|
Silahkan Baca
Artikel, Idealisme

Pendidikan Pluralisme, Menu Apalagi Itu?

 Oleh: Agus Prasmono*)

Kasus-kasus yang berasal dari berbedaan, baik perbedaan etnis, agama, ras dan golongan (Sara) di negeri masih sering menghiasi halaman depan media massa. Waktu demi waktu seolah tidak pernah berhenti. Selesai khasus satu muncul kasus yang lain,  sehingga sering kemunculannya dijadikan alibi kasus lain pula. Indonesia merupakan negara yang paling bhineka di dunia. Dari manapun dilihat kita paling bhineka. Dari jumlah suku kita terbanyak, dari segi pulau kita tak ada tandingannya. Dari kekayaan alampun sulit mencari duanya di dunia. Dengan demikian keragaman bangsa ini sebenarnya ada pada semua lini dan segi kehidupan.

Dampak itu semua tentunya  manusia Indonesia juga sangat bhineka. Kebinekaan ini sekarang dikenal dengan istilah plural atau jamak. Sehingga dari muncul istilah pluralisme yang menurut KBBI berarti keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politik. Harapan pendiri republik ini dan tentunya harapan kita semua walau bangsa ini majemuk (Bhineka Tunggal Ika) namun tetap dalam satu kesatuan dan satu kerangka yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (KRI). Ini adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

 

Multikulturalisme

Masyarakat tradisional Indonesia ada yang menggap sebagai masyarakat yang paling santun dan lembut di dunia, sehinga menjadi bangsa yang aman dan stabil beratus tahun termasuk ketika 350 tahun mengalami masa penjajahan tidak begitu banyak bergolak. Baru ketika gelombang modernitas berjalan, masyarakat mengalami perubahan ke arah masyarakat yang penuh resiko setelah didahului munculnya kapitalisasi ekonomi. Akibatnya masyarakat modern akan selalu memikirkan bagai menghadapi masa depan. Sehingga pergerakan masyarakat mulai muncul dimana-mana.

Transformasi perubahan masyarakat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami puncak pertumbuhan di abad 18 maka menimbulkan dampak munculnya negara industri. Dalam masa ini diikuti dengan perkembangan pendidikan termasuk di Indonesia dengan munculnya politik etis.

Gelombang terdahsyat perkembangan kehidupan manusia adalah adanya globalisasi yang diawali dengan revolusi di bidang teknologi informasi. Globalisasi berakibat pemusatan ekonomi dan munculnya kapitalisme sementara kemiskinan bukannya berkurang namun terus bertambah. Perubahan radikal dari masyarakat tradisional ke modern dengan globalilasi telah menghasilkan suatu shoch yang menghancurkan sendi kehidupan sosial dan ekonomi terutama di negara berkembang, sehingga muncul penentang globalisasi yang disebut dengan Forum Sosial Dunia (FSD).

Sesuai dengan perkembangan informasi masyarakat sekarang memasuki masarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Dalam mayarakat ini modal bukan hanya berupa uang namun bisa berupa modal budaya, modal sosial, dan modal intelektual. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut maka masyarakat beranggapan bahwa setiap manusia punya jalan masing-masing dengan budaya masing-masing. Dengan demikian pendidikan bersifat pluralisme dan sejalan dengan itu mencul gelombang desentralisasi dalam pemerintahan.

Civil society (masyarakat madani)  telah menjadi  pokok diskursus yang sangat popoler di era reformasi. Reformasi menghasilkan gerakan-gerakan di masyarakat  yang melahirkan organisasi primordial dan organisasi modern lain sehingga melahirkan apa yang dinamakan LSM (NGO) yang terus bermunculan. Civil society bukan saja muncul di Indonesia namun merupakan gerakan global yang muncul dimana-mana di seluruh belahan dunia. Pokok gerakan civil society adalah adanya penghargaan kepada Hak azasi manusia dan kebebasan berpendapat dan berekspresi, namun dalam penerapannyapun mengalami fareasi yang sangat banyak dalam berbagai masyarakat.

Munculnya paham liberalisme yang dikemukakan oleh John Stuart Mill merupakan wujud ”memerdekakan” individu  yang meliputi kemerdekaan politik (kata hati), kemerdekaan cita-cita dan kemerdekaan bergabung dengan individu lain. Liberalisme dalam bidang politik merupakan oposisi terhadap aristokrasi. Dalam bidang ekonomi liberalisme tidak pisa dipisahkan dengan Adam Smith sang pelopornya. Sekitar tahun 1947 lahir faham baru yang ingin membebaskan ekonomi dari campur tangan pemerintah yang dikenal dengan neoliberalisme.  Demikian juga dibidang pendidikan neoliberalisme diterjemahkan sebagai komoditas yang tunduk pada hukum pasar sehingga muncullah sekolah dengan biaya super tinggi terlepas dari ”menu” apa yang ditawarkannya.

Perkembangan globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi (dunia maya) menghasilkan monokulturisme menghasilkan umpan balik berupa multikulturalisme. Multikulturisme mendapat baju baru yang bernama politik dan akhirnya menjadi penguasa perubahan di muka bumi ini. Multikulturisme yang berarti jamak (plural) dan kultur sehingga bisa diartika pluralisme yang mencakup pengakuan terhadap sosial, ekonomi, dan politik. Ada dua ciri utama gelombang pertama multikulturalisme yaitu kebutuhan terhadap pengakuan dan legitimasi keragaman budaya. Sedangkan pada gelombang kedua multikulturisme mengandung makna beberapa pemikiran seperti studi kultural, postkolonialisme, globalisasi, feminisme dan postfeminisme, teori ekonomi politik neo marxisme dan post stukturalisme.

Multikulturalisme dapat berkembang ke arah hipermultikulturalisme yang perlu dicermati seperti menganggap budaya sendiri paling baik, pertentangan antara budaya barat, dan pencarian terhadap indegenous culture (keranjingan terhadap budaya asli). Pergeseran nilai nasionalisme dari gerakan idiologis untuk mencapai kesatuan di era informasi terlah bergeser kearah gerakan ”Nasion” yaitu sebuah solidaritas kebangsaan dengan budaya suku yang ada didalamnya  dan ikatan primordialisme semakin kentara. Terlebih dengan bungkus otonomi daerah hal ini semakin trasparan. Masing-masing komunitas berkembang dengan budayanya sendiri, sehingga mempersatukan seluruh bangsa Indonesia merupakan kewajiban bersama dan semakin sulit untuk di implementasikan, karena masing-masing daerah telah menjadi sebuah kerajaan kecil.

 

Pendidikan Multikultural

Indonesia merupakan negara yang multikultural dengan keragaman  yang ada didalamnya mulai penduduk, luas wilayah, kondisi geografis, suku / ras, bahasa sampai kehidupan keagamaan. Beberapa permasalah seperti pertikaian antar ras/suku, antar agama, antar wilayah sampai antar pendukung tokoh dan partai tertentu merupakan bukti dari dampak multikulturalisme ini. Berdasarkan kondisi tersebut pendidikan dianggap sebagai sarana paling manjur untuk memecahkan permasalahan tersebut maka ditawarkanlah pendidikan multikulturalisme  yang memberi alternatif melalui penerapan stategi dan konsep pendidikan berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat sehingga timbul kesadaran dan perilaku humanis, pluralis dan demokratis.

Pendidikan multikultur telah lama berkembang di Amerika dan Eropa serta beberapa negara maju lainnya. Pada perkembangannya studi ini bertujuan untuk menjaga agar populasi mayoritas dapat bersikap toleran terhadap imigran baru dengan tujuan politis sebagai alat kontrol penguasa terhadap warganya agar kondisi negara aman dan stabil. Dalam perkembangannya tujuan politis ditepis  sehingga ruh pendidikan multikultural adalah humanisme, pluralisme dan demokrasi, bahkan akhirnya menjadi motor penggerak gerakan tersebut.

Agama yang seharusnya menjadi pendorong bagi umat manusia untuk menegakkan perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan, namun dalam kehidupan nyata banyak konflik yang berasal karenannya. Konflik agama ini sering dimulai dari penistaan agama dan superioritas  atau kecemburuan sosial. Untuk itu perlu tindakan preventif agar pertentangan agama tidak terulang dengan pendidikan pluralisme  untuk mengajarkan perdamaian dan resolusi konflik.

Agama dan kultur tidak bisa dipisahkan karena kemunculannya merupakan upaya manusia untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya. Permasalahan yang dihadapi masyarakat kelompok tertentu  biasanya mempunyai karakter kultural yang sama dengan kultur yang ada. Namun dalam perkembangannya agama bukan menjadi milik masyarakat kultur tertentu, namun gama dapat menjadi milik masyarakat dengan kultur yang berbeda. Dengan demikian menimbulkan penyesuaian antara agama dengan kultur yang ada. Kondisi ini dapat  menimbulkan pemahaman yang berbeda terhadap agama tertentu, sehingga menimbulkan sifat inklusif pada agama yang dianutnya.

Keragaman bahasa di  Indonesia mau tidak mau turut mempengaruhi perkembangan masyarakat multilingual dengan tumbuhnya sikap primordialisme kebahasaan. Untuk itu dalam pendidikan multikultural seorang guru harus mampu membangun kesadaran peserta didik agar mampu melihat sisi positif keragaman bahasa tersebut dan mereka kelak mampu menjaga keragaman bahasa tersebut.

Pandangan masyarakat terhadap perbedaan gender juga bermakna kurang baik terhadap persamaan hak dan kerajiban antara laki-laki dan perempuan. Kecenderungan memposisikan superior laki-laki di masyarakat bisa menimbulkan masalah gender seperti pemingiran hak perempuan, kekerasan terhadap perempuan, hilangnya peran strategis perempuan dalam masyarakat. Dalam hal ini guru harus mampu membangun kesadaran siswa terhadap kesetaraan gender dan anti diskriminasi gender di sekolah dan di masyarakat kelak tanpa harus meninggalkan kodrat sebagai wanita.

Krisis sosial yang sering melanda negeri ini sebenarnya tidak lepas dari meluasnya berbagai persoalan sosial yang terus meluas dan menjadi-jadi belakangan ini. Kemiskinan, pengangguran, kejahatan, KKN, kurupsi, dan kebijangan ekonomi yang mementingkan kelompok tertentu merupakan faktor yang memperkeruh krisis multidimensi. Dalam kasus ini yang paling dirugikan tetap kelas masyarakat terendah. Untuk mengatasi permasalahan diatas ada beberapa langkah strategis yang harus dilakukan oleh pemerintah seperti:  penegakan hukum tanpa pandang bulu,  mengurangi ketergantungan terhadap negara asing, pemberdayan ekonomi kerakyatan untuk mengurangi pengangguran, reorientasi pembangunan industri ke arah industri yang mengolah sumber daya alam yang ada menjadi kebutuhan masyarakat kita dengan lebih banyak menyerap tenaga kerja lokal.

Keragaman etnis merupakan kenyataan yang harus diterima oleh masyarakat Indonesia yang bhineka. Kekerasan yang berlatar belakang konflik antar etnis masih sering terjadi di Indonesia. Dalam dunia pendidikan, Guru punya peran yang sangat strategis dalam mebangun kerukunan antar etnis. Seorang guru bukan saja harus mampu mengembangkan fikir peserta didik namun lebih dari itu harus mampu menggugah kesadaran peserta didik untuk bersikap fair, adil, menghargai, menghormati dan yang lebih penting menghargai etnis lain sebagai bagian kehidupan mereka dimana keregaman etnis harus dianggab sebagai sebuah kekuatan ketika terjadi persatuan dan kerukunan. Untuk itu perangkat hukum dan pelatihan khusus memang harus diadakan dalam rangka mendukung gerakan  untuk mempersatukan atnis tersebut. Salah satu perangkat hukum itu adalah terus dibenahinya kurikulum disesusaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat yang terus berkembang. Perubahan kurikulum tidak boleh dianggab kebijakan menteri tertentu namun merupakan kebutuhan yang tak boleh ditunda lagi.

 

Bagaimana Pluralisme Dalam Pendidikan Di Sekolah?

Melihat permasalahan seperti diuraikan diatas, maka pendidikan multikultural merupakan suatu keniscayaan  yang tidak mungkin dihindari. Problematika masyarakat modern yang beragam, mayoritas berasal dari keragaman mereka itu sendiri, bukan sekedar dari permasalahan pemenuhan kebutuhan pokok. Ketika kebutuhan pokok sudah dipenuhi dengan kemakmuran sudah tercapai maka aktualisasi diri masing-masing golongan akan semakin muncul untuk membuktikan kebesaran, kekuatan dan superior masing-masing kelompok tersebut. Demikian juga ketika terjadi pemusatan kekuatan ekonomi dan politik pada golongan tertentu, maka ancaman diskriminasi merupakan ancaman laten yang bisa muncul disetiap kesempatan yang memungkinkan.

Untuk menghadapi permasalahan tersebut maka dalam masyarakat harus ditanamkan tentang indahnya keragaman (pluralisme) tanpa harus merendahkan kelompok lain. Hidup berdampingan sebagai wujud masyarakat madani harus ditanamkan sebagai bagian dari cita-cita penting pendiri republik ini seperti ketika para pendiri republik yang berasal dari beraneka golongan, ras, agama dan etnis namun mampu bersatu padu dalam membentuk negara kesatuan yang dinamakan Republik Indonesia ini.

Untuk membangun masyarakat ini tentunya yang paling awal adalah melalui pendidikan di sekolah. Demi kelangsungan ini maka yang pertama adalah perangkat hukum dalam pelaksanaan harus tersedia demi kenyamanan dan perlindungan pelaksanaan. Yang kedua adalah seluruh stakesholder pendidikan harus memahami tentang arti penting pendidikan multikultural ini dengan pelatihan-pelatihan sehingga terbentuk pemahaman yang relatif sama tentang arti penting pendidikan multikultur ini. Ketiga kurikulum harus disiapkan dalam implementasi di sekolah. Era otonomi daerah telah membuka peluang daerah untuk membangun kultur mereka dengan kurikulum yang berbasis pada keunggulan lokal, namun harus disadari bahwa kepentingan nasional merupakan kepentingan utama yang tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan manapun. Semua guru harus menanamkan arti penting pendidikan multikutural ini tanpa melihat mata pelajaran apa yang diajarkan kepada siswa. Pendidikan multikultur terintegrasi dengan pendidikan lain rupanya sangat mudah untuk dilaksanakan. Dan perlu diingat bahwa Pluralisme bukan mencampuradukkan keragaman namun hiduplah berdampingan dalam kondisi yang beragam. Lakum dinukum waliyadin.

*) Penulis adalah Guru SMAN 3 Ponorogo

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: