapori akan memperhatikan apa yang siswa laporkan. Apabila cukup waktu dan guru menginginkan setiap siswa lebih kompeten pada kemampuan listeningnya maka guru bisa membuat tugas baru lagi,  yaitu siswa yang dilapori harus melaporkan ke siswa lain.

 Daftar Pustaka

Angelo, T. A. 1991. Ten Easy Pieces: Assessing Higher Learning in Four Dimensions. San Francisco: Jossey-Bass.
Brown, H. Douglas. 2001. Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. New York: A Pearson Education Company.
Feez, S., and H. Joyce. 1998. Text-Based Syllabus Design. Sydney: Macquarie University.
Kayi, Hayriye. 2006. Teaching Speaking: Activities to Promote Speaking in Second
Language. (Online), (http://unr.edu/homepage/hayriyek, diakses 13 Agustus 20012).

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: