|
Silahkan Baca
Cerpen

BAYANGAN AWAN KELABU

Oleh: Wiwik Kumandang Wiyati*

Awan kelabu tipis bagai tirai sutera menghiasi langit biru maha luas. Perlahan namun pasti tersibak oleh tebaran hangat sinar mentari. Sebuah hari baru yang penuh harapan. Hari pertama aku masuk ke kelas sembilan. Harapan pertama aku ingin sekelas lagi dengan Bima. Bima adalah teman yang rendah hati. Ia pinter semua mata pelajaran. Ia juga terampil memetik gitar. Harapan berikutnya aku bangga punya teman Bima. Ganteng dan tajir, lengkap pokoknya! Tapi tak terselip sedikitpun ‘rasa naksir’ kepadanya. Karena kami berteman sejak kecil. Orang tua kami juga akrab seperti saudara.

Tiga tahun kami berpisah. Waktu itu Bima kelas empat SD, sama dengan aku. Dia harus berpindah sekolah karena mengikuti orang tuanya yang berpindah tugas ke Bali. Kelas tujuh baru berlangsung tiga minggu dia pindah sekolah, kebetulan satu SMP dan satu sekolah dengan aku. Sekarang  kami kelas Sembilan. Ibunya Bima pernah bercerita pada mama kalau Bima ingin masuk SMA 1, ……waaah sama lagi dengan cita-citaku. Aku ingin masuk SMA 1.

Murid-murid kelas Sembilan berkerumun di depan papan pengumuman dekat kantin untuk melihat pembagian kelas. Entah aku yang kurang perhatian atau bagaimana, Bima tidak ada di antara kerumunan siswa yang ramai itu. Ketika aku masuk kelas Sembilan A, Bima sudah duduk di kursi paling depan dekat dengan meja guru.

“Haaaiiii……..Bim,….kamu di IX A juga ya?!” sapaku riang.

“Yaa,…..kamu juga kan?” dia balik bertanya. Aku mengangguk dan saling bersalaman.

“Kita membentuk belajar kelompok ya? Setuju kan?!” Sebagai jawabannya aku acungkan ibu jari sambil tertawa lebar. Hari pertama dikelas IX ini benar-benar sangat menyenangkan. Aku mencatat jadwal pelajaran dan mendapat wali kelas yang cantik, ibu Winda.

**************

Hari-hari berlalu menguntainya menjadi bulan. Setiap dua hari sekali aku belajar kelompok dengan Bima, Ratri dan Karno. Tempat belajarnya bergantian, karena rumah kami berempat hanya berjarak satu sampai dua kilometer. Kami selalu belajar kelompok dengan gembira, jika ada masalah dengan pelajaran, Bima selalu berinisiatif  untuk memecahkan lebih dulu. Baru kami setuju untuk mengikuti langkahnya. Hingga suatu hari aku menemukan keanehan pada Bima. Ia alpha, tidak masuk sekolah tanpa izin, sampai empat hari, Ratri dan Karno sudah pernah menghubungi Bima lewat hapenya, tapi tak ada jawaban. Aku sendiri sudah berkali-kali SMS dan menelpon tapi selalu mellboks. Ada apa ya Bima? Tidak biasanya begitu. Ibu Winda meminta aku untuk datang ke rumah Bima, sebelum pihak sekolah mengadakan home visit. Semula aku mengajak Ratri untuk mengunjungi Bima, tetapi akhirnya Ratri tidak bisa karena ada keperluan mendadak. Akhirnya aku sendiri pergi ke rumah Bima.

Rumah besar, megah, itu sunyi. Aku celingukan mencari kelebatnya pak Satpam, tapi tidak tampak. Ayah Bima seorang pejabat  tinggi, rumahnya dijaga oleh Satpam. Sebenarnya aku mencari-cari batu untuk memukul-mukul pintu pagarnya yang amat tinggi. Tetapi niat itu kuurungkan  karena tidak lama kemudian Satpam muncul. Aku berteriak memanggilnya. Pak Yudi menghampiriku.

“Pak Yudi, Bima ada di rumah?” tanyaku ramah karena aku sudah sering ketemu pak Haryudi jika ke rumah Bima.

“Ada tapi mungkin dia tidak mau ditemui,”

“Loh,…..kenapa Pak?”

Kebimbangan sejenak membayang di mata pak Satpam. Aku bingung sejenak kami diam. Pak Haryudi seperti berpikir, kemudian berdehem satu dua kali.

“Bener? Kamu belum tahu?” pertanyaan pak Haryudi lirih namun tegas. Aku menggeleng bingung dan sedikit berdebar-debar.

“Berarti kamu tidak pernah menonton berita televisi lokal ya?”

“Haaa?” aku ternganga.

“Kamu tidak pernah membaca koran lokal?”

“Aduh pak Yudi,….jangan membingungkan saya!” aku kesal dengan pertanyaan-pertanyaan pak Haryudi. Kami berdua kaget karena tiba-tiba ada suara keras bertanya pada pak Satpam.

“Bimaaa….?” Aku terkejut. Bima di teras balkon lantai dua rumahnya. Aku heran, belum pernah mendengar suara Bima sekeras itu. Pak Haryudi menoleh kemudian menunjukkan dengan jarinya lalu ganti menunjuk Bima. Bima melambaikan tangan ke arahku.

“Nah….tuu tanya sendiri pada Bima?” kata pak Haryudi sambil membukakan pintu regol. Kuucapkan terimakasih kepada pak Satpam dan bergegas menemui Bima.

“Masuk lewat pintu samping dan langsung ke atas aja Nin!” kudengar sayup suara Bima masih di lantai dua rumahnya. Sudah kukatakan orang tua Bima akrab dengan ortuku, jadi memang seperti itulah kebiasaanku kalau main ke rumah Bima, baik dengan mamaku atau sendirian seperti ini.

“Maaf  Nindy…..bukan aku sombong tidak menyambutmu di bawah tadi, tapi…?” Bima tidak melanjutkan kata-katanya

“Bima? Ada apa? Empat hari kamu tidak masuk sekolah, bu Winda memintaku untuk menjengukmu. Ratri dan Karno juga teman-teman lain pada bingung menanyakanmu. Kamu sakit?”

“Nindy….. aku sedang ada masalah. Papaku dituduh korupsi di kantornya. Berita di teve dan koran lokal sudah beberapa kali menyiarkan. Ak…….aku malu Nin!” Kudengar suara Bima seperti sesak tersangkut di tenggorokan. Aku kaget bagai tersengat lebah tapi segera aku sembunyikan rasa kaget itu.

“Bima aku turut merasa prihatin dengan keadaan papamu! Tapi sampai kapan  kau akan membolos? Sayangkan prestasi yang sudah kau raih selama ini harus hancur begitu saja?” Aku bicara sepelan mungkin agar Bima tidak tersinggung. Dia terdiam tiada jawaban. Sejenak kesunyian rumah itu sangat terasa. Angin yang semilir mengalir lewat koridor teras seperti membisikkan kepedihan hati penghuninya. Sejak kecil kami berteman, belum pernah kulihat Bima sesedih hari itu. Ia seperti kehilangan kata. Entah berapa lama waktu berhenti menggenang dalam bayangan sedih. Aku beringsut duduk lebih dekat pada Bima, suaraku memecah sunyi.

“Bim…..semua itu kan baru tuduhan, belum tentu ada buktinya. Berdoalah agar peristiwa ini segera berlalu dengan lancar!”

Bima tetap diam, wajahnya beku, kegantengannnya tenggelam dalam rona kemurungan.

“Nin….tolong jangan ekspos peristiwa itu pada temen-temen ya?”

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka jika tuduhan itu memang benar-benar dilakukan papaku!” aku mengangguk mantap.

“Sekarang mamamu ke mana?”

“Mendampingi papa di kantor polisi, menjalani pemeriksaan!” Bima mungkin masih ingin sendirian, aku minta diri.

“Bener ya Nin, tolong jangan cerita apa-apa pada temen-temen!”

“Jangan khawatir Bim, aku janji, aku berdoa semoga masalah papamu segera selesai. Sekarang aku pulang dulu ya!”

Ketika kuturuni tangga rumah Bima, aku melihat mamanya Bima, tante Leny masuk dengan langkah gontai. Aku tersentak, kuhentikan langkahku. Kusapa tante Leny dengan gugup.

“Tante? Maaf, saya baru saja menemui Bima!” Beberapa saat tante Leny juga terlihat gugup. Ia segera menguasai keadaan.

“Tidak apa-apa Nin…tante bingung membujuk Bima agar tetap masuk sekolah, barangkali dengan kedatanganmu dia mau masuk sekolah lagi!”

“Ya tante tadi juga sudah saya katakan kalau Bu Winda wali kelasnya mencari-cari! Mudah-mudahan besok Bima mau masuk, Tante!” aku meneruskan langkahku Tante Leny menepi memberiku jalan. Dua tindak kemudian tante Leny memegang tanganku dengan lembut.

“Dia bercerita tentang papanya?” Tanya tante Leny pelan dan dekat ke telingaku, Aku mengangguk. Baru kusadari kalau mata tante Leny agak sembab dan kulit wajahnya yang biasanya selalu tampil tampak halus berseri itu sekarang tampak tua, keriput di sekitar matanya.

“Apa komentar mamamu Nin?” aku menggeleng.

“Mama sepertinya juga belum tahu tante, entah kalau papa!”

Mata kami lurus menatap seolah ada keraguan yang menggerayangi hati. Kupegang lengan tante Leny, aku ingat kalau sudah berpamitan pada Bima.

“Tante, semoga masalah ini segera berlalu. Saya pamit tante!” wajah tante Leny memerah, hidungnya memerah, matanya berkaca-kaca.

“Terimakasih Nindy, doakan ya!” aku tersenyum sambil menjabat tangannya yang terasa dingin dan tipis.

Dalam perjalanan pulang aku berpikir keras untuk memberi jawaban teman-temanku, bila mereka nanti bertanya. Tidak mungkin aku menceritakan keadaan sebenarnya pada mereka, kecuali mereka memang sudah tahu dari teve dan koran lokal. Mau komentar apa? Aku kasihan sekali pada Bima. Andaikan aku yang  mengalami? Tentu akibatnya akan lebih ngeri dibanding Bima, rasanya aku tak percaya dengan tuduhan itu. Bima memang orang tuanya sangat kaya, tapi kekayaan itu sebagian warisan ibu Bima atau tante Leny. Ah tak tahulah! Mudah-mudahan itu tidak benar. Besok Bima akan masuk sekolah lagi, itu janjinya. Apa yang kami pikirkan sebagai anak? Berdoa dan tetap menjalani hidup ini walau dengan rasa sedih. Terus belajar materi pelajaran dan sekaligus materi kehidupan. Yang tidak selalu terasa manis, karena dunia ini sebuah lembah air mata.

Ponorogo, 20 Juni 2011

Wiwik Kumandang Wiyati, S.Pd adalah guru SMPN 4 Ponorogo

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: