|
Silahkan Baca
Artikel, Seni Budaya

Memesonakan Sekolah Dengan Melukis Dinding

Oleh: Jalal Sayuti, S.Pd.

lukisidindingMemesona biasanya identik dengan  figur seorang perempuan. Perempuan yang dianggap memesona  tersebut  biasanya berwajah cantik, anggun, menawan, dan mempunyai daya pikat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memesona dapat diartikan sangat menarik perhatian atau mengagumkan. Jadi memesonakan dapat didefinisikan sebagai suatu upaya untuk menarik  perhatian karena kondisinya  yang mengagumkan. Salah satu upaya untuk memesonakan sekolah dapat dilakukan dengan kegiatan melukis.

Melukis adalah suatu kegiatan untuk memvisualisasikan ide atau gagasan seorang pembuat karya seni yang berupa garis, bentuk, bidang, warna, dan tekstur melalui media tertentu. Media untuk memvisualisasikan ide atau gagasan tersebut bermacam-macam. Lazimnya media yang digunakan berupa kertas, kanvas, dinding, kayu, batu dan sebagainya. Semua media tersebut tentu mempunyai karakter yang berbeda-beda. Kertas dan kanvas mempunyai tekstur rata dan halus, sedangkan dinding, kayu, dan batu cenderung bertekstur tidak rata dan kasar

Dinding merupakan salah satu media yang sering digunakan siswa  untuk berkreasi mulai coret-coret, menggambar yang tidak senonoh, horor maupun gambar-gambar  yang bernilai positif. Hal tersebut tentunya juga sangat beralasan  karena  dinding dan pagar tembok relatif lebih mudah dijumpai di mana pun. Selain itu, dinding dan pagar tembok juga lebih mudah untuk dilukis dibandingkan dengan media lain. Bahkan ada juga siswa yang beralasan lain, misalnya ingin memanfaatkan media selain kertas dan kanvas serta untuk bereksplorasi.

Untuk mewujudkan suasana yang menyenangkan, indah, memesona dan untuk menjembatani keinginan siswa maka dalam rangka ujian praktik kelas 9 SMP Negeri 2 Babadan diarahkan untuk menggambar  dinding pagar. Kegiatan ini sudah dimulai semenjak tahun 2007.  Kebetulan pagar yang mengelilingi  sekolah terbuat dari tembok yang tingginya lebih kurang 2 meter dengan panjang lebih kurang 300 meter. Dengan kondisi tersebut, pagar tembok SMP Negeri 2 Babadan menjadi media yang ideal untuk dilukis. Selain itu, kegiatan melukis dinding tersebut  juga mendapat dukungan penuh dari  Ibu Dra. Asih Setyowati, M.Pd.  selaku Kepala SMP Negeri 2 Babadan. Beliau memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan siswa dalam kegiatan melukis dinding tersebut.

Media yang digunakan dalam melukis dinding tersebut adalah cat genting dengan berbagai warna, kwas dengan berbagai ukuran, dan amplas yang digunakan untuk membersihkan dinding. Karena jenis warna cat genting yang sangat terbatas maka untuk mendapatkan warna yang lain harus dilakukan dengan cara mencampur cat-cat yang sudah ada. Cat genting dipilih karena mempunyai karakteristik yang berbeda dengan lainnya, tahan lama, mudah dipakai untuk melukis dinding, dan untuk mengencerkannya hanya dengan menggunakan air.

Langkah awal yang dilakukan  untuk memulai kegiatan ini adalah dengan membuat kapling dinding pagar yang akan dilukis. Kemudian membagi siswa menjadi beberapa kelompok, dan tiap  kelompok  terdiri  atas  5-6  siswa. Selanjutnya tiap-tiap siswa dalam kelompok harus membuat desain dengan tema yang telah ditentukan yaitu tema agama dan tema sosilal. Tema agama yaitu tema-tema yang berkaitan dengan pesan-pesan keagamaan misalnya tentang sholat, menuntut ilmu, menjaga kebersihan, dan sebagainya. Sedangkan tema sosial adalah tema yang berkaitan dengan pesan sosial misalnya global warming, gerakan antinarkoba, sportifitas, reboisasi, kenakalan remaja, dan sebagainya. Desain yang telah dibuat oleh tiap-tiap siswa dalam kelompok tersebut dipilih satu yang terbaik oleh kelompok. Pembuatan desain ini dimaksudkan untuk melatih kreatifitas siswa sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.

Melukis dinding  seperti yang telah dilaksanakan di SMP Negeri 2 Babadan tersebut tentu mempunyai banyak manfaat bagi siswa, guru mata pelajaran, maupun sekolah, yaitu:

Bagi siswa

a) Sebagai sarana ekspresi dan kreasi. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyalurkan ide atau gagasan masing-masing siswa dengan menyesuaikan dengan media yang tersedia. b) Menumbuhkan sikap gotong royong dan bekerja sama. Hal itu bisa diamati pada saat siswa mengerjakan tugas melukis dinding  tersebut.  Mereka saling membantu misalnya dalam bentuk melayani cat yang akan dipakai oleh teman dalam satu kelompok, bersama-sama  mengecat dalam bidang yang sama. c) Menumbuhkan rasa percaya diri utamanya pada siswa yang merasa kesulitan dalam berekspresi seni lukis. Percaya diri dalam berkarya bisa muncul apabila seorang siswa merasa bisa menciptakan sesuatu karya yang sesuai dengan target yang diinginkan. Dalam kegiatan melukis dinding di SMP Negeri 2 Babadan semua siswa yang tergabung dalam kelompok harus melibatkan diri secara aktif sehingga semuanya bekerja dengan tidak membedakan-bedakan kemampuan mereka. d) Mengurangi perilaku yang negatif pada anak didik. Siswa akan merasa bangga apabila menciptakan suatu karya, apalagi karya-karya yang monumental. Mereka akan selalu menjaga dan merawat dengan sebaik-baiknya. Begitu juga yang terjadi pada siswa yang tidak berkarya akan merasa enggan apabila merusak karya temannya. Di samping itu mereka juga punya beban psikologi dengan tema yang diangkat karena terkait dengan pesan agama dan moral. e) Dapat dipakai sebagai sarana apresiasi. Sebagai bentuk karya seni lukis yang terdapat di luar ruangan, lukisan di dinding memungkinkan semua orang dapat mengapresiasi karya-karya tersebut dengan mudah, lebih-lebih di suatu tempat yang mudah dijangkau pandangan mata seperti halnya pagar.

Bagi guru mata pelajaran

a)  Sebagai sarana pendayagunaan sumber/media pembelajaran. Selama ini kegiatan melukis selalu identik dengan media kertas dan kanvas, maka penggunaan dinding sebagai media melukis merupakan alternatif  lain yang bisa diberikan guru kepada siswa. b) Sebagai sarana untuk menumbuhkan karakter kepada anak didik terutama tentang gotong royong, tenggang rasa, kebersamaan, serta tanggung jawab. c) Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Dengan melukis dinding pagar tentu siswa akan melakukan kegiatan  tersebut di luar kelas. Hal ini diharapkan akan menghilangkan rasa jenuh pada diri siswa yang biasanya selalu melalui proses pembelajaran di kelas. Apalagi bagi siswa kelas 9 yang melaksanakan ujian praktik, tentu hal ini akan mengurangi beban mental dan rasa tertekan mereka saat menghadapi ujian.

Bagi sekolah

  1. Sebagai sarana menyosialisasikan motto sekolah yaitu “SEKOLAHKU ADALAH RUMAH DAN TAMANKU”. b. Dapat tercipta lingkungan sekolah yang bersih dan menyenangkan karena para siswa sudah tidak melakukan kegiatan coret-coret di tembok pagar sekolah.  c. Dapat menimbulkan kesan dinamis terhadap pandangan mata. Apabila kita melihat tembok pagar yang hanya melulu satu warna saja tentunya kita melihatnya dengan cara sekilas. Lain lagi kalau misalnya di tembok pagar tersebut terdapat lukisan-lukisan yang bermacam-macam, tentunya kita tidak akan jemu-jemu melihatnya walaupun setiap hari.

Demikian uraian ini mudah-mudahan menjadikan sebuah wacana kepada pembaca, amin.

*Penulis adalah Guru Seni Budaya SMP Negeri 2 Babadan

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: