|
Silahkan Baca
Artikel, Seni Budaya

CORAT-CORET MELATIH KEPEKAAN ESTETIS DALAM KARYA SENI RUPA

Oleh : Rony Hendra W. S.Pd.

Rony HHadirnya gambar corat-coret di sekitar lingkungan kita tinggal akan mewarnai kehidupan kita. Gambar corat-coret tersebut hadir dimana saja di sudut kota, gang buntu, dinding pagar, secarik kertas, bangku sekolah, dinding rumah atau di mana saja bahkan buku catatan pelajaran siswa tidak luput dari sasaran.

Corat-Coret Sebagai Ekspresi Jiwa

Corat-coret adalah kegiatan ekspresi jiwa seseorang, Disengaja maupun tidak disengaja kegiatan ini mampu menghasilkan sebuah gambar dan bisa dikatakan sebagai gambar ekspresi. Ekspresi setiap orang memiliki kecenderungan berbeda, sehingga gambar ekspresi mengarah pada bentuk yang beragam pula. Bentuk dari gambar ekspresi ini tidak harus rumit bahkan bentuk sederhanapun bisa jadi. Gambar ekspresi sederhana identik dengan sketsa yaitu menggambar hanya dengan menggunakan garis dan variasinya. Gambar sederhana yang dihasilkan tersebut bisa berupa susunan atau komposisi dari beberapa unsur-unsur seni rupa yaitu titik, garis, dan bidang. Sering dijumpai bahwa gambar tersebut memiliki hanya satu warna, hal ini terjadi ada kemungkinan kebanyakkan dihasilkan dari situasi tertentu dan sifatnya spontan dengan alat apa adanya bisa pulpen, pensil atau dengan alat apa yang dipegang pada saat itu. Di samping itu situasi sekitar dan perasaan seseorang juga bisa sangat berpengaruh pada hasil gambar yang tercipta.

Setiap siswa sudah tentu memiliki buku tulis yang berfungsi sebagai catatan atau mencatat sesuatu yang dianggap perlu dan penting bagi siswa ketika proses pembelajaran berlangsung. Ada sebagian siswa memiliki buku catatan pelajaran yang rapi, rajin bahkan ada pula yang serba acak-acakan. Jika kebetulan seorang guru sempat melihat buku catatan siswa tersebut, sudah tentu akan menemui beragan gambar ekspresi atau ”gambar corat-coret” dari bentuk sederhana hingga bentuk yang rumit sekalipun. Gambar ini biasa kita jumpai pada sebuah halaman buku catatan pada bagian tepi buku, ditengah ataupun disela-sela halaman buku catatan tersebut yang lowong/kosong. Meskipun tidak semuanya namun yang sedikit itu sudah bisa mewakili bahwa setiap orang dalam hal ini ialah siswa memiliki  dan membutuhkan  serta berperan aktif pada kehidupannya tentang apa yang dikatakan  dengan keindahan.

Berbicara tentang keindahan tentu tidak lepas dari kegiatan seni. Seorangan seniman sudah tentu mereka kompeten dalam bidangnya, namun demikian tanpa adanya langkah untuk selalu mengasahnya seorang seniman tidak akan berarti apa-apa. Seorang yang terlatih akan memiliki kepekaan terhadap kompetensinya dalam hal ini adalah ”kepekaan estetis”.  Terlepas dari itu semua apakah kebiasaan corat-coret pada buku catatan pelajaran khususnya , mampu memicu siswa atas kepekaan estetis dalam berkarya seni rupa.

Menggambar dalam buku ”Seni Rupa Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan Produktif” disebutkan merupaka suatu usaha untuk mengkomunikasikan perasan dan pikiran secara visual kepada orang lain (A. Agung S,2008;282). Di dalam halaman lain pada buku yang sama mengatakan bahwa sketsa adalah menggambar hanya dengan menggunakan garis dengan segala variasinya (A. Agung S,2008;284).

Menurut Ki Hajar Dewantara seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya, selanjutnya dikatakan oleh Akhdiat K. Mihardja; seni adalah kegiatan manusia yang merefleksikan kenyataan dalam sesuatu karya, yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya (Sri Hermawati D. A. dkk,2008;10).

Menikmati seni atau menciptakan karya seni sudah tentu memerlukan syarat-syarat tertentu yang menjadikan kegiatan tersebut berhasil dengan baik, boleh dikatakan syarat itu adalah kepekaan seseorang dengan keindahan (estetik). Hal ini selaras dengan pendapat bahwa menyaksikan atau membuat karya seni, khususnya seni rupa, memerlukan kepekaan persepsi terutama yang berhubungan dengan masalah keindahan atau estetik atau disebut the sense of beauty. Ada tiga cara yang umum untuk melatih kepekaan persepsi penglihatan, Pertama dengan latihan melihat langsung berbagai jenis karya seni rupa. Kedua dengan cara latihan membuat langsung  karya seni rupa. Ketiga, dengan membaca ulasan atau keterangan mengenai seni rupa (A. Agung S,2008;166)

Dari beberapa pendapat diatas benar adanya bahwa kegiatan corat-coret ini dapat diidentikkan dengan menggambar yaitu merupakan usaha menuangan perasaan, gagasan atau ide secara kasat mata (visual) kepada orang lain. Kegitan corat-coret dalam tulisan ini dapat dikatakan sebagai gambar sketsa yaitu sebagai gambar awal dsri sebuah karya. Di dalam gambar sketsa bentuk yang disajikan adalah sederhana yaitu berupa komposisi garis-garis yang terkoordinasi dengan baik hingga menjadi kesatuan yang sifatnya indah.

Disamping itu corat-coret atau gambar sketsa merupakan langkah awal dari perjalanan sebuah karya. Tanpa sketsa seorang perupa bisa dikatakan miskin bentuk. Bentuk dimaksud adalah bentuk obyek gambar yang beragam dan tidak monoton. Bentuk-bentuk lentur atau plastis dari berbagai sudut pandang dan gerakan dari sebuah obyek gambar. Dengan langkah latihan atau memperkaya diri akan bentuk  maka seorang perupa mampu menghasilkan karya seni rupa dengan bentuk-bentuk yang indah untuk dinikmati.

Namun demikian banyak orang menganggap bahwa kebiasaan corat-coret dianggap sebagai kegiatan biasa dan tidak menguntungkan. Gambar-gambar yang dihasilkan tidak lebih dari gambar  yang hanya mengotori halaman sebuah buku catatan pelajaran dan mungkin sangat menggangu pandangan saat membuka dan membacanya kembali. Dan gambar corat-coret tersebut ada yang menganggap sebagai perbuatan iseng belaka, mengisi waktu luang, kejenuhan dan mungkin kepenatan hati seseorang tanpa berfikir jauh bahwa kegiatan ini sebagai latihan atau memupuk kepekaan estetis seseorang.

Corat-Coret Sebagai Aktivitas Jiwa

Banyak orang pada dasarnya senang akan keindahan. Dan banyak orang juga senang melakukan kegiatan corat-coret terutama pada saat seseorang dihadapkan pada situasi tertentu sehingga terdorong untuk mengungkapkan sesuatu melalui media visual (gambar). Namun pada kenyataannya jika ada pertanyaan yang ditujukan pada mereka tentang kemampuan menggambar, banyak dari mereka memiliki kecenderungan menjawab dan mengakui bahwa mereka tidak memiliki kemampuan menggambar atau melukis dengan baik. Dari mereka ada yang beralasan malu melihat hasil gambaranya sendiri, tidak bisa atau tidak memiliki bakat untuk menggambar. Hal ini sering kita jumpai pada diri siswa yang sebenarnya mereka telah memiliki kemampuan dasar untuk menggambar dan selera keindahan, akan tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka telah memilikinya.

Banyak dijumpai dari berbagai kegiatan siswa di sekolah sebenarnya siswa dalam kesehariannya telah melaksanakan aktivitas tertentu, khususnya dalam hal ini sesuatu yang secara langsung maupun tidak langsung ada hubungannya dengan seni rupa. Sebagai contoh pada buku catatan pelajaran mereka meskipun tidak semua siswa dan tak jarang pada buku paket pelajaran mereka. Jika kita buka dan amati dengan seksama di sana terdapat banyak gambar. Gambar tersebut bisa berupa bentuk obyek yang masih sangat sederhana sebagai contoh rangkaian garis-garis yang teratur hingga tak beraturan hingga berbentuk bidang (persegi, segi tiga atau bentuk hati), inisial huruf sampai pada bentuk yang sedikit rumit tentang kegemaran mereka akan sesuatu. Semua itu memiliki makna yang sangat berarti bagi mereka yang menggoresnya sengaja ataupun hanya sekedar iseng belaka. Dalam beberapa kegiatan pembelajaran di sekolah yaitu pelajaran lain yang pada umumnya tidak mengajarkan tentang menggambar. Misal pelajaran IPA tepatnya biologi pada waktu praktikum dengan mikcroskup secara tidak langsung membutuhkan laporan praktikun secara detail dan terinci berupa apa yang dilihat dan diteliti dalam bentuk visual/gambar. Perhatikan juga pada pembelajaran IPS saat guru memberikan tugas pada siswanya untuk membuat Peta Buta. Mungkin tidak ada toko yang menyediakan gambar peta buta dan langkah yang diambil siswa tidak lain adalah menyalin kembali Peta yang dimaksud dengan menghilangkan semua keterangan yang ada dan menyalin gambar dengan simbul-simbul tertentu yang diperlukan.

Dari contoh-contoh di atas dapat diperoleh hal yang diyakini bahwa sesuatu terjadi tanpa sadar pada seseorang atau siswa sebenarnya telah melalui proses berkarya dalam hal ini seni rupa. Gambar-gambar yang disajikan siswa dengan sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja karena ada tuntutan para siswa mau tidak mau dengan alasan apapun juga akan mewujudkan tugas-tugas tersebut. Dengan tanpa menanyakan pada diri sendiri tentang kemampuan mereka untuk menggambar sesuatu dan gambar yang diminta pada waktu yang sudah ditentukan akan hadir di hadapan Guru bahkan hadir lebih bagus dari dari hasil yang dibayangkan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan pembelajaran seni rupa yang notabene mengajaran cara menggambar yang baik, banyak diantara siswa segan bahkan sedikit keberatan mengiyakan jika seorang guru bertanya tentang kemampuan siswa dalam menggambar atau melukis dengan alasan tidak bisa atau tidak berbakat. Tidak jarang dari para siswa pesimis akan bisa melaksanakan tugas menggambar atau melukis dengan baik sesuai apa yang diharapkan. Jika kembali pada gambar coretan iseng pada buku tulis dan tugas-tugas mata pelajaran lain seperti contoh yang telah diutarakan di atas, sudah pasti banyak siswa akan sadar dan tidak segan-segan lagi untuk mengiyakan bahwa mereka memiliki kemampuan dasar menggambar yang perlu diasah/dilatih sehingga para siswa akan yakin dan bisa melakukanya.

Kesimpulan

Dengan kebiasaan corat-coret ini siswa telah menghadirkan sketsa-sketsa yang bisa dikatakan sebagai awal proses berkarya seni rupa meskipun dalan skala yang kecil. Tanpa disadari dengan sketsa/gambar yang hadir menunjukkan bahwa mereka para siswa sebenarnya sudah melatih dirinya untuk memiliki kemampuan menggores dengan baik dan jika ini dilatih terus-menerus dengan baik maka akan mengarah pada hasil gambar yang menyenangkan, indah dan berkualitas, bahkan akan berakibat pada harga jual atas karya yang disajikan. Dengan demikian corat-coret bisa dijadikan latihan untuk mengenal banyak bentuk yang tanpa disadari bisa memicu kemampuan siswa akan meningkatnya kepekaan persepsi estetis. Dengan kepekaan estetis yang baik diharapkan seorang siswa akan mampu menghasilkan karya seni rupa yang baik, berkualitas dan memiliki harga jual yang tinggi.

Penulis Adalah Guru SMP Negeri 4 Kec. Ngrayun

DAFTAR PUSTAKA

A. Agung Suryahadi, Seni Rupa Menjadi Sensitif, Kreatif, Apresiatif dan Produktif Jilid 2 untuk SMK, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional,Jakarta,  2008.

Sri Hermawati Dwi Arini, Ataswarin Oetopo, Rahmida Setiawati, Deden Khairudin, Martin Renatus Nadapdap Seni Budaya Jilid 1 untuk SMK, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2008.

Zakarias Sukarya Soetedja, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan bagian III : Pendidikan Disiplin Ilmu, Pendidikan Seni, Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, PT. IMTIMA (Imperial Bhakti Utama), Bandung, 2008.

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: