|
Silahkan Baca
Artikel, Bahasa dan Sastra

Bahasa Dan Budaya Jawa Terancam Punah?

Oleh: Suhadi, M.Pd.* 

suhadiPotensi punahnya Bahasa Jawa dikhawatirkan oleh banyak pihak. Prof. Dr. Asim Gunarwan, pakar bahasa dari UI, melihat adanya potensi punahnya bahasa Jawa. Hal itu disampaikan dalam Kongres Linguistik Nasional XII di Solo, 3-6 September 2007. Senada dengan itu, Prof. Kisyani dalam Pitono (2009) dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar Unesa mengatakan, “Banyak (orang Jawa) di antaranya barangkali kurang sadar bahwa bahasa Jawa pun bukan tak mungkin punah…. di beberapa perumahan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, masyarakat cenderung menggunakan bahasa Indonesia untuk pergaulan.”

Kekhawatiran tersebut juga muncul dalam Sarasehan Bahasa Jawa di Surabaya, Juni 2007. Sukrisno, seorang peserta sarasehan mengatakan bahwa pelajar SLTA di Jawa Timur umumnya, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya dan Sidoarjo, sudah susah berbahasa Jawa, apalagi siswa SLTP dan SD. Warga (yang saat itu) berusia di bawah 17 tahun dipastikan kelak sulit mengajari anak-anaknya untuk berbahasa Jawa. ”Bagaimana bisa ngajari, wong dia sendiri nggak bisa bahasa Jawa?” katanya dalam nada tinggi. Dalam sarasehan itu juga ada kesempatan untuk pelajar SLTA menyampaikan pendapatnya tentang bahasa Jawa. Berikut cuplikannya, “Ih, ngapain sih ngomong Jawa? Sorry… plis deh, itu kan kagak jamannya lagi. Ngapain sih ngurusin bahasa Jawa. Emangnya kita-kita ini anak jadul… Now, I want to speak English… biar gaul, biar gak katro… gicu lho.” Benar-benar memprihatinkan sikap generasi muda yang juga dari etnik Jawa itu!!!

Tak hanya itu, beberapa tahun lalu (maaf penulis lupa tahunnya) UNESCO juga pernah memberi “warning” kepada Bangsa Indonesia akan potensi punahnya bahasa-bahasa daerah di Indonesia termasuk Bahasa Jawa.

Ancaman kepunahan itu sebenarnya ironis bila dibandingkan dengan kenyataan bahwa sejak lama Bahasa Jawa telah dianggap sebagai bahasa yang besar. Leonard Bloomfield hampir seabad yang lalu dalam bukunya Language menuliskan bahwa Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa besar di dunia. Dalam buku yang terbit tahun 1933 itu tertulis bahwa Bahasa Jawa berada di urutan ke 18 bila dilihat dari jumlah penuturnya, yang saat itu jumlah penuturnya lebih 20 juta orang. Tentu jumlah itu merupakan hasil penelitian sebelum buku itu diteritkan 78 tahun lalu. Berarti hampir seabad yang lalu, jauh sebelum Indonesia merdeka, bahasa Jawa sudah dipandang sebagai bahasa besar di dunia oleh ilmuwan linguistik sekaliber Bloomfield. Selain itu, UNESCO dalam mangabay.com (2005) merilis bahwa Bahasa Jawa menempati urutan ke 11 diantara bahasa-bahasa besar dunia.

Kebesaran Bahasa Jawa tidak saja dilihat dari jumlah penutur aslinya, tetapi juga dari sistem tulisannya. Bahasa Jawa merupakan satu diantara sedikit bahasa-bahasa di dunia yang mempunyai sistem tulisan (skrip) sendiri yang kita kenal sebagai huruf “ha na ca ra ka.” Bahkan bahasa Inggris, Perancis, dan Spanyol yang merupakan bahasa internasional-pun tidak mempunyai skrip sendiri; sistem tulisan yang dipakai adalah “pinjaman” dari skrip bahasa Latin yang telah punah. Akan tetapi, banggakah generasi muda Jawa dengan bahasa dan tulisan Jawa? Selayaknya kita bangga dan mau melestarikannya.

Tidak hanya bahasanya, budaya Jawa-pun juga telah mendapat pengakuan dunia Internasional. UNESCO pada tahun 2009 telah mengakui bathik, wayang dan gamelan (yang semuanya asli budaya Jawa) sebagai warisan kekayaan budaya Indonesia, dan dilanjutkan pemberian piagam kepada pemerintah Indonesia pada Februari 2010 sebagai pengakuan resmi oleh badan dunia itu. Selai itu tempe yang merupakan budaya asli makanan Jawa juga sudah semakin popular di luar negeri, sampai-sampai kita kecolongan hingga telah dipatent-kan oleh negara lain. Bagaimana bisa terjadi, kehebatan dan luhurnya kebudayaan Jawa telah diakui dunia, sementara bahasanya justru terancam punah?!

Kekhawatiran akan punahnya Bahasa Jawa tentu memiliki beberapa alasan logis. Bila kita melihat kondisi empiris di lapangan akan kita jumpai betapa banyak tanda-tanda potensi punahnya bahasa dan budaya Jawa. Pertama, generasi muda etnik Jawa yang mulai kurang peduli dengan Bahasa dan budaya Jawa. Misal, anak-anak usia SD-SMP tidak lagi mampu berbahasa Jawa dengan baik, apalagi basa krama. Terhadap orang yang lebih tua, terhadap orangtua kandung, atau bahkan terhadap gurunya mereka hanya bisa basa ngoko. Padahal ngoko itu adalah strata rendah dalam Bahasa Jawa yang umumnya digunakan dalam suasana informal, atau antar teman sebaya. Bila Bahasa ngoko digunakan dalam suasana formal, dengan orang yang lebih tua, atau dengan orang yang berstatus sosial lebih tinggi, maka komunikasi menjadi nampak kasar dan tidak mencermikan keluhuran etika dalam berkomunikasi. Sebaliknya, dalam bahasa basa krama tercermin komunikasi yang halus, santun, serta teakandung pendidikan etika, moral, karakter dan budaya yang sangat luhur.

Kedua, banyak keluarga Jawa yang justru lebih bangga bila anak-anaknya berbahasa Indonesia sejak dini. Penulis khawatir sebagian masyarakat Jawa bersikap latah dan mempunyai persepsi yang keliru; bila anaknya mampu berbahasa Indonesia sejak dini akan nampak sebagai masyarakat dari strata sosial tinggi. Memang bahasa dapat mencerminkan strata sosial, tetapi tidak selamanya begitu. Bukankah di kota besar seperti Jakarta banyak masyarakat marginal yang hidup –maaf– di lingkungan TPA dan lingkungan makam juga banyak yang fasih berbahasa Indonesia? Bukankah –sekali lagi maaf– para PRT di kota yang pulang kampung juga suka berbahasa Indonesia? Jadi bahasa Indonesia tidak selalu dapat menjadi alat pencitraan diri sebagai masyarakat strata sosial tinggi! Sebenarnya tanpa diajari berbahasa Indonesia sejak dini di rumah, anak-anak kita nanti pasti akan dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Karena Bahasa Indonesia statusnya sebagai bahasa nasional tentu anak-anak memiliki peluang yang sangat luas mempelajarinya; melalui lingkungan pendidikan play group, TK, SD, media masa semacam televisi, radio, dll.

Ketiga, banyaknya masyarakat etnik Jawa yang tidak lagi bangga dengan nama khas Jawa sebagai salah satu identitas etniknya. Hanya ada berapa anak-anak Jawa yang lahir di era 90-an dan sesudahnya yang diberi nama Cokronegoro, Kusumaningrat, Kusumo, Sutejo, Kasnadi, Bambang, Kartini, Widowati, terlebih lagi Bejo, Karto, Painem, dsb? Berapa banyak pula yang diberi nama Robert, Hendrik, Sindi (maksudnya Cindy), Nency, dan nama-nama lain yang berbau Barat?

Keempat, sedikitnya generasi muda yang mampu membaca dan menulis skrip Jawa. Dari sekian juta generasi muda Jawa yang lahir dan tumbuh di Jawa –apalagi yang di perantauan – berapa  persenkah yang mau belajar dan mampu membaca serta menulis tulisan Jawa?

Kelima, minimnya generasi muda yang diajari dan berbangga dengan kesenian dan tembang-tembang Jawa. Hampir tak pernah terdengar dari mulut anak-anak Jawa lantunan ceria tembang-tembang dolanan seperti Cublak-cublak Suweng, Sluku-sluku Bathok, dll. apalgi tembang-tembang macapat dengan muatan sastra yang tinggi seperti Mijil, Asmarandana, Megatruh, Pucung, Dhandhang Gula, Gambuh, Durma, Kinanthi, Sinom, Mas Kumambang, dsb.  Padahal di dalam tembang itu terkandung falsafah hidup dan pendidikan karakter bangsa yang luar biasa dalam. Mijil, misalnya, mengandung pelajaran hidup akan makna kelahiran manusia, Asmarandana yang mengandung falsafah tentang cinta, Megatruh yang mengingatkan manusia akan datangnya ajal, dsb. Dan berapa banyak pula anak-anak Jawa yang mau mendeklamasikan geguritan? Justru akhir-akhir ini kita sering mendengar anak-anak SD melantunkan lagu “asolole” yang –maaf– terkesan seronok syairnya.

Keenam, semakin asingnya anak-anak Jawa dengan dolanan asli Jawa. Bila kita tengok dalam masyarakat sekitar kita, sudah tidak lagi kita temui anak-anak bermain dolanan Jawa macam dakon, congklak, obag sodor, patil lele, dam-daman, jamuran, dsb. yang telah tergusur oleh PS, TV dan internet. Yang memprihatinkan justru anak-anak kita hanya menonton di televisi beberapa dolanan Jawa itu dimainkan oleh “Upin-Ipin” dan teman-teman mereka di negeri jiran sana. Ironisnya lagi, dakon sekarang sudah menjadi mainan edukatif yang makin populer bagi anak-anak di negeri Perancis nun jauh di Eropa sana, sementara anak-anak Jawa mungkin istilah dakon saja sudah asing.

“Menarik”-nya lagi, sebuah stasiun televisi pada tanggal 17 April 2011 memberitakan adanya upaya pelestarian budaya dolanan anak-anak Nusantara, terutama mainan anak-anak Jawa dengan mengoleksi dan memproduksi berbagai macam mainan anak. Yang membuat penulis –sebagai orang etnik Jawa– merasa malu adalah karena yang berusaha melakukan pelestarian tersebut bukan orang Jawa, melainkan orang Jerman yang sekarang menetap di Jogjakarta. Mengapa yang peduli dengan budaya Jawa justru orang asing, bukannya orang Jawa?! Andai masih hidup, tentu para leluhur kita yang telah merintis dan membangun budaya dan bahasa Jawa yang adhiluhung itu akan menangis melihat realita di atas.

Fenomena degradasi budaya dan bahasa Jawa seperti itu banyak kita jumpai tidak saja di Jawa daerah Tapal Kuda dan Pantura, bahkan di daerah Mataraman1. Bila di daerah Mataraman saja anak-anak Jawa sudah makin tidak akrab dengan Bahasa dan budaya Jawa, bagaiman nasib Bahasa dan Budaya Jawa kelak? Siapakah yang paling bertanggung jawab dalam hal ini; keluarga, sekolah, atau pemerintah?

Mestinya semua stake holder tersebut harus turut bertanggungjawab dan berperan serta secara nyata melestarikan bahasa dan budaya Jawa. Ada banyak jalan untuk melestarikannya. Pertama, kita mulai dari skala terkecil dahulu, keluarga. Keluargalah tempat yang paling ampuh mengajarkan pembiasaan akan bahasa dan budaya. Caranya dengan mendidik anak-anak dalam keluarga kita dengan berbahasa Jawa. Ajari mereka untuk berbahasa Jawa krama atau krama inggil dalam berkomunikasi dengan ayah, ibu, kakek, nenek dan para tetangga yang lebih tua; dan dibimbing dalam berbahasa Jawa ngoko bila berkomunikasi dengan saudara dan teman-temannya. Dalam hal ini masyarakat sekitar dapat berperan serta mendidik anak-anak berkomunikasi seperti itu.

Kedua, pemerintah khususnya Kemendiknas, Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dapat berperan lebih besar dalam melestarikan budaya dan bahasa Jawa. Muatan pelajaran Bahasa Jawa harus dipertahankan di kurikulum SD-SMP dan kalau perlu di SMA. Syukur kalau di perguruan tinggi Bahasa Jawa menjadi mata kuliah pilihan. Kementerian/Dinas tersebut dapat lebih banyak menyelenggarakan events, lomba-loma, misal geguritan, macapat, drama berbahasa Jawa, lomba busana Jawa, dan sebagainya bagi pelajar maupun untuk masyarakat umum. Sejauh ini baru Dinas Pendidikan melalui MGMP Bahasa Jawa yang telah menyelenggarakan lomba semacam itu meski dalam jenis dan skala terbatas dan baru setahun sekali.

Ketiga, masyarakat dan komunitas semacam sanggar-sanggar tari, MGMP Bahasa Jawa dll. dapat mengajarkan bahasa dan budaya Jawa semacam tarian, tetembangan, geguritan, membathik, maupun dolanan anak-anak Jawa karena banyak mengandung nilai-nilai edukatif yang positif. Kalau perlu menyelenggarakan lomba-lomba untuk berbagai kegiatan tersebut.

Sedherek, mangga sami menggalih saha cancut tali wanda ngleluri basa twin budhaya Jawi.

&&&&&&&&&&&&&&&

Referensi:

  1. Bloomfield, Leonard. 1933. Language. London: George Allen & Unwin.
  2. Joko Pitono. 2009. Bahasa Daerah Terancam Punah. (Online). http://hurek.blogspot.com/2009/03/bahasa-daerah-terancam-punah.html.  Diakses 12 Agustus 2011.
  3. ___________.2005. What are the most spoken languages on earth? (online). http://mongabay.com/2005/03/what­_are the most spoken language on earth?.html.  Diakses 12 Agustus 2011.
  4. Tempo Interaktif. 10 Bahasa Daerah Punah, 700 Lainnya Terancam. Selasa, 04 September 2007.
  5. Berbagai sumber. 

Catatan:

1  Prof. Sukemi, guru besar Unesa, dalam thesisnya membagi demografi Bahasa Jawa berdasar dua wilayah; Tapal Kuda dan Mataraman. Daerah Tapal Kuda meliputi Jawa Timur bagian tengah hingga timur dan pesisir utara. Sedangkan daerah Mataraman meliputi Jogjakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur bagian barat (termasuk Madiun, Ponorogo dan sekitarnya) dengan Jogja dan Solo sebagai sentranya.

Suhadi, M.Pd. adalah guru Bahasa Inggris SMP Negeri 1 Kauman /

Dosen Bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo

About Majalah DINAMIKA GURU

Majalah PGRI Kabupaten Ponorogo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

SOFTWARE SEKOLAH

TERBIT BULAN/EDISI

KATEGORI/TEMA TULISAN

Yang lagi belajar NgeBlog

Nama : Sujarmo
Alamat : Jl. Juanda 15-A Ponorogo
Office : SMP 1 Nawangan, Pacitan
email : pakjeponorogo@gmail.com

%d blogger menyukai ini: