|
Silahkan Baca
Artikel, Seni Budaya

Materi Seni Budaya Jangan Dipandang Hanya Sebagai Pelengkap Kurikulum

Oleh : Agus Widodo, S. Pd*

AgusSudah menjadi kebiasaan bagi  sekolah serta para peserta didik kita jika akan menghadapai ujian nasional selama ini belajarnya dirapel. Sementara waktu  ada yang mengadakan les atau pelajaran tambahan di dalam atau di luar sekolah . Kalau kita cermati hal ini terjadi disetiap jenjang pendidikan mulai dari  sekolah dasar kelas VI, ditingkat SMP kelas IX juga bagi kelas XII di tingkat SMA, Begitu juga bagi  para guru mata pelajaran yang diujikan nasional  tidak kurang-kurang usahanya supaya semua anak didiknya bisa berhasil belajarnya dan tiba saatnya ujian nanti  mereka dapat mengerjakan soal-soal dengan hasil nilai yang maksimal. Bahkan ada beberapa pendapat sebagiaan pendidik untuk sementara waktu untuk berkonsentrasi saja khusus pada mata pelajaran yang diujikan tingkat nasional. Demikian juga dengan motivasi dari orang tua berbagai usaha dilakukan misalkan dengan mendatangkan guru frivat untuk para putra-putrinya agar memperoleh materi pelajaran serta mendapatkan pengayaan di rumah. Sehingga seolah tiada waktu luang untuk bersantai kecuali difokuskan untuk menghadapi ujian nasional.

Melihat fakta yang penulis sampaikan tentunya hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi pada mata pelajaran yang lain khususnya mata pelajaran yang tidak diujikan ditingkat nasioanal misalnya Pendidikan Agama, Pkn, IPS, Bahasa daerah dan Seni Budaya. Dalam hal ini penulis mencoba mengulas tentang mata pelajaran yang berkaitan dengan seni budaya.

Sebelum kita bicara lebih lanjut, kita perlu mengulas sedikit tentang hubungan seni dengan kegiatan non seni. Menurut Drs. Sudarmadji dalam bukunya Dasar-dasar Kritik seni. Secara sosiologi, betapapun seorang seniman menghendaki kebebasan yang penuh, ia tidak mungkin – dari kodratnya- terlepas dalam hubungannya dengan masyarakat sekelilingnya. Berhubungan dengan masyarakat ini berarti pula berhubungan dengan berbagai sektor kegiatan. Baik yang bernama ekonomi, politik, agama, ilmu pengetahuan fisika, elektronika dan masih banyak lagi kegiatan yang lain. ( 1979 : 18 )

Selanjutnya kalau kita amati pelajaran yang satu ini sebenarnya gampang namun  jangan danggap gampang apalagi diremehkan. Hal yang lebih ekstrim lagi, masih ada yang beranggapan bahwa pelajaran ini tidak penting, terbukti masih ada sekolah yang mempunyai guru yang berlatar belakang pendidikannya tidak  relevan dengan kompetensi yang diajarkan yaitu seni budaya, namun mereka diberi tugas oleh kepala sekolah atau mungkin bagian kurikulum sekolah untuk mengajar mata pelajaran seni budaya. Sebagai contoh guru mata pelajaran olah raga diberi tugas mengajar seni budaya, kalau kita lihat sekilas mungkin ada sebagian materi dari mata pelajaran olah raga yang terkait dengan Seni, namun bukan berarti bahwa guru tersebut  pasti bisa mengajar secara maksimal tentang seni budaya. Akhirnya yang terjadi adalah masa bodoh yang penting pembelajaran tetap berlangsung. Namun demikian juga tidak menutup kemungkinan  seorang guru mata pelajaran yang lain ada yang mempunyai bakat di bidang seni, kalau yang terjadi semacam ini mungkin cara mengajarnya bisa maksimal. Namun dari jumlah yang sekian banyak ini hanya ada beberapa yang mempunyai bakat. Melihat fakta seperti ini kita tidak menyalahkan siapa dan siapa, pihak pemerintah sendiri dalam hal ini sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menata agar jumlah tenaga pendidik diseluruh wilayah Nusantara ini merata dan sesuai dengan kompetensinya atau relevansi dengan latar belakang pendidikan yang diperoleh. Kejadian ini dapat kita temui disekolah pinggiran atau kecamatan yang masih berada di daerah terpencil. Lain dengan sekolah yang ada dikota – kota sudah terpenuhi  tenaga pendidik dibidang seni budaya, sehingga tidak menjadi kendala bagi sekolah yang bersangkutan dalam melaksanakan kegiatan pembelajarannya.

Disamping kekurangan-kekurangan di atas masih ada saja beberapa program pelatihan atau kegiatan–kegiatan untuk meningkatkan mutu guru seni budaya yang diselenggarakan pemerintah agar menugaskan guru seni budaya di sekolahnya untuk mengikuti program-program ini. Karena sekolah tersebut tidak mempunyai guru yang berkompetensi di bidang seni, maka dengan terpaksa sekolah memberangkatkan guru seadanya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Karena kapasitas guru tersebut dipaksakan dan merasa kurang mampu maka hasil yang diperoleh  tidak bisa maksimal karena keterbatasan  pengetahuan estetikanya atau dengan kata lain amburadul. Padahal tujuan diadakan kegiatan semacam ini akan ditindaklanjuti disekolah untuk disampaikan pada anak didiknya dan dapat diterapkan di sekolah. Kalau saja hal ini kita sebagai pendidik belum memahami tentunya juga akan mempengaruhi hasil belajar yang akan diterima anak didik kita selanjutnya. Untuk menyikapi hal ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan kita, berbagai sektor dari pusat pemerintahan, kementerian aparatur negara, dinas pendidikan dan mungkin badan keuangan negara semuanya saling terkait serta perlu adanya wacana di massa mendatang untuk bisa diwujudkan.

Secara umum dapat  kita simpulkan dan diterjemahkan secara singkat pangertian seni segala manifestasi batin manusia yang tumbuh dan berkembang dan mempengaruhi prilaku kehidupan manusia. Dipersempit lagi pada pengertian seni yaitu segala hasil karya cipta manusia yang mengandung unsur  keindahan yang diciptakan oleh manusia dan lebih jauh dapat dinikmati oleh penciptanya kemudian ditransfer ke orang lain untuk di hargai dan dinikmatinya. Kalau menengok sejenak pengertian ini sebenarnya seni itu mata pelajaran yang menyenangkan, menarik, serta kebebasan menciptakan sesuatu keindahan. Menyenangkan adalah menghibur dalam arti penyegaran kembali. Menarik dapat pula berarti sesuatu yang sebelumnya diacuhkan atau tidak dipedulikan namun secara tiba-tiba muncul dalam benak batin kita rasa ingin melihat dan menikmati. Kebebasan dalam berolah seni maknanya adalah kebebasan berekspresi, tidak takut salah, berani bereksplorasi serta mengeluarkan gagasan, tidak ada keraguan dalam menuangkan ide serta mengeksresikan gagasannya sebebas-bebasnya tanpa ada keraguan. Berbagai macam tanggapan , gagasan atau pengertian tentang seni yang sangat luas dan ternyata tidak sulit untuk memahaminya. Dengan demikian jika semua pihak  mau belajar dan merespon hal ini tidak akan timbul rasa malas, takut, keraguan, malu  yang ada dalam benak kita hanyalah berpikir  positif.

Selain  itu, kita  juga mengharap pengertian orang tua dari para siswa yang selama ini mereka masih ada yang beranggapan serta mendoktrin bahwa mata pelajaran seni budaya tidak penting. Mereka menganggap bahwa anaknya nanti kelak memperoleh pekerjaan  untuk tidak menjadi seniman. Padahal melihat kondisi jaman sekarang yang serba modern kita harus bisa menyikapi dengan cara mencari  peluang kerja dimasa mendatang yang penuh dengan tantangan dan   kompetisi kehidupan .

Jika kita mau membuka mata peluang untuk kerja dari cabang seni sebenarnya sangat luas sekali dan masih sangat terbuka untuk generasi-generasi kita di masa mendatang. Bukan berarti  mengabaikan bidang studi yang lain sementara penulis ingin menonjolkan mata pelajaran seni  budaya ini. Semua mata pelajaran penting. Bagi yang ahli dibidang eksak kelak mungkin ingin menjadi seorang  ilmuan, bagi yang ahli sains  inginnya jadi ahli kesehatan dan masih banyak lagu. Namun bukan berarti yang senang  menekuni bidang seni itu kurang bermanfaat. Selama ini mata pelajaran seni budaya masih ada yang menganggap hanya sebagai pelengkap kurikulum semata di sekolah. Bertolak belakang dengan anggapan bahwa sebenarnya bicara tentang seni budaya atau kesenian itu tanpa disadari muncul dalam kehidupan ini setiap saat, setiap waktu,  bahkan ternyata juga mempengaruhi perilaku kita. Misalnya kita menggunakan busana yang selalu berkembang sesuai dengan berbagai motif, gaya, serta mengikuti  perkembangan jaman. Ternyata semua itu tanpa kita sadari  adalah merupakan hasil jerih payah para designer atau perancang busana yang tak lain adalah salah satu hasil pekerjaan seorang perupa.

Selanjutnya apabila  kita melihat tentang produk yang dihasilkan  oleh  industri atau  pabrik, tentunya tidak akan lepas dari campur tangan  para perupa dengan desain komunikasi visualnya yang hasilnya sangat komplek dan beragam. Untuk lebih jelasnya penulis mengajak pembaca untuk berilustrasi sejenak memperhatikan bebarapa contoh hasil kerja seni yang penulis amati berikut ini. misalnya: ( 1) Sebuah produk obat kimia  pembunuh serangga ( obat nyamuk ) cair. Seandainya obat ini  cara memasarkannya seperti menjual minyak curah atau minyak tanah yaitu diecer menggunakan alat literan, tentu saja harganya akan menjadi lebih murah , dari harga nominal yang 1 liter hanya Rp. 5000, bisa naik menjadi Rp.15.000 atau harganya menjadi tiga kali lipat, kenapa? Tanpa kita sadari bahwa peran orang-orang seni disebuah produk kimia juga  sangat menentukan. Karena sebuah produk tadi dikemas dengan kaleng atau botol yang dirancang dengan ragam hias yang indah, tentu saja hal ini dapat menarik calon konsumen  yang melihatnya, pembeli  tidak akan melihat kilas balik bahan serta produk yang seharusnya harganya tidak lebih dari Rp.5000,-. Karena produk ini didesain dengan  komposisi yang menarik ternyata harganya akan lebih menguntungkan produsen.  (2) Jika kita amati masih banyak lagi produk-produk makanan instan buatan pabrik berupa snack ( makanan ringan ) untuk anak-anak yang sudah banyak di jual di supermarket, toko-toko atau di  warung kecil. Apabila penyajian cara menjualnya produk tersebut dikemas dengan daun atau plastik polos tanpa adanya hiasan atau gambar yang menarik, sudah barang tentu  harganya mungkin seputar  Rp.500,  namun karena kemasannya dibuat dengan sedemikian menariknya maka harganya bisa mencapai Rp.1000. Dengan adanya tampilan kemasan yang menarik tentunya  anak kecil akan tergiur dengan   melihat gambar yang ada  dikemasannya.  Sehingga timbul rasa ingin membeli.

Selain itu masih ada kegiatan-kegiatan seni rupa yang ternyata bisa membuahkan hasil dan membuka peluang untuk berwirausaha misalkan Usaha percetakan, yang merupakan bagian dari seni grafis, contoh yang sederhana yaitu membuat cetak sablon, membuat stempel, papan nama, dan lain-lain. Tanpa disadari bahwa semua itu sebenarnya adalah hasil dari tangan-tangan yang terampil. Dan ternyata jika seni itu dipelajari secara  sungguh-sungguh bisa  menciptakan dan membuka peluang kerja.

Selain itu dalam bidang seni musik. Karya seni musik banyak kita rasakan disetiap saat muncul misalkan tampilan sebuah adegan drama, sinetron, film, dan lain-lain yang tentunya akan dapat menghidupkan, memperindah, atau mengharukan suasana, adegan tertentu. Sehingga musik ternyata tidak harus disajikan dalam bentuk orkestra, atau ansambel saja, namun juga difungsikan sebagai pendukung kegiatan seni yang lain. Namun banyak kendala dalam hal belajar musik tentunya, terutama bagi anak didik kita yang tidak bakat. Hal ini disebabkan banyak faktor, antara lain karena kurang motifasi orang tua, terbatasnya sarana dan prasarana di sekolah dan lain-lain. Tidak sedikit  siswa yang mau menekuni dibidang seni vocal ternyata juga tidak sia-sia . Baik seni musik yang modern atau seni musik tradisional. Kita sebagai pendidik seharusnya mempunyai pola pikir positif thinking .

Maka sangatlah keliru apabila selama ini masih ada yang menganggap bahwa mata pelajaran  seni tidak penting dan dikesampingkan. Dari beberapa uraian di atas jelaslah bahwa ternyata belajar seni budaya banyak manfaat dan  penting untuk diperhatikan oleh semua peserta didik. Dan tentunya kita sebagai pendidik harus bisa memberikan sebuah materi dengan berbagai pola atau tehnik mengajar yang menarik dengan menyesuaikan  kondisi dan situasi yang tepat dilingkungan sekolah setempat. Yaitu menggali dan memanfaatkan bahan atau media dari sumber daya alam yang ada. Sehingga belajar seni dapat terwujud  dengan  bahan atau media bukan sebagai kendala.

GURU SMPN 2 NGRAYUN

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: