|
Silahkan Baca
Artikel, Teknik Pembelajaran

Memancing Siswa Bercerita dengan Umpan Permainan Formasi Regu Tembak. Bagaimana…?

  • Oleh: Nurul Hidayati Alwahid*
  • Terbit pada: Volume 6, Nop.2012

Pembelajaran bahasa Indonesia tidak terlepas dari empat aspek keterampilan berbahasa yang terdiri dari keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat aspek tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain. Dalam berkomunikasi seseorang tidak hanya dituntut menguasai salah satu keterampilan berbahasa. Namun keempat keterampilan berbahasa harus dikuasai dengan baik dan benar. Dalam menguasai keterampilan berbicara, terlebih dahulu dituntut menguasai keterampilan menyimak. Sedangkan untuk menguasai keterampilan menulis, terlebih dahulu harus menguasai keterampilan membaca.

Henry Guntur Tarigan berpendapat bahwa dalam memperoleh keterampilan berbahasa harus melalui hubungan yang teratur, mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis (2008: 1). Keempat keterampilan tersebut memiliki hubungan yang berurutan.

Dari keempat keterampilan tersebut, keterampilan berbicara menjadi salah satu aspek berbahasa yang harus dikuasai. Keterampilan berbicara yang berada pada urutan kedua setelah menyimak, memiliki kedudukan yang cukup penting. Karena kesulitan dalam penguasaan keterampilan berbicara akan menghambat penguasaan ilmu pengetahuan lain. Hal tersebut dikarenakan berbicara merupakan salah satu cara untuk berinteraksi dan berkomunikasi.

Keterampilan berbicara yang dikuasai dengan baik akan meningkatkan interaksi dalam proses pembelajaran. Selain meningkatkan interaksi siswa di kelas, keterampilan berbicara dapat menumbuhkan interaksi siswa dengan guru, serta mempermudah interaksi sosial dalam diskusi bersama. Keterampilan berbicara erat kaitannya dengan keterampilan menyimak. Sebab dengan menyimak, maka seseorang mampu berbicara. Pernyataan tersebut semakin menguatkan kenyataan bahwa setiap aspek keterampilan berbahasa tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Dalam aspek keterampilan berbicara terdapat keterampilan dasar, yaitu berdialog, menyampaikan pengumunan, menyampaikan argumentasi, dan terakhir adalah bercerita. Hal tersebut sesuai pernyataan Mulyati, bahwa keterampilan dasar dalam berbicara telah dimiliki oleh setiap orang, hal ini dapat ditelusuri dalam interaksi antarindividu dan masyarakat (2009: 3.11). Sejalan dengan pendapat tersebut, keterampilan bercerita merupakan bagian dari keterampilan berbicara.

Namun dalam pembelajaran keterampilan bercerita sebagian siswa mengalami kesulitan. Rendahnya kemampuan dalam bercerita secara lisan, diakibatkan oleh banyak faktor, kurangnya strategi guru dan metode dalam penyampaian pembelajaran keterampilan bercerita adalah salah satu penyebabnya. Sehingga menimbulkan berbagai akibat, contoh kecil dari akibat tersebut ialah kesulitan siswa dalam menyusun kalimat yang baik dan mudah dipahami orang lain. Kalimat yang baik akan mempermudah pendengar untuk menerima pesan dan informasi yang disampaikan, serta diharapkan dapat memperbesar tingkat kesamaan pemahaman antara pembicara dan pendengar. Sehingga dapat memperkaya kemampuan dalam berkomunikasi.

Berdasarkan   harapan tersebut maka siswa harus dilatih menguasai keterampilan bercerita yang baik dan penggunaan kalimat yang mudah dipahami orang lain, sehingga mampu mengungkapkan pikiran, gagasan, dan perasaan. Hal tersebut yang menjadi ukuran keberhasilan dalam penguasaan keterampilan bercerita.

Keberhasilan dalam penguasaan keterampilan bercerita memerlukan teknik yang sesuai dengan karakteristik  siswa. Teknik yang diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, memotivasi serta menumbuhkan minat dalam belajar. Dalam memilih teknik yang sesuai tersebut sangat diperlukan peran guru yang kreatif. Tugas guru sebagai pengajar dan pendidik tidak hanya menyampaikan materi kepada siswa, namun perlu menciptakan lingkungan belajar yang sesuai dengan anak.

Penciptaan lingkungan tersebut sangat berhubungan dengan teknik yang dipilih dalam pembelajaran. Teknik dan metode pembelajaran sering kali dianggap sama dan terkadang dipakai dalam arti yang sama, meskipun keduanya berbeda. Pendekatan dan metode masih bersifat teoritis karena masih ada alat yang digunakan langsung oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu istilah  metode memiliki makna lebih luas daripada teknik.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, pada beberapa tahun ini telah dikenal berbagai inovasi pembelajaran. Salah satunya pembelajaran yang menggunakan pendekatan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Kata menyenangkan sebagai salah satu unsur dalam pembelajaran PAIKEM merupakan sebuah kondisi di mana anak mampu berpikir untuk menemukan pemahaman tentang informasi dalam suasana yang menyenangkan. Tidak ada cemooh, bentakan dan rasa takut selama proses pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran menyenangkan dapat memicu siswa menjadi aktif dan kreatif. Untuk menciptakan suasana yang menyenangkan khususnya di Sekolah Dasar, maka diciptakanya permainan dalam proses pembelajaran. Permainan sangat dekat dengan dunia anak, sehingga pembelajaran yang menggunakan teknik permainan mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa khususnya jenjang sekolah dasar.

Salah satu bentuk permainan dalam pembelajaran yaitu, teknik permainan formasi regu tembak. Teknik tersebut mungkin masih asing dibandingkan degan teknik-teknik pembelajaran lainnya. Bahkan mungkin sebagian belum pernah mengetahui apalagi menerapkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Formasi regu tembak menampilkan pasangan secara bergilir. Teknik tersebut dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Menurut Melvin L Silberman formasi regu tembak bisa digunakan untuk berbagai macam tujuan, dengan cara memberikan pertanyaan secara bertubi-tubi atau jenis tantangan lainnya (2006: 223).

Dalam teknik permainan formasi regu tembak digunakan kartu panduan yang akan dibagikan kepada siswa yang bertugas sebagai regu penembak. Dalam buku lain Melvin L Silberman menjelaskan bahwa kegunaan kartu panduan yang dibagikan kepada masing-masing peserta berisi tugas yang akan diiinstruksikan kepada siswa yang berada di hadapannya (2010: 224).”

Kartu panduan tersebut nantinya akan digunakan sebagai tugas yang harus dilakukan oleh peserta regu tertembak yang menerimanya. Teknik permainan formasi regu tembak dapat dipilih untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa khususnya keterampilan bercerita. Hal tersebut karena siswa dapat menguji atau melatih satu sama lain dan dapat bercerita lebih mudah serta lebih luas. Dengan adanya pertanyaan atau tantangan yang diberikan secara spontan maka akan membuat peserta didik merespon pertanyaan atau tantangan.

Permainan sebagai salah satu cara menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Sehingga permainan dapat menciptakan pembelajaran yang dapat menarik minat serta meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Dari uraian sebelumnya dapat ditemukan keterkaitan antara teknik permainan formasi regu tembak dengan keterampilan bercerita. Dengan penerapan teknik permainan tersebut akan memancing siswa merespon tantangan pada kertu panduan yang diberikan oleh temannya, respon yang diharapkan dalam bentuk cerita.

Siswa akan bercerita sesuai dengan isi kartu yang diterimanya dari regu penembak. Permainan foramasi regu tembak akan mempermudah siswa memunculkan keberaniannya untuk bercerita. Dengan adanya tantangan yang diberikan secara spontan diharapkan siswa mampu melakukan kegiatan bercerita dengan menggunakan bahasanya sendiri. Dari kegiatan pembelajaran dengan teknik permainan formasi regu tembak, dapat diketahui tingkat penguasaan keterampilan bercerita masing-masing siswa.

Daftar Pustaka

 Mulyati, Yeti, dkk. Keterampilan Berbahasa di SD. 2009. Jakarta: Universitas Terbuka.

Silberman, L. Melvin. 2006. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif (rev. Ed). Bandung: Nusamedia.

_______. 2010. 101 Cara Pelatihan dan Pembelajaran Aktif. Jakarta: PT. Indeks.

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (rev. Ed). Bandung: Angkasa.

Penulis adalah
GTT SDN 1 Tegalrejo Kec. Pulung Ponorogo

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

One thought on “Memancing Siswa Bercerita dengan Umpan Permainan Formasi Regu Tembak. Bagaimana…?

  1. memancinga daralah salah satu hiburan yang sangat digemari oleh orang – orang … mulai darianak – anak sampai dewasa menyenanginya karena merupakan pelepas rasa capek …..

    Posted by simashubby | 27 Maret 2013, 17:49

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: