|
Silahkan Baca
Laporan Utama

Membangun Generasi Emas melalui PAUD

Oleh: Agus Prasmono

gambarMembangun generasi merupakan suatu proses panjang yang harus dilalui oleh sebuah negara kalau eksistensinya tetap terjaga. Ketika regenerasi ini gagal maka yang terjadi adalah kehancuran sebuah negara itu sendiri. Banyak sudah negara di dunia yang mengalami nasib seperti itu. Indonesia belajar dari pengalaman sejarah tentunya tidak ingin mengulang kegagalan dalam membangun generasi ini. Ketika membangun sebuah generasi maka Pendidikan adalah ujung tombak pembangunan itu. Sebenarnya ada tiga ukuran kualitas penduduk yaitu Pendidikan itu sendiri, kesehatan masyarakat dan pendapatan perkapita masyarakat. Namun dari tiga pilar itu pendidikanlah yang paling berperan membuat merah hijaunya masa depan suatu negara. Semua jenjang Pendidikan akan menentukan keberhasilan bangsa ini dalam melewati setiap jenjang generasinya.

Menyadari itu semua, Pendidikan bukan hanya di sekolah namun Pendidikan pra sekolah seperti PAUD dan TK rasanya juga bagian yang integral dari pembangunan generasi ini. Keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan pembangunan sistem pendidikan di negeri ini kalau tidak melihat kepincangan dalam sistem pendidikan ini. PAUD sendiri terdiri dari Play Group (Kelompok bermain), TPA (Taman Penitipan Anak) dan SPS (Satuan Paud Sejenis yang terdiri dari Pos PAUD, Bina Keluarga Balita, Taman Pendidikan Al Quran, taman Pendidikan anak Sholeh, Sekolah Minggu dan Bina Iman), belakangan semakin mendapat porsi yang besar seiring dengan kesadaran masyarakat untuk membangun generasi lebih dini.

Menyadari pentingnya hal itu, maka tidak dipungkiri belakangan gairah membangun Pendidikan anak usia dini melalui PAUD dan TK semakin bergelora, karena selama ini pembangunan Pendidikan usia dini ini sering dianggap remeh dan termarginalisasi. Usia emas pengembangan otak adalah usia dibawah lima tahun, namun selama ini sering terabaikan dan justru memperoleh Pendidikan  non formal dari pembantu yang tugasnya merawat balita tersebut, sehingga yang mestinya anak mengalami perkembangan otak yang pesat namun justru sebaliknya karena diasuh oleh pembantu yang nota bene tidak mengerti Pendidikan, terlebih Pendidikan anak usia dini.

Dalam UU no 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas juga telah diperkuat bahwa  bahwa Pendidikan anak usia dini melalui jalur informal  dalam bentuk kelompok bermain, Taman Penitipan anak atau bentuk lain yang sederajat. Bentuk lain yang sederajat ini banyak yang menafsirkan sebagai PAUD. Dan dalam Undang-Undang tersebut dengan tegas disebutkan bahwa yang dimaksud pendidikan anak usia dini adalah Pendidikan sebelum pendidikan dasar (SD-SMP). Dengan demikian keberadan PAUD secara yuridis sudah diakui keberadaannya dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Lebih lanjut dalam UU itu mengisyaratkan bahwa PAUD mempunyai tiga layanan yatu pertama layanan Pendidikan dan pengasuhan yang difokuskan pada perkembangan peserta didik sesuai dengan usia perkembangannya, Kedua layanan Gizi dan kesehatan yang difokuskan pada pemberian gizi, penjagaan kesehatan dan pertumbuhan fisik anak. Ketiga , layanan khusus  yang difokuskan pada peserta didik spesial  atau membutuhkan layanan tambahan dalam bentuk sarana prasarana khusus. Dengan layanan melaui PAUD ini diharapkan perkembangan generasi emas (usia Balita) yang merupakan usia yang mengalami perkembangan otak paling pesat bisa mengalami perkembangan yang optimal. Dengan demikian generasi kedepan merupakan generasi yang mengalami tumbuh kembang secara optimal dan terarah. Kalau sejak dini diperoleh generasi yang mengalami tumbuh kembang dengan optimal, tentunya akan mudah membentuk generasi yang tumbuh optimal pula.

 

Keluarga Sebagai basis Pengembangan PAUD

Menurut Dr. Siti Fatimah Sunaryo Ketua HIMPAUDI Jatim yang sangat getol mengembangkan PAUD ini, upaya pengembangan PAUD harus selalu dan tetap berbasis pada keluarga. Hal ini bisa diartikan sebagai upaya yang dilaksanakan keluarga dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada dalam keluarga, lingkungan sekitar yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Lingkungan sekitar tetap merupakan sumber belajar terbaik, karena paling banyak seorang anak akan hidup dimana dia berada sekarang. Hal ini juga didasari bahwa anak merupakan amanah dari Allah swt. kepada orang tua dan harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian mau tidak mau atau disadari atau tidak disadari bahwa kesadaran semua orang tua sebagai pendidik utama dan pertama harus terus digelorakan. Pendidikan anak terbanyak berada dikeluarga, sehingga keluarga mau tidak mau harus menjadi pendidik utama kalau tidak ingin Pendidikan anaknya melenceng dari harapan yang telah ditancapkan sebelumnya.

Upaya pengembangan PAUD ini tidak lepas dari tiga hal yang sering terjadi yaitu pertama rendahnya derajad kesehatan dan gizi masyarakat. Harapan adanya masyarakat miskin sehat ternyata yang terjadi sebaliknya, kemiskinan identik dengan kobodohan,  kejumutan dan penyakit. Penyakit yang muncul semakin banyak seiring dengan diketemukannya tehnologi dan pengobatan baru. Sehingga kesehatan masyarakat juga sering berjalan dalam satu garis dengan kemampuan ekonomi keluarga tersebut. Kesehatan masyarakat ini salah satu ukurannya adalah kematian bayi dan rendahnya harapan hidup. Harapan hidup Indonesia masih sekitar 70 tahun.

Yang kedua rendahnya kesiapan anak untuk bersekolah, karena kesibukan orang tua dalam bekerja sehingga dalam menyiapkan anaknya secara dini ke lembaga Pendidikan sangat kurang dalam arti anak kurang siap dengan Pendidikan dini tersebut mengingat sang anak diasuh oleh pembantu yang kurang memahami apa yang harus dilakukan untuk anak berkaitan dengan pendidikannya sesuai dengan usia dan perkembangannya.

Yang ketiga adalah belum optimalnya pengasuhan dan perlindungan anak dalam keluarga.. Banyak anak yang berada pada pengasuhan pembantu atau lembaga yang kurang siap dalam mengembangkan potensi anak secara dini. Sering terjadi kasus lemahnya perlindungan anak dari keluarganya bahkan sampai berakibat pada rendahnya pengasuhan anak. Beberapa kasus dibuangnya anak balita merupakan gambaran rendahnya perlindungan anak ini sekaligus belum efektifnya perangkat hukum dalam mengantisipasi serta menindaklanjuti kasus jenis ini.

Ketika kita melihat tiga pilar pengembangan potensi sumber daya manusia maka potensi yang paling tinggi tugasnya adalah keluarga. Keluarga mempunyai peran sebagai perawatan, perlindungan, pengasuhan dan Pendidikan anak usia dini (PAUD).  Mengingat semakin lemahnya fungsi keluarga sebagai lembaga pengasuhan maka PAUD diharapkan bisa mengurangi beban berat keluarga dalam mendidik anak secara dini. Namun tidak serta merta Pendidikan anak usia dini selesai dengan diserahkan kepada PAUD. Peran orang tua tetap tidak bisa digantikan oleh lembaga apapun karena disanalah kasih sayang sejati bisa didapatkan bukan dari lembaga PAUD yang bersifat membatu saja.

 

Perkembangan yang bombastis

Ada perkembangan yang cukup menarik dalam dunai per-PAUD-an. Pada awal tahun 2002 baru ada 113 lembaga kelompok bermain (Play Group) dan 14 TPA (Taman Penitipan Anak)  di Jawa Timur. Dalam waktu belum sampai satu dasa warsa sudah mengalami perkembangan yang luar biasa yaitu ada 9.698 Kelompok bermain, 234 TPA san 3425 SPS (Satuan Paud Sejenis)  total lembaga PAUD ada 13.357 se Jawa Timur  atau naik seratus kali lipat. Suatu perkembangan yang luar biasa bombastis dan spektakuler (Pinjam istilah Tukul Arwana).

Dari total lembaga seperti diatas dibina  oleh 47.805 pendidik dengan rincian KB ada 31.103 orang, TPA ada 300 dan SPS ada 15.709 pendidik. Sementara jumlah peserta didiknya ada 309.974 siswa dengan rincian  KB ada 241.010, TPA ada 4.514 siswa dan SPS ada 145.454 siswa.

Sementara itu dari jumlah pendidik tersebut latar belakang Pendidikan yang lulus perguruan tinggi baru 15.669 atau sekitar 32,78%. Sisanya 28.135 (58,85%) lulusan SLTA, 3.422 (7,16%) lulusan SLTP bahkan masihada 337 (0,7%) yang lulusan SD. Dengan demikian pendidik di PAUD terus perlu ditingkatkan spesifikasinya agar mengasilkan suatu proses pendididkan yang optimal.

Sementara angka partisipasi dapat kita lihat sebagai berikut; untuk anak usia 0-4 tahun yang jumlahnya mencapai 2.723.733 anak, angka partisipasinya baru 14,35%. Sedangkan anak usia 2-4 tahun angka partisipasinya mencapai 29,7%. Angka partisipasi tertinggi anak usia 4-6 tahun yang digarap melalui PAUD formal (TK, RABATA) telah mencapai 87,5 %.

Perkembangan diatas lebih bersifat kuantitatif belaka, sementara secara kualitatif masih jauh dari kondisi ideal yang diharapkan. Fasilitas umumnya belum memenuhi standar, alat permainanpun juga belum mencukupi sesuai dengan jumlah ideal siswanya serta jenisnya kurang sesuai dengan perkembangan kemampuan siswa.. Demikian juga ruang dan arena bermain belum mampu mengakomodasi kepentingan anak secara bebas untuk berkembang secara optimal. PAUD memang membutuhkan tempat yang nyaman, longgar, aman dan apresiatif terhadap perkembangan kejiwaan dan kecerdasan anak.

Perkembangan yang bombastis ini ternyata juga diikuti dengan alokasi dana untuk pengembangan PAUD tersebut dengan cukup signivikan. Banyak bantuan yang bisa diakses seperti Block grant untuk TK dan kelompok bermain, block grant untuk taman penitipan anak, block grant untuk satuan PAUD sejenis, block grant untuk PAUD percontohan di tingkat kecamatan, block grant PAUD terpencil, block grant alat peraga edukatif (APE) dan buku. Selain itu pemerintah pusat  juga memberikan bantuan yang berkaitan dengan pembiayaan seperti bantuan pendampingan IGTKI, bantuan akreditasi, bantuan orientasi teknis, bantuan parenting workshop TPA, workshop kinestetik, lomba guru PAUD dan lain-lain.

Pokok kata PAUD sekarang diberi ruang gerak yang luas, alokasi dana yang relatif cukup dan pembimbingan tehnis yang baik. Hal ini merupakan harapan kita pada generasi emas agar kedepan lahir generasi yang cemerlang, yang tumbuh dengan optimal dan bisa melanjutkan perjuangan dalam rangka membangun republik ini sesuai dengan harapan para founding father. Hanya pada generasi yang baiklah Negara Indonesia yang sebenarnya paling melimpah kekayaan alamnya ini bisa diharapkan keselamatannya. Semoga. (Gopras)

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: