|
Silahkan Baca
Artikel, Bimbingan Konseling, Psikologi

Pernahkah Anda Melakukan Kekerasan Verbal?

Oleh: Sapar Soenardi*

Sampai saat ini di Indonesia permasalahan yang berkaitan dengan anak masih sangat banyak antara lain: masalah pendidikan, kemiskinan, pekerja di bawah umur, penculikan, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga.  Sebuah undang-undang atau peraturan tertulis saja tidak cukup menjamin terpenuhinya hak-hak mereka. Kenyataannya, masih banyak anak Indonesia yang belum memperoleh jaminan terpenuhi hak-haknya, antara lain banyak yang menjadi korban kekerasan, penelantaran, eksploitasi, perlakuan salah, diskriminasi, dan perlakuan tidak manusiawi.

Semua tindakan kekerasan kepada anak-anak direkam dalam bawah sadar mereka dan dibawa sampai  pada masa dewasa, dan terus sepanjang hidupnya. Tindakan-tindakan di atas dapat dikategorikan sebagai child abuse atau perlakuan kejam terhadap anak-anak.  Untuk kasus kekerasan pada anak, undang-undang hanya melindungi anak dari kekerasan fisik semata, yang mana  anak juga harus mendapatkan perlindungan secara moral (psikhis) seperti halnya fisiknya.

Kekerasan Verbal

Tak heran banyak orang yang mengatakan bahwa lidah tak bertulang tapi lebih tajam daripada pedang. Jika pedang melukai ada bekasnya maka kalau lidah yang melukai tak ada bekas tapi sembuhnya jauh lebih lama dan sangat mungkin dibawa sampai mati. Rasulollah bersabda “Kalimat yang baik adalah sedekah”  (HR. Muslim).  Tanpa disadari, kita sering mengucapkan kata-kata yang tak pantas pada  anak-anak  baik di rumah maupun di sekolah. Perkataan yang telah kita  ucapkan tidak lain merupakan doa kita kepada anak. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah “Kullu kallam addu’a” yang artinya perkataan adalah doa (Kafemuslim.com)

Tak jarang kita melakukan perkataan yang tak pantas ini karena terdorong rasa emosi yang karena anak– anak kita nakal, kurang perhatian, kurang pandai, tidak peduli dengan lingkungan, dan dhablek. Jika kita tetap mengucapkan kata-kata yang tak pantas dengan demikian itu kita telah  melakukan kekerasan terhadap anak. Bentuk kekerasan terhadap anak dapat berupa kekerasan fisik maupun kekerasan verbal  atau kekerasan yang dilakukan lewat kata-kata yang menyakitkan. Kata-kata yang menyakitkan tersebut biasanya bermakna melecehkan kemampuan anak, menganggap anak sebagai sumber kesialan, mengecilkan arti si anak, memberikan julukan negatif kepada anak, dan memberikan kesan bahwa si anak tidak diharapkan (http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com/2008/04/kekerasan-verbal-terhadap-anak.html)  akan memiliki dampak jangka panjang terhadap perasaan anak dan dapat mempengaruhi citra diri mereka.

Beberapa perkataan  yang termasuk dalam kekerasan verbal: Panggilan yang meyebutkan ciri dari anak tersebut, contoh: gembrot, pesek, krempeng, bendol dan sebagainya. Panggilan yang menyebutkan ciri piskis anak tersebut, contoh: crewet, IQ jonkoh, otak dengkul, tolol, bodoh,  dan sebagainya. Panggilan yang menyebutkan tokoh yang kurang baik, contoh: limbok, togog, bagong, kancil. Perkataan yang merendahkan, contoh: Bisa apa anak kampong. Perkataan yang melecehkan, contoh: Gitu aja nggak bisa seperti anak Taman Kanak-kanak. Hal-hal tersebut merupakan contoh yang sering kita jumpai dalam kelas ketika guru sedang mengajar dan mungkin masih banyak kekerasan verbal lainnya yang belum penulis kemukakan dalam artikel ini.

Landasan Hukum

Untuk lebih bermakna dalam melakukan tugas atau aktivitas maka kita harus mengetahui dasar hukum atau norma yang berlaku dalam masyarakat tentang larangan kekerasan verbal antara lain: a. Norma agama. Dalam hal kekerasan verbal di Al Qur’an telah menyinggungnya pada beberapa ayat antar lain: …..Janganlah kamu memanggil dengan gelar–gelar yang buruk ( Qs: Al Hujurat ayat 11)…. Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya  seburuk-buruk suara ialah suara keledai     (Qs: Al Luqman 19). Dan hendaklah di antara kamu segolongan umat   yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada  yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar (Qs : Ali Imron 104)

Begitu juga dalam hadist Nabi Solallahu Alaihi Wasalam antara lain: Di surga terdapat kamar-kamar. Bagian luar bisa dilihat dari dalam dan bagian dalam bisa dilihat dari bagian luarnya bagi siapa, wahai Rosulullah bagi orang yang kata-katanya baik, memberi makan, dan sholat malam sementara orang -orang lain tidur (HR: Thabrani). Kalimat yang baik adalah sedekah (HR: Bukhari  dan Muslim). Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari kiamat hendaknya dia berbicara yang baik atau diam (Muttafag Alaih). Barang siapa yang menjaga lidah dan kemaluannya, niscaya dia masuk surga (HR: Thabrani). Berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadist di atas maka kekerasan verbal dalam Islam dilarang secara inplinsit maupun eksplisit.

b. Norma Hukum. Dalam hukum tata negara kita hal tentang kekerasan verbal telah diatur dalam KUHP antara lain: KUHP Pasal 351 tentang Kekerasan fisik mupun verbal. KUHP pasal 310 tentang pencemaran nama baik. Dua pasal ini barangkali dapat kita gunakan sebagai dasar pijakan untuk bersikap tentang kekerasan verbal.

c. Norma Susila dan norma kesopanan. Dalam kehidupan bermasyarakat kita perlu mengetahui adanya norma-norma yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat itu sendiri norma yang demikian itu biasanya sudah menjadi budaya dan sangat mungkin sebagai petuah dalam bentuk bahasa yang indah. Seperti halnya Ajining diri gumantung ana ning lati, ajining raga gumantung ana ning busana (artinya nama baik seseorang tercermin dari ucapan dan pakaian). Lidah tak bertulang tapi lebih tajam dari pada pedang. Karena lidah dapat binasa karena ucapan dapat celaka. Berkata jelek/mengejek adalah seburuk-buruk perkataan hamba dihadapan tuhannya.

Jika kita memperhatikan rujukkan di atas maka sangat naiflah jika kita melakukan kekerasan verbal terhadap anak ataupun peserta didik. Untuk itu kita harus mampu menahan diri  tidak melakukan kekerasan verbal dalam situasi dan kondisi apapun.

Dampak Negatif Dari Kekerasan Verbal

Dalam beberapa blog dan artikel yang pernah penulis baca tentang dampak negatif kekerasan verbal secara emosional dikemukakan oleh . Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M.Pd. (2008) antara lain: 1) Amarah, di dalamnya meliputi beringas, mengamuk, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan tindak kekerasan, dan kebencian patologis. 2) Kesedihan; didalamnya meliputi pedih, sering, muram, suram, kesepian, putus asa dan depresi. 3) Rasa takut; di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup khawatir, was-was, perasaan takut sekali, tidak tenang, panic. 4) Jengkel; di dalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual. 5) Malu; di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina dan hati hancur lebur

Dampaknya memang tidak terjadi secara langsung, namun melalui proses. Karena ucapan-ucapan bernada menghina dan merendahkan itu akan direkam dalam pita memori anak. Semakin lama, maka akan bertambah berat dan membuat anak memiliki citra negative. Sedangkan untuk emosional yang belum tertuang dalam seketika waktu maka emosional ini akan terpendam dalam kurung waktu tertentu. Pikiran emosional bereaksi terhadap masa lampau. Dalam konteks ini, Sigmund Freud melukiskan dengan bagus sekali, yakni bahwa seseorang yang pada masa kanak-kanak sering mendapatkan kekerasan verbal, maka setelah dewasa akan beraksi terhadap hardikan atau kemarahan dengan perasaan sangat takut atau dengan kebencian, meskipun sebenarnya hardikan atau kemarahan itu tidak lagi menimbulkan ancaman seperti yang pada masa lampau dialaminya (Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M.Pd. 2008). Hal semacam itu yang dapat menimbulkan balas dendam pada diri anak tersebut.

Kesan Anak Dalam Pembelajaran Tanpa Kekerasan Verbal

Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dikehendaki oleh guru sangat tergantung dari situasi dan kondisi piskologis peserta didik. Selain tujuan pembelajaran tercapai hal lain yang harus  terbangun antara lain: mendorong peserta didik lebih termotivasi, akan tumbuh rasa percaya diri, danjuga rasa nyaman. Menurut Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M.Pd. (2008).

Kondisi piskologis peserta didik yang harus tercipta agar dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya adalah: a) Pendidik menerima peserta didik secara positif sebagaimana adanya tanpa syarat, apapun peserta didik dengan segala  kelebihan atau kelemahannya. b) Pendidik menciptakan suasana dimana peserta didik tidak merasa terlalu dinilai oleh orang lain. c) Pendidik harus empati kepada pesertadidik yang artinya pendidik dapat memehami pemikiran, perasaan, dan perilaku peserta didik. d) Pendidik dapat menempatkan diri dalam situasi peserta didik  dan melihat situasi dari sudut pandang mereka.Keempat hal tersebut dapat tercipta dengan salah satu syarat pokoknya tidak terjadi kekerasan verbal dalam lingkungan tersebut baik pendidik kepada peserta didik atau antar peserta didik.

Setiap peserta didik memiliki perbedaan kemampuan, fisik, pola pikir dan daya kreasi, maka kita sebagai pendidik harus bisa menerima kekurangan peserta didik kita. Dan jangan sampai mengunkapkan kekurangan peserta didik kita jika itu kita lakukan berarti kita telah melakukan kekerasan verbal. Marilah kita menjaga lidah agar jika kita dihadapkan kepada yang tidak mengenakan  maka hindari berkata-kata dan perbanyaklah mengingat Allah dengan istighfar.

*Penulis adalah Guru IPA SMPN 2 Kec. Jenangan

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

One thought on “Pernahkah Anda Melakukan Kekerasan Verbal?

  1. Very great post. I just stumbled upon your blog and wanted
    to say that I’ve truly loved browsing your weblog posts.

    In any case I will be subscribing on your feed and I hope you write once more soon!

    Posted by king locksmith | 22 September 2014, 21:06

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: