|
Silahkan Baca
Artikel, Bimbingan Konseling, Profesi dan Karir

Mengenali Diri Mengembangkan Potensi

Oleh : Sumarno*

        “The  mediocre teacher tells, the goot teacher explains, the superior teacher demontrater, and the great teacher inspiris”. Guru biasa saja memberi tahu, guru yang baik menjelaskan, guru  yang pintar menunjukkan dan guru yang luar biasa mengilhami.  Kurang lebih seperti itu, bunyi  salah satu pepatah   Inggris. Berbicara guru tentu tidak akan bisa terlepas dari berbicara mengenai proses pembelajaran. Menyimak pepatah di atas sekiranya ada empat klasifikasi/kategori proses pembelajaran yang berkaitan erat dengan aktifitas  guru  di depan murid-muridnya. Jika dilihat dari aktifitasnya  di depan murid-murid dalam proses pembelajaran, maka kreteria guru sebagaimana tersebut di atas kurang lebih  dapat kita  maknai sebagai berikut.

           Yang pertama  guru biasa , yaitu guru yang hanya memberi tahu.  Mungkin kita pernah  sehari-hari bicara terus di depan  kelas  tanpa  memperhatikan kondisi dan respon  dari murid-murid kita.  Ibarat seorang pencari air, dengan bekerja keras kita  tumpahkan semua air yang kita  dapat  ke dalam wadah tanpa memperhatikan kapasitas daya tampung tempat yang ada di depan kita.  Bahkan sering terlupakan bahwa   wujud moncong dari wadah yang tersedia berbeda-beda. Mengisi gelas tentunya berbeda caranya dengan mengisi botol. Mengisi kolam pun  tentu tidak akan bisa disamakan dengan mengisi cerek. Demikian pula dengan potensi dan kepekaan daya tangkap anak di dalam satu kelas,  tentunya satu dengan yang lain akan berbeda-beda. Sehingga anak di dalam satu kelas tak mungkin bisa diperlakukan secara sama. Namun apa yang kita lakukan? Kita sering memperlakukan mereka secara klasikal, ini berarti secara sengaja atahu tidak sengaja kita telah memaksakan satu model pembelajaran kepada semua anak termasuk kepada mereka yang tidak cocok dengan model yang kita terapkan.

           Yang kedua guru bai, yaitu guru yang menjelaskan.  Dengan memberitahu saja kepada anak bahwa yang bersinar terang di siang hari itu  matahari, kiranya belum cukup bisa membuat anak mengerti, sebab yang bersinar di siang hari selain matahari masih ada yang lain.  Misalnya ada lampu sepeda motor, lampu mobil, lampu listrik dan lain sebagainya. Maka guru yang baik, tentu masih harus menjelaskan dengan bukti-bukti yang lebih lengkap kepada anak, bahwa matahari sebagai sumber dari segala sumber cahaya. Cahaya api dari sekam/kayu yang dibakar, awal mulanya berasal dari matahari melalui proses-proses  kimia maupun fisika termasuk cahaya pada lampu motor dan mobil atahu yang lainnya.   Dengan demikian pemahaman anak dalam proses pembelajaran akan lebih lengkap.

            Yang ketiga guru yang pintar itu menunjukkan.  Menunjukkan, berarti harus ada obyek (baik dalam bentuk benda asli/model/gambar) yang akan diperlihatkan, diamati, diteliti, diselidiki bahkan mungkin dibongkar dan dipasang oleh anak  dalam proses pembelajaran. Anak ibarat seseorang  yang buta dan tuli.  Bagaimana mereka yang buta bisa mempresentasikan wujud seekor gajah secara benar dan lengkap.  Bagaimana yang tuli bisa mendendangkan lagu  seperti yang dinyanyikan oleh H Oma Irama. Sehingga diharapkan, hasil belajar akan membentuk anak-anak yang memiliki kemampuan maksimal untuk mempresetasikan konsep-konsep yang tengah dipelajari. Hasil belajar tidak hanya tergantung pada  kondisi ruang kelas, tetapi bagaimana lingkungan sekolah, bahkan lebih luas lagi lingkungan tempat tinggal anak mampu berperan dan memberi warna pada proses pembelajaran. Sehingga dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini  lingkungan bisa diberdayakan  semaksimal mungkin untuk membuka cakrawala berfikir dan memperluas hasil belajar anak.

             Tipe keempat adalah guru yang luar biasa. Yaitu guru yang bisa memberikan inspirasi  kepada anak. Guru yang bisa menumbuhkan semangat belajar yang luar biasa kepada murid-muridnya. Guru yang mampu membangkitkan dan mengobati  kehausan anak pada ilmu pengetahuan . Guru yang dalam penampilan, tutur bahasa dan aktifitas sehari-harinya menjadi idola dari murid-muridnya. Bahkan dia bisa menjalankan dwifungsinya, sebagai sahabat sekaligus   pembimbing dari anak-anak.

Proses pembelajaran tidak lebih dari penanaman nilai-nilai dan konsep-konsep  kepada diri anak. Hanya saja  harus kita maklumi bahwa  jiwa anak bukanlah sebentuk wadah yang bisa kita isi sesuka hati kita. Anak memiliki pribadi  dan potensi yang bisa berkembang,  dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi  paham dan dari kurang terampil menjadi tangkas. Perkembangan jiwa dan pribadi anak sangat dipengaruhi oleh komunitas  lingkungannya. Anak lebih peka terhadap pengaruh orang-orang yang dekat dengan dirinya. Bahkan anak punya keinginan dan antusiasme yang tinggi untuk meniru  sosok yang menjadi idola mereka. Permasalahannya, bagaimana situasi dan kondisi  proses pembelajaran  bisa kita kemas sesuai dengan situasi dan kondisi kejiwaan anak saat proses pembelajaran kita laksanakan.

Sebagai orang tua, yang menurut kapasitasnya selaku  pembimbing, pendidik dan suritahuladan bagi  anak-anak, apa yang seharusnya kita lakukan? Perlu kita kaji  bersama, baik itu guru, orang tua atahupun tokoh masyarakat. Apakah penampilan, tutur bahasa  dan aktifitas sehari-hari kita  sudah  menjadi idola bagi mereka  atahu belum.  Jika penampilan, tutur bahasa dan aktifitas sehari-hari kita belum bisa memberikan  rangsangan dan daya tarik  terhadap perhatian anak, jangankan melarang, memintanya  untuk mengikuti apa yang kita ingini saja tak akan mungkin bisa  kita lakukan. Kalaupun bisa, tentu tidak akan bertahan lama, karena anak mengikuti kehendak  kita bukan atas keinginan dan kesadaran, melainkan karena keterpaksaan.

Hampir di setiap sekolah,  sering kita temui  masih banyak siswa yang memiliki perasaan takut atahu perasaan bersalah jika dipanggil untuk menghadap guru BP mereka.  Mengapa ? Tentunya beraneka ragam jawabannya. Mungkin di mata anak-anak, guru BP dianggap sebagai guru yang galak, guru yang  berperan sebagai hakim di sekolah. Guru  yang akan membuat mereka tidak naik kelas atahu tidak lulus ujian. Bahkan mungkin masih banyak lagi alasan lain yang mempengaruhi mengapa  anak-anak takut kepada guru BP. Atahu  bisa jadi, anak sendiri yang belum/tidak tahu apa makna dan tujuan belajar. Di era pendidikan yang tengah menggalang model pendidikan berkarakter dewasa ini selayaknya anak atahu orang tua murid memahami makna belajar dan tujuan pendidikan di mana anaknya tengah belajar. Sehingga semua kebijakan sekolah yang berkenaan dengan hak-hak anak sebagai murid di sekolah itu bisa diterima dan dimanfaatkan secara maksimal.  Misalnya jika si anak dalam ulangan semester ternyata belum tuntas belajar atahu nilai ulangannya belum mencapai KKM, apa yang seharusnya  dilakukan oleh si anak maupun orang tua murid ? Apakah si anak harus menyontek untuk memperoleh nilai setara KKM? Atahukah  orang tua mereka bersusah payah  mencarikan anaknya les prifat di luar sekolah? Sebenarnya memperoleh hasil belajar setara KKM adalah hak setiap anak dalam suatu proses pembelajaran. Namun pada kenyataannya hak ini tidak dimanfaatkan oleh si anak maupun orang tua murid. Si anak sering memanfaatkan jalan pintas untuk memperoleh nilai mencapai KKM dengan target naik kelas atahu lulus ujuan. Bahkan orang tua murid pun ikut kelabakan ke sana-ke mari mencarikan anaknya les prifat di luar sekolah. Kalau sudah seperti ini faktanya, siapa yang harus dipersalahkan? Dunia pendidikan, orang tua murid, si anak atahu guru di sekolah?  Ini bukan masalah benar dan salah. Tetapi fakta yang mesti dicari jalan pemecahannya.

Dari pengalaman di lapangan selama ini, baik di sekolah maupun di masyarakat masih banyak kita temui  penerapan konsep-konsep pembelajaran model behafiorisme yang mengedepankan perolehan fakta  (PF) dan pemberian informasi ( PI ), yang dampaknya hanya menghasilkan anak-anak yang secara kognitif pandai menghafal bukan memahami, secara afektif pandai mengenal, bukan menghayati dan secara psyicomotorik pandai menirukan tanpa tahu arah tujuannya. Sehingga hasil pendidikan kita hanya terlihat pada anak-anak yang “ber DANUN tinggi tetapi tidak siap berkreasi di lingkungan kerja.

Benjamin S Bloom melalui “Taxonomy of educational objectives” yang diterbitkan oleh Allyn and Bacon, Boston, MA Copyright © 1984 oleh pearson Education, sangat menghargai pendapat dan alasan anak. Di mana anak tidak harus selalu disalahkan, karena benar dan salah itu relatip sifatnya, tinggal dari kaca mata apa kita melihatnya. Lebih lanjut Bloom memberikan kerangka berfikir yang perlu dikembangkan melalui proses pembelajaran dengan  sistematika   yang praktis. Pengembangan kerangka berfikir ini rmulai dari mengenal fakta, mengenai  apa, kapan, siapa dan di mana.  Jika fakta sudah dikenal oleh anak, yang perlu ditanamkan adalah konsepnya. Penanaman konsep meliputi memahami pengertiannya, membuat definisi, menunjukkan ciri-ciri dan bentuknya. Tahap berikutnya yakni procedural, yaitu  mengenal dan mencermati  langkah-langkah/proses, cara dan teknik atahu cara kerjanya. Adapun urutan berfikir yang terakhir adalah prinsip. Yaitu pengalihan  dengan cara mengakumulasikan konsep dasar kepada fakta-fakta  dalam bentuk yang lain serta penerapannya dalam kehidupan yang disebut dengan life skil.  Dengan demikian akan dihasilkan anak-anak yang mengerti, cerdas dan terampil. Pepatah Jawa mengatakan “ dadia wong ngerti aja dadi wong pinter mundhak keblinger”Jadilah orang yang mengerti(paham) jangan menjadi orang yang hanya tahu,  sebab bisa jadi nantinya hanya untuk memperdaya orang lain. Sehingga dalam kontek ini peran dan fungsi kemampuan kognitif, afektif dan psyicomotorik dapat dikembangkan secara harmonis dan berkesinambungan. Setiap anak diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan dan kepekaan masing-masing. Tidak ada kata melarang anak, karena setiap aktifitas anak selalu dihargai dan dicarikan solusi pemecahannya. Perlu kita sadari bersama, bahwa sekolah adalah lembaga  tempat membina dan mendidik anak agar bisa mengerti dan berubah menjadi lebih baik. Sekolah bukan lembaga yuridis formal tempat mengadili dan memutuskan hukuman. Di sinilah peran dan fungsi mata pelajaran moral, budi pekerti dan aqlak mulia kita tanamkan pada diri anak. Sehingga diharapkan  proses pembelajaran yang kita laksanakan,  benar-benar proses pembelajaran yang berkarakter yang pada akhirnya akan dapat menghasilkan produk pendidikan dalam wujud siswa-siswi yang memiliki kepribadian, budi pekerti mulia sebagai cermin karakter bangsa.

Penulis adalah Kepala SDN 1 Bedoho

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: