|
Silahkan Baca
Artikel, Bimbingan Konseling

Peran Guru dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah

Oleh: Silvia Fransisca Sukma, S.Pd*                                                                           

Telah kita ketahui bersama bahwa dalam kurikulum 2006 yang selanjutnya dinamakan Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP), pemecahan masalah merupakan fokus pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal dan masalah dengan berbagai cara penyelesaiannya (dalam KTSP). Sedangkan menurut Hudojo (aisyah, 2007:5-3) mengemukakan bahwa pemecahan masalah pada dasarnya merupakan proses yang ditempuh oleh seseorang dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi sampai masalah itu tidak lagi menjadi masalah baginya. Dewasa ini pemecahan masalah sering dikaitkan dengan soal matematika berbentuk soal cerita dimana siswa harus memahami soal dan menemukan solusi atas permasalahan yang terdapat pada soal. Dalam penyelesaian soal tersebut, dapat ditempuh dengan cara tunggal yaitu menggunakan rumus, ada juga dengan menggunakan cara alternatif  dan bahkan ada soal yang dapat dipecahkan dengan cara bervariasi sesuai pemikiran siswa.

Menurut Gagne, belajar pemecahan masalah adalah tingkat tertinggi dari hirearki belajar (Bell, 1981 dalam dahar) karena pemecahan masalah merupakan suatu kegiatan penting dalam metematika sekolah, baik dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Setelah itu, diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Tipe soal pemecahan masalah yang terdapat pada setiap kelas berbeda tingkat kesukarannya. Semakin tinggi tingkatan kelas, maka semakin rumit pula soal pemecahan masalahnya. Sehingga secara berjenjang kemampuan siswa dalam memecahkan soal juga semakin terasah dari setiap tingkat. Namun dalam pembelajaran Matematika tipe soal pemecahan masalah, tidak sering siswa  mengalami kesulitan dalam penyelesaian soal sehingga matematika terutama pada soal pemecahan masalah menjadi momok tersendiri bagi siswa. Ketakutan dan ketidakmampuan inilah yang sering mengakibatkan rendahnya nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) siswa. Memang dalam pembelajaran pemecahan masalah siswa biasanya membutuhkan waktu cukup lama untuk mengembangkan kecakapan. Disini peran guru dibutuhkan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilannya menyelesaikan soal.

Peran guru boleh berbeda tergantung pada tingkatan kemampuan siswa pada problem solving tersebut. Kantowski (dalam Kaur Berinderjeet, 2008) telah menuliskan beberapa karakteristik pengembangan problem solving pada setiap level dan peran guru pada setiap level, sebagai berikut :

  1. 1.    Level I (Pengenalan)

 

Siswa hanya sedikit mempunyai, bahkan belum mempunyai pemahaman apa yang dimaksud dengan problem solving, apa maksud dari strateginya, atau apa struktur matematika dari permasalahannya. Kebanyakan siswa pada level ini, siswa masih belum tahu di mana harus memulai memecahkan suatu permasalahan yang tidak rutin ditemui.

Dalam level ini, guru mengasumsi peran sebuah model. Guru menyampaikan manfaat dari strategi untuk memecahkan masalah dengan berpikir “keras” dan mengenalkan siswa pada empat langkah pemecahan masalah menurut Polya.

Peran guru adalah mengenalkan langkah-langkah penyelesaian masalah menurut Polya yang terdiri atas empat langkah yaitu :

(1) Memahami masalah

(2) Merencanakan penyelesaian

(3) Menyelesaikan masalah

(4) Memeriksa kembali.

 

  1. 2.    Level II (Pemula)

     

Siswa mulai memahami maksud dari sebuah problem solving, strategi, dan struktur matematika dari permasalahan. Mereka mampu mengikuti cara orang lain dan terkadang menawarkan suatu strategi yang dapat dicoba untuk memecahkan masalah yang sama yang pernah mereka temui.  Walaupun mereka akan berpartisipasi secara aktif dalam sebuah kelompok kegiatan problem solving atau perintah secara berkelanjutan, karena banyak orang yang tidak mempunyai kepercayaan diri untuk menyelesaikan masalah sendiri.

Dalam level ini, guru bertindak sebagai penopang. Guru membimbing mereka dalam proses problem solving, menawarkan alternatif lain ketika siswa sampai pada kebuntuan.  Sediakan mereka permasalahan – permasalahan yang secara teratur, tertata, sehingga mereka bisa dengan senang menggunakan strategi yang telah mereka teliti sebelumnya.

 

  1. 3.    Level III (Pecandu/penggemar)

               

Siswa sudah mulai merasa nyaman menghadapai berbagai permasalahan.  Mereka menyarankan berbagai macam strategi yang berbeda berdasarkan dari beberapa masalah yang pernah mereka hadapi.  Mereka paham bahwa setiap permasalahan bisa saja mempunyai berbagai solusi pemecahan atau bahkan mereka tahu bahwa ada suatu masalah yang tidak memiliki solusi, walaupun beberapa asumsi telah dibuat.

Dalam level ini, guru berperan sebagai penyedia permasalahan. Guru memberi mereka permasalahan – permasalahan yang menantang dan lebih menantang lagi dengan tujuan untuk memperkuat kegunaan dari berbagai macam strategi serta untuk membantu mereka mengumpulkan pengalaman berkaitan dengan masalah – masalah yang pernah mereka hadapi demi kegunaan masa depan.

 

  1. 4.    Level IV (Ahli)

     

Pada level ini siswa sudah mampu memilih strategi yang cocok untuk memecahkan suatu permasalahan, dan biasanya telah berkali-kali sukses menemukan solusi dari setiap permasalahan.  Mereka menunjukkan ketertarikan dalam pemecahan masalah secara elegan dan mampu memecahkan masalah secara efisien, serta bisa menemukan lebih dari satu solusi pada permasalahan yang sama.   Mereka menyarankan variasi-variasi pada permasalahan lama  dan terus aktif dalam mencari permasalahan sebagai tantangan untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Dalam level ini, guru bertindak melayani siswa atau sebagai fasilitator. Guru memberi motivasi siswa dalam menyikapi suatu permasalahan dan memfasilitasi mereka dengan masalah yang berlainan.  Guru mendorong mereka untuk melihat dunia secara matematika dan mendorong mereka untuk melihat sumber permasalahan.

Setelah mengetahui, karakteristik dan peranan guru tersebut diharapkan guru dapat membimbing siswa dengan baik dan benar sesuai dengan karakteristik siswa dan dapat membimbing penyelesaian pemecahan masalah.

                                                              

*Penulis Adalah Guru SDN Serangan Kecamatan Mlarak

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

BSNP. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Direktorat Pendidikan dan kebudayaan.

Hudojo (aisyah, 2007:5-3).Belajar Pemecahan Masalah. Jakarta: PT.

Gagne dan Bell dalam Dahar, RaCakrawala. 1998. Teori Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Kantowski dalam Kaur Berinderjeet dalam Goenawan. 2008. Matematika Pemecahan Masalah. Malang. UM Press

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: