|
Silahkan Baca
Artikel, Bimbingan Konseling

Ketika Konseling Menggunakan “Choice Theory“

Oleh :  M. Maksum  *)

maksumDari beberapa konseli dan ungkapan masalah yang dikemukakan, penulis memprioritaskan untuk menindaklanjuti salah satu konseli yang menyampaikan permasalahan yang dikemukakan oleh “B” (bukan nama sebenarnya karena berdasarkan azas konfidentialitas Bimbingan dan Konseling  identitas asli konseli  harus dirahasiakan)  .

Dari penelusuran  data terungkap sebagai berikut:  “B“ sering datang terlambat jam pertama, ia sering bangun kesiangan karena  tidak ada yang membangunkan. Ia tinggal di rumah hanya dengan ibunya,  setiap hari  jam 04.00 ibunya sudah berangkat jualan ke pasar. Sebagai anak kandung yang ditinggal mati ayahnya dua tahun lalu membuat ia kesepian di rumah.Teman-temannya banyak yang datang ke rumah setiap malam, ada yang main gitar mengobrol sambil ngopi sehingga tidur larut malam. Nilai raport semester genap tahun lalu menunjukkan penurunan jauh dibanding semester sebelumnya. Bahasa Inggris dan Matematika di bawah KKM. Ia ingin mendapatkan nilai baik dan dapat lulus di kelas IX ini. Ia ingin tidak terlambat, ingin membantu meringankan beban ibu . Kegiatan sehari-hari dilalui dengan santai tanpa ada kegiatan berarti. Dengan teman-teman yang sering datang ke rumahpun sangat enjoy walau kehadiranya sering membuat tidur larut malam dan kurang membuat motivasi belajar karena mereka banyak yang tidak sekolah.  Di alinea akhir surat yang ditulis sendiri oleh konseli, tersurat ada keinginan untuk mendapatkan layanan konseling dengan konselor dalam waktu tersendiri yang tidak mengganggu pelajaran.

Sesuai kasus yang disampaikan oleh konseli di atas, konselor memilih “choise theory”.  Teori konseling dengan figur kunci penemu yaitu William Glasser dan Robert Wubbolding. Teori ini dikembangkan tahun 1950 dan 1960 dengan sebutan konseling realitas.  Tahun 1970 dan 1980-an dikembangkan menjadi teori kendali  (conthrol theory) dan ditahun 1996 Glasser meninjau kembali dan menamakannya teori pilihan (choise theory) . Dalam teori ini menyediakan suatu kerangka kerja tentang mengapa dan bagaimana orang-orang berbuat. (Lutfi Fauzan: 2010;32). Lebih lanjut dijelaskan bahwa teori pilihan mempunyai kaitan dengan dunia fenomena konseli dan menekankan cara pandang subyektif di mana konseli merasa dan bereaksi kepada dunia mereka dari focus evaluasi internal.

Sebelum konseling dilakukan dengan konseli menggunakan choise theory, konselor sebaiknya memperhatikan siklus yaitu dua konsep umum choise theory: Lingkungan yang kondusif untuk berubah dan prosedur yang lebih tegas/ekplisit yang dirancang untuk memudahkan perubahan. Lutfi Fauzan (2010;36) memberi saran agar  tercipta lingkungan yang kondosif, konselor perlu membangun hubungan yang dekat di atas kepercayaan, keakraban, keteguhan dan kewajaran. Caranya: a).menggunakan prilaku menghadiri atau memperhatikan (attending) kontak mata, postur, ketrampilan mendengarkan yang efektif, b) Alwais be… selalu jadilah, konsisten, ramah, tenang, meyakinkan bahwa ada harapan bagi peningkatan, bergairah/antusias, c).menahan diri dari menilai atau menghakimi misalnya memandang perilaku dari sudut pandang negative merendahkan, dalam hal ini perlu diingat bahwa penerimaan tidak selalu mudah , d) lakukan yang tak terduga: penggunaan teknik paradok, reframing dan prescribing terhadap dalam hal ini, e). menggunakan humor untuk membantu mereka  memenuhi kebutuhan untuk senang dalam gagasan layak , f).tetapkan batasan bahwa hubungan adalah professional , g).berbagi diri  : self-disclosure dengan tidak melewati batas sangat menolong, menyesuaikan terhadap gaya pribadi yang dimiliki , h).dengarkan untuk mengambil kiasan : gunakan figur mereka atas ucapan,pikiran, dan lainnya, i) mendengarkan thema-thema, j) meringkas dan focus. k) memaksakan konsekwensi, l) member kesempatan diam, m) Empati, n)Etis, o) ciptakan antisipasi dan harapan, p) praktek manejemen memimpin, q) diskusikan kualitas dan tingkatkan aneka pilihan.

Implementasi choise teory dalam proses konseling selayaknya konselor focus pada tahapan membangun hubungan dengan konseli dan pilihan yang tepat ketrampilan tehnik komunikasi konseling yang digunakan . Wobbolding dikutip (Triyono dkk ; 2008) menjelaskan prosedur spesifik model choice theory terdiri dari strategi WDEP (Want, Do, Evaluation dan Planning ). Sedangkan 14 ketrampilan komunikasi konseling  yaitu: Opening, Acceptance, Restatement, Reflection of feeling, Clarification, Strukturing, Leading, Reassurance, Silence, Advice, Confrontation, Rejection, Summary dan Termination ( Siti Komariyah; 2009) harus digunakan secara tepat dan efektif sesuai dengan kebutuhan selama proses konseling berlangsung. Setelah konselor masuk tahap opening dalam hal ini konselor membuka pertemuan, menciptakan rapport, menerima dengan tulus, bersikap hangat dan memperhatikan secara mendalam maka konselor bisa masuk dan focus pada W atau D mana yang lebih dulu boleh-boleh saja.

Jika strategi “W” (Want) lebih dulu, maka konselor disarankan oleh Triyono , dkk. (2008;33) untuk focus pada penyelidikan tentang keinginan, kebutuhan dan persepsi konseli dengan ketrampilan komunikasi yang tepat. Jika dalam suratnya konseli ingin mendapatkan nilai baik dan dapat lulus di kelas IX , ingin tidak terlambat, ingin membantu meringankan beban ibu. Maka konselor  perlu menelusuri seberapa mendalam ketiga keinginan konseli ini. Acceptance, restatement, reflection of feeling , clarification, leading adalah teknik komunikasi yang sangat membantu konseli mengekplore keinginan – keinginan konseli. Konselor perlu menelusuri pula apakah keinginan konseli hanya tiga  seperti yang tersebut dalam suratnya atau muncul keinginan yang lain. Jika memang dianggap sudah final, maka konselor menggunakan teknik summary dan mengidentifikasi seberapa mendalam kualitas keinginan-keinginan tesebut.

Penelusuran terhadap Strategi “D” (Do)  sebagaimana ditegaskan Triyono, dkk (2008;33 ) bahwa  konselor untuk  focus memusatkan pada apa yang konseli lakukan dan arah tujuan perbuatan yang membawa konseli pada permasalahan. Hal ini dilakukan setelah ada persetujuan konseli sepakat masuk tahap ini. Data awal yang  masuk lewat suratnya, kegiatan konseli sehari-hari dilalui dengan santai tanpa ada kegiatan berarti. Sering begadang dengan teman yang sering datang ke rumahnya hingga  membuat tidur larut malam dan kurang membuat motivasi belajar karena mereka banyak yang tidak sekolah. Apa yang dilakukan konseli yang terungkap di surat maupun kemungkinan lain yang belum terungkap ini perlu ditelusuri. Teknik komunikasi yang dapat dipakai  bisa Restatement, Reflection of feeling, Clarification,  Leading,Reassurance, Silence, Advice ( jika konseli meminta ) Confrontation dan summary. Jika sudah dianggap final maka konselor bisa meneruskan pada tahap Evaluation .

Memasuki tahap strategi “E” (Evaluasi) konseli ditantang untuk membuat suatu evaluasi tentang prilaku total mereka dan diuji dengan 3 R (Triyono,dkk;33). Dalam tahap ini konselor menggaris bawahi summay di tahap W dan summary di tahap D kemudian diuji dengan 3 R , Reality, Responsibilty dan right. Konselor dengan jelas menunjukkan kepada konseli realistiskah konseli jika ia ingin dapat nilai baik, ingin dapat lulus, ingin tidak terlambat dan ingin meringankan beban ibu sementara yang dilakukan sehari-hari hanya santai, begadang dengan teman hingga larut malam?. Bagaimana pertanggung jawaban konseli ( responsibility ) dan bagaimana tingkat kebenaran ( right ) antara keinginan dan apa yang dilakukannya. Konseli diharapkan paham betul kesimpulan hasil evaluasi. Konselor membantu kesadaran konseli tentang hasil uji W dengan D sama dengan atau tidak sama dengan  3 R. Jika hasil  sama berarti evaluasi hasilnya diterima, jika tidak sama  berarti evaluasi hasilnya  tidak diterima. Konsekwensinya ditahap P Planning, jika diterima maka tindakan yang akan direncanakan apa dan kometmenya bagaimana. Jika tidak diterima maka rumusan tindakan baru yang akan dibuat apa dan kometmennya bagaimana.

Strategi P (Planning) adalah tahap terpenting menyangkut keputusan setelah konseling dilaksanakan. Pada tahap perencanaan dan komitmen ini konselor membantu konseli dalam merumuskan rencana realistis dan pembuatan komitmen untuk menyelesaikanya, ( Triyono, dkk, 2008;33). Peran konselor sangat penting, mengingat kemandirian konseli betul-betul perlu pengawalan hingga pada tahap perubahan tingkah laku dari rencana tindakan dan komitmen yang dibuat. Selanjutnya ditindak lanjuti kapan  konseli dapat bertemu dengan konselor untuk membicarakan hasil yang dicapai, berbicara professional, memelihara program berkelanjutan atas pertumbuhan professional. Semuanya tergantung bagaimana kesepakatan yang dibuat oleh konseli bersama konselor tanpa mengorbankan waktu dan tugas masing-masing di sekolah.

Choise Teory sebagai model jangka pendek, dapat diberlakukan terhadap konseli dalam cakupan yang lebih luas. Triyono, dkk (2008;37) memberi ketegasan bahwa teoti ini konsepnya sederhana, jelas, mudah dipahami banyak orang dalam berbagai jasa, dan prinsip-prinsipnya dapat digunakan oleh orangtua, para guru, pelayan/pejasa bantuan, pendidik, para manajer, konsultan,para penyelia, karyawan kemasyarakatan dan konselor. Sebagai model positif dan berorientasi tindakan, model ini memberikan tawaran berbagai konseli yang secara khas dipandang sebagai “sukar menerima perlakuan”. Jantung choise teory terdiri atas menerima tanggung jawab pribadi dan pemerolehan kendali yang lebih efektif. Model konseling ini mengajar konseli untuk memusatkan pada apa yang mereka mampu dan ingin lakukan saat ini untuk mengubah prilaku mereka. Maka sangat layak untuk dipertimbangkan dipakai para konselor di sekolah yang mempunyai beban anak asuh minimal 150 siswa bahkan realitanya banyak seorang guru pembimbing (konselor) mengasuh lebih dari 150 siswa. Jantung pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah terletak pada konseling individu, maka perlu dipilih sebuah teori konseling yang memungkinkan lebih banyak konseli di sekolah dapat dilayani. Dari segi waktu yang dibutuhkan memberikan layanan ke semua siswa (guidance and counseling for all), “Choise Theory“ nampaknya menjadi alternatif realistis bagi konselor , mengingat masih banyak tugas memberikan layanan selain konseling individu. Tercapainya kemandirian konseli dibidang pribadi, sosial, belajar, karier dan akhlaq mulia menjadi amanat bagi konselor untuk menuntaskannya. Semoga.

*) Penulis adalah guru BK SMP N 1 Kec. Siman Kab. Ponorogo,

     Ketua MGBK SMP/MTs. Kabupaten Ponorogo.

 

Kajian Pustaka

Romlah Siti, S.Pd. Konseling Kelompok,……………..,……….,2009

Fauzan Lutfi,M.Pd, Teknik –Teknik Konseling,Depennas, UM Malang

Panitia Sertifikasi Guru Rayon 15,…….,2010

Triyono,Dr., M.Pd, dkk Bimbingan dan   Konseling,Depennas,

UM Malang Panitia Sertifikasi Guru Rayon 15,…….,2008

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: