|
Silahkan Baca
Artikel, Pendidikan Karakter

Menanamkan Pendidikan Karakter Bangsa Pada Anak Melalui Dongeng

Oleh: Fajar Supariawan*

 

abMenurut kamus Besar Bahasa Indonesia, dongeng berarti cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Saat ini jarang sekali guru yang mau menggunakan dongeng sebagai cara untuk menyampaikan pesan atau amanat dalam sebuah  pembelajaran. Bahkan para orang tuapun sudah enggan memakai dongeng untuk meninabobokkan putra tercintanya sesaat sebelum tidur.

Kita tahu bahwa dongeng merupakan salah satu cara yang ampuh untuk menanamkan berbagai karakter pada diri pendengarnya. Anak TK, SD, SMP, SMA, bahkan orang tuapun sangat menyukai  jika mendengarkan dongeng. Sebagai pendidik kita tentu prihatin jika sudah jarang kita temui para guru terlihat dan terdengar mendongeng di depan kelas. Penyebab keadaan ini antara lain : 1. Masih banyak guru terfokus pada hasil akhir, bukan pada sebuah proses pembelajaran, 2. Sedikitnya pengetahun guru tentang berbagai  dongeng atau cerita rakyat, dikarenakan kurangnya membaca, 3. Kurangnya kemampuan guru untuk mendongeng, baik, sikap, intonasi, mimik, maupun ekspresi lainnya yang mencerminkan tokoh-tokoh dalam dongeng, 4. Masih adanya rasa malu dan canggung jika harus bersikap total dalam mendongeng, seperti menangis, bersuara anak-anak, bersuara perempuan, dan lain sebagainya.

Dalam Undang Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Bab II pasal 3 berbunyi “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis  serta bertanggung jawab”.   Maka salah satu tugas pokok pendidik adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan menanam dan menumbuhkan pewarisan nilai-nilai hidup sebagai suatu bangsa yang mempunyai cita-cita luhur berdasarkan Pancasila. Berkenaan dengan hal tersebut,  berbagai cara harus dilakukan agar tujuan pendidikan yang ingin dicapai dan karakter bangsa yang diharapkan bisa masuk dan tertanam pada mental anak didik.

Menurut Deni Koswara dan Halimah dalam  Seluk Beluk Profesi Guru (2008), salah satu peran sentral pendidik di sekolah adalah mempromosikan soft-skill bagi para siswanya. Peranan ini tidak dapat diambil alih oleh kemajuan Teknologi Informasi yang paling canggih sekalipun. Soft skill itu sendiri meliputi: kejujuran, penghargaan, sikap toleran, kemampuan mendengar, empati, kerjasama, sikap sopan dan santun dalam berperilaku, disiplin dan kontrol diri. Hal ini hanya dapat dipromosikan oleh para pendidik yang mau peduli akan pentingnya karakter bangsa, tidak hanya dengan teknologi. Maka keistimewaan sekolah-sekolah abad 21 ada dua yaitu (a) kemampuan para pendidik menggunakan teknologi dalam pembelajaran, dan (b) kemampuan para pendidik mentransfer nilai-nilai kehidupan (living values) pada setiap peserta didik yang belajar di sekolah tersebut.

Salah satu cara penanaman soft skill tadi adalah dengan mendongeng. Tentunya kita sering mendengar bahwa tingkat minat baca anak didik kita mengalami kemerosotan. Dengan mendongeng, dimana anak pasif (hanya menyimak dan mendengarkan), memungkinkan anak, baik yang rajin maupun malas akan larut dan ikut dalam suasana  mendengarkan yang baik. Untuk menambah ketertarikan anak, tentu kita sebagai pendongeng harus  total memahami jalan cerita dari dongeng  itu sendiri. Penampilan  pendongeng yang tidak membosankan, lafal dan intonasi sesuai  tokoh, serta ekspresi penjiwaan yang bisa mewakili suasana alur cerita, akan membuat anak terfokus pada dongeng tersebut.

Selain itu, penggunaan berbagai alat/media juga sangat diperlukan. Misalnya, kentongan, sepatu (yang dihentakkan ke lantai), papan tulis, dan benda-benda lain yang ada di sekitar kelas. Hal ini dapat menambah variatifnya gaya mendongeng dan antusiasnya anak didik. Penggunaan benda-benda di sekitar juga memudahkan guru dalam persiapan, mengurangi biaya, dan menyadarkan kita bahwa bagaimanapun wujud  dan bentuk barang itu, masih dapat digunakan dalam pembelajaran. Disinilah guru ditantang  untuk terus berkreasi dan berinovasi tiada henti. Kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan bagaimanpun kita harus siap mengerahkan segala daya upaya, agar murid punya fighting spirit dalam belajar.

Faktor yang tak kalah pentingnya dari model pembelajaran melalui dongeng adalah siswa itu sendiri. Meskipun kita sudah mengerahkan energi dan antusias serta pendekatan pembelajaran melalui dongeng yang baik, kadang-kadang murid-murid masih ada saja yang duduk berselonjor di kursi sambil menguap. Walau guru sudah banyak menghabiskan waktu dan cara untuk  menciptakan  suasana mendongeng  yang menarik, murid masih saja belum tertarik, belum punya kepedulian terhadap dongeng yang kita sampaikan. Mereka menarik nafas panjang dan terus menerus melirik jam dinding. Pikiran mereka melayang dan dongeng yang kita sampaikanpun tidak ada di benak mereka.

Murid seperti ini berusaha keras meyakinkan kita bahwa mereka benci belajar, mereka tidak peduli pada pembelajaran sekolah, dan mereka terlalu gaul, untuk digangggu dengan urusan sekolah. Namun kita harus tetap sadar bahwa sebenarnya mereka yang datang ke sekolah berarti peduli pula dengan urusan sekolah. Pada metode dongeng, memang kita telah mencekoki atau menceramahi anak didik, membatasi nilai kreatifitas, dan menghilangkan dari mereka rasa bermain sambil belajar. Maka satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah menarik perhatian mereka.

Lou Anne Johnson dalam bukunya “Pengajaran yang Kreatif dan Cara Membangkitkan Minat Siswa Melalui Pemikiran” mengemukakan beberapa saran yang dapat membantu menarik perhatian murid-murid, antara lain: 1. Bantu siswa meyakini bahwa keberhasilan itu  sesuatu yang mungkin, 2. Kenali sikap murid di kelas, 3. Tambah otak kanan dan kinestetik, 4. Minta tanggapan murid sesering mungkin, 5. Ajarkan siswa cara bicara kepada guru dan orang dewasa lainnya, 6. Beri contoh perilaku yang dapat diterima dan sikap mencapai yang terbaik. Dari saran di atas, mendongeng sangat memungkinkan untuk digunakan pada proses pembelajaran. Kemunculan tokoh/pahlawan yang berkarakter kuat dalam dongeng, mendorong murid untuk mengidolakan bahkan mencontoh watak dan perilaku sang tokkoh. Bukankah kita masih setuju, pendapat yang mengatakan bahwa anak adalah peniru yang ulung?

Mengingat hal tersebut, kita tidak boleh sembarangan memilih dongeng atau certia yang akan kita sampaikan. Dalam dongeng anak, kita harus menghindarkan dari unsur-unsur yang berhubungan dengan segi isi cerita yang bersifat negatif, yang tidak pantas untuk diketahui anak karena unsur-unsur tersebut dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak ke arah yang tidak baik. Hal-hal yang harus dihindari itu menyangkut persoalan-persoalan yang menyangkut seks, cinta yang erotis, kekerasan atau kekejaman, kecurangan atau kelicikan, dan  dendam yang menimbulkan kebencian. Apabila ada hal-hal buruk dalam kehidupan yang terpaksa harus diangkat dalam dongeng, misalnya kemiskinan, kekejaman ibu tiri, dan perlakuan yang tidak adil pada tokoh protagonis, maka seharusnya amanat lebih disederhanakan dengan cara memunculkan kebahagiaan di akhir cerita.

Titik W.S dalam Bahasa dan Sastra Indonesia di SD, karangan H.J. Yusi Rosdiana, dkk menjelaskan bahwa cerita anak-anak adalah cerita sederhana yang kompleks. Kesederhanaan itu ditandai oleh syarat wacananya yang baku dan  berkualitas tinggi, namun tidak ruwet sehingga komunikatif. Maka dialog dan komunikasi saat mendongengpun sangat diperlukan karena dapat menghidupkan suasana mendongeng dan membantu pemahaman anak terhadap dongeng yang disajikan. Dialog  yang diucapkan atau dilakukan para tokoh dalam mendongeng harus wajar dan hidup. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan harus singkat dan lugas, tidak menggunakan gaya bahasa yang biasa digunakan oleh orang dewasa. Perwatakan para tokoh digambarkan secara hitam putih. Artinya setiap tokoh yang dihadirkan hanya mengemban satu sifat utama, yaitu tokoh baik atau buruk.

Tokoh dalam dongeng itu sendiri dapat kita ambilkan dari benda-benda sekitar kita, antara lain: 1. Benda mati misalnya batu, sapu, air, angin, 2. Benda hidup yang bukan manusia, misalnya binatang dan tumbuhan, 3. Manusia itu sendiri, misalnya dalam cerita Bawang Merah-Bawang Putih, Cindelaras, Cinderela, Timun Emas, Tongkat Ajaib, dan lain sabagainya.

Ross (Lerner, 1988) mengemukakan bahwa kemampuan mempertahankan perhatian (attention selective) merupakan suatu masalah kognisi yang mempengaruhi sebagian besar anak berkesulitan belajar. Perhatian selektif adalah kemampuan memusatkan perhatian pada suatu objek dari berbagai rangsang yang diterima oleh indra. Mengingat masih banyaknya anak mengalami hal tersebut, maka dalam mendongeng diperlukan komunikasi antara guru dan murid, walaupun pada dasarnya pada model mendongeng, anak itu pasif, hanya diam, menyimak dan mendengarkan. Bentuk komunikasi itu sendiri dapat dilakukan dengan  berbagai cara, antara lain: 1. Buatlah sang tokoh beradegan menyanyi, kemudian pilihlah lagu yang sesuai dimana anak-anak sudah bisa menyanyikan, lalu ajaklah mereka bernyanyi bersama, 2. Selipkan beberapa pertanyaan dalam alur dongeng, yang mudah dijawab oleh anak, 3. Munculkan rasa sedikit penasaran pada anak dengan cara menghentikan beberapa saat jalannya dongeng atau memutus kalimat, dimana kelanjutan kalimat tersebut mudah ditebak oleh  anak anak. Diharapkan dari cara-cara tersebut, secara spontan anak  akan menyanyi, menjawab pertanyaan dan meneruskan sendiri kalimat yang terputus. Maka terciptalah suasana mendongeng yang proaktif, riang, hidup, dan  tidak menjemukan.

Di samping itu, ada beberapa manfaat dari mendongeng, diantaranya: 1. Bagi guru, mau tidak mau harus rajin membaca untuk memperoleh cerita yang beragam dan menarik, 2. Bisa menambah  rasa percaya diri guru dalam berakting di depan orang, 3. Dapat dijadikan  sarana untuk  mendekatkan hubungan emosional anatara guru dan murid, 4. Bagi murid, menambah wawasan tentang watak dan perilaku yang baik, 5. Menambah kemampuan / daya imajinasi anak karena cerita yang dihadirkan fiktif belaka, namun masuk akal, 6. Anak dilatih untuk memilih dan menentukan mana yang baik, mana yang buruk, karena pada dasarnya kebaikan pasti mengalahkan kejahatan,  7. Dongeng dapat berpengaruh secara cepat dan signifikan pada perkembangan watak dan perilaku anak.

Karena begitu banyak manfaat yang bisa kita  ambil dari mendongeng, maka kita sebagai pendidik harus berusaha menerapkannya dalam proses pembelajaran. Dalam konteks tersebut, kita dapat menggunakan dongeng pada semua mata pelajaran, karena pada dasarnya dongeng itu besifat fleksibel. Artinya kita dapat memasukkan segala tema ke dalam dongeng yang bisa dijadikan sebagai inti cerita dari dongeng tersebut. Apalagi saat mendongeng, kita juga boleh  membuat benda mati bisa hidup, yang tidak bisa bicara menjadi bisa berbicara, hewan berperilaklu layaknya manusia, dan lain sebaginya.

Mengingat tidak terlalu sulit untuk mendongeng, maka seharusnya kita berusaha untuk mendongeng di depan anak-anak, sebagai media penanaman watak, budi pekerti, tingkah laku, dan sifat, yang bermuara pada terbentuknya karakter bangsa yang diinginkan  oleh bangsa ini. Dongeng juga harus kita lestarikan sebagai budaya luhur warisan bangsa , yang implementasinya sudah jarang terlihat pada kehidupan sehari-hari. Jangan sampai anak-anak kita hanya dijejali oleh tayangan-tayangan televisi yang tidak bermutu menjelang tidur. Sungguh sangat disayangkan bila kita tidak menghadirkan dongeng di tengah gencarnya pengaruh negatif yang sedang melanda bangsa ini sebagai dampak dari kemajuan teknologi. Untuk mencegah dekadensi moral yang semakin jauh, dongeng bisa menjadi pilihan bagi para guru dalam mentransfer karakter bangsa ke dalam benak para murid, dimana  kejenuhan  kadang mulai dirasakan para guru dalam berinovasi, berkreasi dan berimprovisasi dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk itu , “AYO MENDONGENG” mulai sekarang. Sekian.

*Penulis adalah Guru SDN 1 Jarak, Siman, Ponorogo

 Daftar Pustaka

–            Rosdian, Yusi. 2007. Bahasa Dan Sastra Indonesia Di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

–            Koswara, Deni. 2008. Seluk-Beluk Profesi Guru. Bandung: Pribumi Mekar.

–            Johnson, Lou Anne. 2009. Pengajaran Yang Kreatif Dan Menarik. Jakarta: Indeks

–            Baihaqi. Mif. 2006. Memahami Dan Membantu Anak ADHD. Bandung : Refika Aditama.

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: